Adab Membaca Al-Quran

Table of Contents

30/07/2017


Al-Quran merupakan wahyu Allah yang diturunkan kepada Rasulullah Muhammad SAW untuk menjadi petunjuk bagi umatnya. Allah jadikan kitab ini penuh makna. Semua orang selalu haus akan ilmu yang terkandung di dalamnya tanpa mengenal status dan usia. Baik manusia paling awam hingga seorang profesor bidang ilmu Quran. 


Allah juga jadikan kitab ini bersemayam di hati orang mukmin. Sekalipun telah dikhatamkan berkali-kali, mereka tidak pernah bosan. Terus mengulang dan membacanya. Al-Quran adalah afdholu dzikri, dzikir yang paling utama. Sehingga Nabi SAW menjadikan orang yang belajar dan mengajarkan Al-Quran sebagai manusia terbaik. 


Agar kegiatan belajar Al-Quran semakin berkah, kita perlu memperhatikan beberapa adab dalam membaca Al-Quran. Nabi SAW berusaha untuk selalu suci dari hadas setiap kali berdzikir, berikut diantaranya.

  1. Ikhlas
    Hendaknya ia mengahdirkan perasaan dalam dirinya bahwa ia tengah bermunajat pada Allah, dan membaca seakan-akan ia melihat keberadaan Allah Ta’ala, jika ia tidak bisa melihat-Nya maka sesungguhnya Allah melihatnya.

  2. Membersihkan Mulut
    Nabi SAW sangat menekankan agar kita menjaga kebersihan gigi, karena itu mengundang ridha Allah. Beliau bersabda, “Siwak itu membersihkan mulut dan mengundang ridha Allah.” (HR. Ahmad, Bukhari secara Muallaq dan yang lainnya).
     
  3. Dalam Kondisi Suci
    Dianjurkan untuk bersuci dari hadas sebelum membaca Al-Quran serta memakai pakaian yang sopan. Beliau bersabda, “Aku tidak menyukai menyebut nama Allah, kecuali dalam keadaan suci.” (HR. Ahmad dan Abu Daud).
     
  4. Tempat yang Bersih
    Hendaknya membaca Al-Quran di tempat yang bersih dan nyaman, mayoritas ulama lebih suka kalau tempatnya di masjid karena bersih secara global, tempat yang mulia, serta tempat untuk melakukan keutamaan lainnya.

    Dalam sebuah hadits Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Mulim (IV/2074) no. 2699, disebutkan: “Tidaklah suatu kaum berkumpul di rumah-rumah Allah (masjid), lantas mereka membaca Al-Quran serta mempelajarinya, kecuali Allah akan menurunkan ketenangan serta melimpahkan rahmat kepada mereka, malaikat senantiasa menaungi mereka, dan Allah senantiasa mengingat mereka.”

    Membaca Al-Quran di rumah juga sangat dianjurkan, Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian laksana kuburan, sesungguhnya setan akan lari dari rumah-rumah yang senantiasa dibacakan surat Al-Baqarah.” (HR. Muslim (I/539) no. 780).

    Asy-Sya’bi berkata: “Makruh membaca Al-Quran di tiga tempat: kamar mandi, kakus, dan tempat penggilingan yang tengah beroperasi.

  5. Menghadap Kiblat
    Disebutkan dalam suatu hadits: “Sebaik-baik majelis adalah yang menghadap kiblat.” (HR. Thabrani dalam Al-Ausath (III/182-183)).

  6. Memulai Qiraah dengan Ta’awudz
    Allah ta’ala berfirman, “Maka apabila engkau (Muhammad) hendak membaca Al-Qur’an, mohonlah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.” (QS. An-Nahl: 98).
     
  7. Membiasakan Mengawali Setiap Surah dengan Basmallah
    Hendaknya sellu membaca Bismillahirhmanirohim apabila membaca Al-Quran di awal surat kecuali surat At-Taubah.

