Adab Bagi Pengajar Al-Quran

Table of Contents

 30/07/2017


Sebagai guru maupun orang tua yang mengajarkan banyak hal perlu banget tau tentang adab ini. Saya kira adab bagi pengajar Al-Quran bisa diterapkan juga ketika mengajarkan apa pun. Jadi mari kita mulai langsung belajar tentang adab ini,

  1. Berniat Mengharap Ridha Allah Semata
    Meniatkan aktivitasnya ini dalam rangka mencari ridha Allah Ta’ala. Kerena semua bermula dari niat.

    Diriwayatkan dari Ustadz Abul Qasim Al-Quasyairi ia berkata: “Ikhlas ialah meniatkan ketaatannya hanya untuk Allah semata; maksudnya dengan ketaatannya tersebut ia hanya bertujuan mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala bukan karena mengharap hal lain dari respon makhluk, mengharap pujian orang, menyukai pujian dari manusia, atau yang semacamnya selain untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala”. Ia berkata: “Bisa dikatakan: Ikhlas ialah memurnikan perbuatan dari segala bentuk perhatian makhluk.”

    Menurut Dzun Nun: “Ada tiga tanda ikhlas: memosisikan pujian sebagaimana celaan, tidak mengingat-ingat amalan-amalan baik yang telah dikerjakan, dan mengharap balasan amalan-amalan tersebut di akhirat”.

    As-Sariy berkata: “Janganlah sedikit pun kamu beramal karena manusia, meninggalkan suatu amalan karena manusia, menutupi sesuatu karena manusia, dan mengungkapkan sesuatu juga karena manusia.”

    Para ulama berkata: “ Jangan sampai menolak mengajari seseorang dengan alasan orang tersebut tidak memiliki niat baik.”

    Adapun Sufyan dan lainnya mengatakan: “Menuntut ilmunya seseorang itu sudah merupakan niat baik.”

    Ulama juga berkata: “Awalnya kami menuntut ilmu dengan niat karena selain Allah, namun ilmu enggan kecuali jika diniatkan karena-Nya.”

    Artinya, pada akhirnya niat tersebut akan berubah karena Allah. Hendaknya ia menjaga kedua tangannya agar tidak melakukan hal sia-sia saat mengajar, menjaga kedua matanya dari melihat sesuatu yang tidak perlu, duduk dalam keadaan suci dan tenang, menghadap kiblat, serta hendaknya mengenakan baju berwarna putih bersih. Jika telah sampai di tempat duduk hendaknya ia melaksanakan shalat dua rakaat sebelum duduk, baik ketika majelisnya diadakan di masjid atau tempat lain.

  2. Tidak Mengharap Hasil Duniawi
    “Barang siapa yang mempelajari ilmu yang seharusnya diniatkan mengharap melihat wajah Allah Ta’ala, akan tetapi ia tidak memepelajarinya kecuali untuk mendapatkan salah satu kenikmatan dunia maka ia tidak akan mencium semerbak wangi surga pada Hari Kiamat.” (HR. Abu Daud dengan sanad sahih)

  3. Waspadai Sifat Sombong
    Waspadai timbulnya rasa tidak senang jika orang yang biasa belajar padanya belajar qiraah pada orang lain. Ini adalah ujian yang biasa menimpa para guru yang masih bodoh, yang mana hal ini menunjukkan bukti jelas keadaan niat dan batinnya yang buruk.

    Bahkan, hal ini merupakan bukti pasti tidak adanya niat untuk melihat wajah Allah ketika mengajarkannya. Jika ia memang meniatkan lillahi Ta’ala tak akan muncul rasa tidak suka itu, sebaliknya ia katakan pada dirinya: yang aku inginkan adalah nilai ketaatan dengan mengajarkannya, dan aku telah melaksanakannya. Saat ini ia belajar pada orang lain untuk menambah ilmunya, dan itu tidak salah.