    Sahabat Anas bin Malik Radhiyallahu’anhu menceritakan, suatu ketika Rasulullah SAW terbangun dari tidur sambil tersenyum. Kamipun bertanya, ‘Ya Rasulullah, apa yang membuat Anda Tersenyum?’ Beiau bersabda, ‘Baru saja turun kepadaku satu surat.’ Kemudian beiau membaca, Bismillahirahmanirohim, (membaca surat Al-Kautsar). (HR. Ahmad, Muslik, dan yang lainnya).

  8.  Mentadaburi Ayat
    Hendaknya konsentrasi dan berusaha merenungi setiap apa yang dibaca, mengulang-ulang ayat tertentu untuk direnungi. Karena Allah mencela orang munafik yang setiap hari mendengar Al-Quran namun mereka sama sekali tidak mampu mengambil pelajaran darinya. Allah berfirman, “Maka tidakkah mereka menghayati Al-Quran, ataukah hati mereka sudah terkunci?” (QS. Muhammad: 24).

    Dan ini lah tujuan utama Allah menurunkan Al-Quran. Agar kitab-Nya direnungi dan diamalkan. Allah berfirman, “Kitab (Al-Quran) yang kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka menghayati ayat-ayatnya dan agar orang-orang berakal sehat mendapat pelajaran.” (QS. Shad: 29).

    Banyak kelompok dari salafus shalih yang begadang hingga pagi untuk membaca, mengulang-ngulang, dan merenungi sebuah ayat; banyak pula salafus shalih yang pingsang ketika sedang membaca Al-Quran; dan tidak sedikit yang meninggal dunia dalam kondisi membaca Al-Quran.

    Ketika meriwayatkan dari Bahz bin Hakim bahwa seorang tabi’in yang mulia, Zararah bin Aufa ra mengimami mereka pada suatu Subuh, ketika sampai pada ayat: “Apabila sangkakala ditiup maka itulah hari yang serba sulit.” (QS. Al-Muddatstsir: 8-9). Ia pun roboh dalam keadaan wafat. Bahz berkata: “Saat itu aku termasuk orang yang membopongnya.”

    Adalah Ahmad bin Abu Hawari ra, salah satu pemuka Syam. Menegnainya Abu Qasim Al-Junaid ra berkata: “Jika dibacakan Al-Quran di sisinya ia akan berteriak kemudian pingsan.”

  9.  Membaca Dengan Tratil
    Berusaha membaca dengan benar, jelas, dan suara bagus. Allah berfriman, “Bacalah Al-Quran itu dengan tartil.” (QS. Al-Muzammil: 4).

    Yang dimaksud membaca dengan tartil adalah membacanya dengan pelan, jelas setiap hurufnya. Rasulullah SAW juga menganjurkan kita untuk membaguskan suara ketika membaca Al-Quran. Beliau bersabda, “Hiasilah Al-Quran dengan suara kalian.” (HR. Ahmad, Nasai dan yang lainnya).

    Para ulama berkata: “Bacaan tartil itu mustahab (sesuatu yang dilakukan nabi sewaktu-waktu atau sesuatu yang nabi perintahkan) untuk tadabur ataupun lainnya.” Mereka berkta: “Oleh karena itu, bacaan tartil dianjurkan bagi orang non-Arab yang tidak memahami maknanya karena hal itu lebih menghormati dan memuliakan Al-Quran, serta lebih mempengaruhi hati.”
     
  10. Memohon Karunia Allah Saat Membaca Ayat Rahmat
    Jika membaca ayat tentang rahmat hendaknya ia memohonkan karunia Allah, dan ketika membaca ayat tentang azab hendaknya meminta perlindungan dari keburukan, azab, atau dengan mengucapkan doa: “Ya Allah sesungguhnya aku memohon keselamatan.”

    Jika ia mendapati ayat tanzih lillah (yang mengandung pemahasucian Allah) hendaknya ia mensucikan-Nya dengan perkataan: Subhanahu wa Ta’ala, Tabaraka wa Ta’ala, atau ucapan Jallat ‘Azhamatu.

    Terdapat riwayat shahih dari Hudzaifah bin Yaman ra, ia berkata: “Pada suatu malam aku berksama Nabi SAW, pada saat itu beliau memulai dengan bacaan surat Al-Baqarah. Aku perkirakan: ‘Beliau akan rukuk pada ayat keseratus.’ Ketika ayat keseratus telah lewat, dalam hati kukatakan: ‘Beliau akan membaca surat Al-Baqarah untuk satu rakaat.’

    Waktu berlalu, aku pun mnerka: ‘Beliau akan rukuk.’ Beliau pun mulai surah An-Nisa, dilanjutkan Ali-Imran, beliau membacanya perlahan-lahan. Jik membaca ayat tasbih beliau bertasbih, jika membaca ayat permohonan beliau memohon, dan jika melewati ayat perlindungan beliau pun berdoa memohon perlindungan (beriztiadzah).” (HR. Muslim dalam Shahih-nya).
     
  11. Melakukan Sujud Tilawah ketika Melewati Ayat Sajadah
    Aisyah menceritakan, ketika Rasulullah SAW melakukan sujud tilawah dimalam hari, beliau membaca kalimat berikut berulang kali, “Wajahku bersujud kepada Tuhan yang telah menciptakanku, yang memberi pendengaran dan penglihatanku, dengan daya dan upaya-Nya.” (HR. Nasai dan Abu Daud).

  12. Menghormati Al-Qur’an
    Diantara penghormatan terhadap Al-Quran, yaitu menghindari tertawa, bersorak-sorai dan berbincang-bincang di sela-sela qiraah keculai perkataan yang sangat mendesak. Sebagai praktek dari firman Allah Ta’ala: “Dan apabila dibacakan Al-Quran maka dengarkanlah dan diamlah, agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-A’raf: 204).

    Tidak boleh memainkan tangan serta lainnya. Karena ia tengah berbicara dengan Rabb-nya maka hendaknya ia tidak bermain-main dengan tangannya. Tidak boleh juga memandang hal-hal yang dapat mengalihkan perhatian dan kinsentrasi.

    Jadi pada intinya bagaimana kita berusaha untuk khusyu dan tidak tergesa-gesa. Memusatkan hati hingga perasaan terbawa sesuai apa yang kita baca. Karena Al-Quran merupakan dzikir, dan dengan dzikir hati kita akan tenang. Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka.” (QS. Al-Anfal: 2).

    Diantara sifat orang solih, mereka tertunduk khusyu dan menangis ketika mendengar Al-Quran dibacakan. Allah berfirman, “...Sesungguhnya orang yang telah diberi pengetahuan sebelumnya, apabila (Al-Quran) dibacakan kepada mereka, mereka menyungkurkan wajah, bersujud, dan mereka berkata: ‘Maha Suci Tuhan kami; sungguh, janji Tuhan kami pasti dipenuhi.’ Dan mereka menyungkurkan wajah sambil menangis dan mereka bertambah khusyu.” (QS. Al-Isra: 107-109).

    “Bacalah Al-Quran dan menangislah. Jika tidak dapat menangis, paksakanlah dirimu untuk menangis.” (HR. Ibnu Majah).

    Diriwayatkan bahwa suatu ketika Umar bin Khathab ra shalat Subuh berjamaah. Beliau membaca surat Yusuf, kemudian menangis hingga air matanya mengalir di atas tulang selangkanya. Hisyam berkata: “Aku pernah mendengar tangisan Muhammad bin Sirin pada suatu malam ketika ia sedang shalat.”