  4. Menghias Diri dengan Akhlaq Terpuji
    Hendaknya ia mempertahankan perasaan selalu diawasi oleh Allah baik dalam melakukan hal-hal yang tampak maupun tidak, juga mempercayakan segala urusannya pada Allah Ta’ala. Sebab ilmu itu milik Allah.

  5. Memperlakukan Murid dengan Baik
    Seorang guru seyogianya bersikap baik pada orang yang belajar padanya, menyambut ketika datang, dan bersikap baik padanya sesuai kondisi keduanya.

  6. Menasihati Murid
    Salah satu wujud lillah dan likitabihi adalah menghormati penghafal Al-Quran dan orang yang mempelajarinya, membimbingnya menuju maslahat; membantunya belajar dengan sarana yang memungkinkan, menyenangkan hati orang yang sedang menuntut ilmu, lembut, dan hendaknya guru memiliki sikap toleran dalam mengajar dan memotivasi pelajar untuk belajar.

    Hendaknya guru menyayangi orang yang mempelajari Al-Quran dan memperhatikan maslahat-maslahat baginya, seakan memperhatikan kebaikan-kebaikan bagi dirinya sendiri dan kebaikan bagi anaknya. Memosisikan orang yang belajar sebagai anaknya dalam menyayanginya, memperhatikan maslahat-maslahat baginya, bersabar terhadap kenakalannya, keburukan perangainya, serta memaklumi sikap kurang ajarnya sesekali karena manusia rentan berbuat salah, terlebih lagi jika masih usia belia.

    “Tidaklah sempurna keimanan seseorang hingga ia senang bila saudaranya mendapatkan apa yang disukainya.” (HR. Bukhari)

  7. Memperlakukan Murid dengan Rendah Hati
    Hendaknya tidak mengagungkan murid, akan tetapi bersikap lembut dan rendah hati pada mereka.

  8. Mendidik Murid Memiliki Adab Mulia
    Mengajarinya untuk berprilaku yang diridhai, melatih dirinya melakukan amalan-amalan secara sembunyi-sembunyi, membiasakannya mempertahankan amalan-amalannya yang tampak maupun tidak, memotivasi agar ucapan dan perbuatan sehari-hari selalu disertai keikhlasan dan kejujuran, niat yang lurus, serta selalu merasa diawasi oleh Allah di setiap waktu.

    Hendaknya guru memberitahu murid bahwa dengan demikian akan terbuka baginya gerbang-gerbang pengetahuan, lapang dadanya, memancar dari hatinya mata air hikmah dan kelembutan, diberkati ilmu dan keadaannyaserta dituntun perkataan dan perbuatannya oleh Allah.

  9. Hukum Mengajar Fardhu Kifayah

  10. Bersemangat Mengajar.
    Semangat itu menular! Hendaknya ia tidak menyibukkan hatinya dengan hal lain ketika tengah mengajar. Tak kenal lelah dalam memahamkan murid dan menjelaskan apa yang ingin mereka ketahui. Menyuruh mereka  mengulang hafalan. Memuji murid yang unggul jika tidak dikhawatirkan terjadinya fitnah seperti ujub; dan menegur yang masih kurang jika tidak dikhawatirkan timbulnya patah semangat, hasad terhadap yang lebih pandai, serta iri.

  11. Mendahulukan Giliran yang Lebih Dahulu Datang
    Jika yang pertama rela didahului maka tidak mengapa ia mendahulukan yang lain. Hendaknya guru menunjukkan wajah yang ceria dan berseri-seri di hadapan mereka, dan menanyakan perihal ketidakhadiran teman-teman mereka.

  12. Tidak Merendahkan Ilmu

  13. Memiliki Majelis yang Luas
    Hendaknya ia membuat majelis yang luas agar memungkinkan bagi pelajar untuk duduk dan bergabung.

 

Sumber: An-Nawawi.2005.At-Tibyan: Adab Penghafal Al Qur’an.Sukoharjo: Maktabah Ibnu Abbas.


Selamat menerapkan dengan penuh keyakinan!

Posting Komentar