    Imam Abu Hamid Al-Ghazali berkata: “Tangisan itu dianjurkan ketika sedang membaca Al-Quran atau mendengarkan bacaannya.” Ia katakan: “Caranya yaitu menghadirkan perasaan sedih di hati dengan memperhatikan ancaman yang diebutkan dalam Al-Quran, berbaga perjanjian yang ada di dalamnya, kemudian menyadari kelalaian dalamhal itu. Jika belum bisa bersedih dan menangis sebagaimana yang terjadi pada orang-orang pilihan, hendaklah ia menangis karena ketidakmapuannya, padahal ini merupakan musibah terbesar.

  13. Membaca Al-Qur’an Sesuai Urutan Mushaf
    Sebagian ulama madzhab Syafi’i mengatakan: “Jika membaca sebuah surah, dianjurkan setelahnya membaca surah berikutnya. Dalilnya bahwa pengurutan surat dalam mushaf dijaidkan demikian karena suatu hikmah, hendaknya ia membiasakan hal ini kecuali jika terdapat dalil pengecualian dalam syariat.

  14. Mengeraskan Suara Ketika Membaca Al-Quran
    Abu Hamid Al-Ghaali dan ulama lainnya mengatakan: “Titik tengah antara hadits-hadits dan riwayat-riwayat yang bermacam-macam dalam hal ini: jika dengan menyembunyikan suara lebih menjauhkan dari riya’ maka ini lebih afdhal pada kondisi orang yang mengkhawatirkan hal itu; jika ia tidak mengkhawatirkan riya’ dengan mengeraskan bacaannya maka membacanya dengan keras lebih afdhal baginya karena amalan yang dilakukan lebih banyak, faidahnya menyebar pada yang lainnya dan manfaat yang menyebar lebih afdhal dari makna yang didapat olehnya sendiri, karena bacaan tersebut dapat membangunkan hati pembacanya, mengumpulkan keinginannya juga pendengarannya untuk memikirkan kandungannya, menyingkirkan kantuk, menambah semnagat, memabangunkan orang lain yang tertidur atau lalai serta menyemangatinya.”

    Terdapat riwayat dalam kitab Shahih dari Abu Hurairah ra ia berkata, saya pernah mendengar Nabi SAW bersabda: “Tidaklah Allah mendengarkan sesuatu dengan seksama sebagaimana Allah mendengarkan suara merdu seorang Nabi yang sedang menyenandungkan Al-Quran, mengeraskan bacaannya.” (HR. Bukhari dan Musilim).

    Sungguh sekelompok salaf lebih memilih merendahkan suaranya karena khawatir. A’masy berkata: “Aku perah mengunjungi Ibrahim ketika ia sedang membaca Al-Quran dari mushaf, kemudian seseorang meminta izin untuk menemuinya. Maka ia pun menutupnya, lalu berkata:’Jangan sampai orang ini melihat bahwa aku membaca Al-Quran setiap saat.’”

    Mereka ini berdalih dengan hadits Uqbah bin Amir ra, ia berkata, aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang membaca Al-Quran dengan suara keras seperti orang yang bersedekah secara terang-terangan dan orang yang menyembunyikan suara bacaan Al-Qurannya seperti orang yang bersedekah secara diam-diam.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, dan Nasa’i).

Selamat menerapkan dengan penuh keyakinan!


Sumber 

  • An-Nawawi.2005.At-Tibyan: Adab Penghafal Al Qur’an.Sukoharjo: Maktabah Ibnu Abbas.
  • Yufid.Tv


Kenal Kata

Atsar: perkataan ataupun perbuatan yang disandarkan kepada sahabat ataupun tabiin

Tathowwu: perkara yang dibuat sendiri oleh manusia

Sunnah: sesuatu yg ditekuni oleh nabi Muhammad SAW

Mustahab: sesuatu yang dilakukan nabi sewaktu-waktu atau sesuatu yang nabi perintahkan

Mandub: sesuatu yang (seseorang) akan diberi pahala karena mengerjakannya dan tidak akan disiksa karena meninggalkannya

Posting Komentar