Adab Orang yang Mempelajari Al-Quran

Table of Contents

30/07/2017


Diantara adab-adab seorang pelajar ialah menjauhi semua faktor yang menyebabkan lalai dari belajar, kecuali bila dibutuhkan. Hendaknya ia menyucikan hati dari segala kotoran, agar layak menerima Al-Quran, menghafalnya, dan memetik buahnya.

Cara untuk menghilangkan berbangga diri dengan mengingatkan dirinya bahwa prestasi yang diperolehnya itu tidaklah ia dapatkan dengan daya dan kekuatannya semata, sesungguhnya semua merupakan karunia Allah Ta’ala sehingga tidak sepantasnya ia berbangga pada dirinya tas sesuatu yang tidak dibuatnya, melainkan titipan Allah pada dirinya.

Sedangkan cara menghilangkan rasa dengki; hendaklah ia menyadari bahwa ada kebijaksanaan yang Allah kehendaki dengan diberikan pada temannya dan bukan dirinya. Oleh karena itu tidak pantas ia merasa keberatan, membenci hikmah yang Allah kehendaki, ataupun membenci hikmah itu sendiri.

  1. Berguru Kepada Guru yang Berkompeten
    Muhammad bin Sirin, Malik bin Anas, dan lainnya dari kalangan para salaf berkata: “Ilmu ini adalah agama maka perhatikanlahh dari mana kalian mengambil agama”. Hendaknya ia bersikap takzim, meyakini kredibilitas keilmuan dan keunggulannya, karena dengan sikap seperti itulah ia dapat mudah mengambil manfaat dari sang guru tersebut.

    Sebagia salaf jika berangkat ke tempat gurunya, mereka terlebih dahulu berinfak dengan sesuatu dan berdoa:

    “Ya Allah tutuplah aib guruku dariku dan jangan halangi aku mendapat berkah ilmunya.”

    Diriwayatkan dari Amirul Mukminin, Ali bin Abi Thalib, ia berkata: “ Hak seorang guru atasmu adalah kamu mengucapkan salam kepada orang-orang secara umum dan menghaturkan salam khusus untuknya serta duduk di hadapannya. Ketika sedang berada di sisinya janganlah sekali-kali menunjuk-nunjuk dengan tangan, mengedip-ngedipkan mata, mengatakan padanya bahwa si fulan mengatakan sesuatu yang berkebalikan dengan yang ia katakan, menggunjing seseorang disisinya, berbisik-bisik di majelisnya, menarik-narik bajunya, mendesaknya ketika ia tengah tidak bersemangat, dan jangan pula bosan karena lamanya waktu belajar.

  2. Berpenampilan Sopan

  3. Bersikap Sopan dan Bergabung dengan Hadirin

  4. Belajar Tatkala Suasana Hati Guru Tenang
    Diantara adabnya, hendaknya ia bersabar menghadapi sikap keras sang guru dan keburukan prilakunya. Janganlah hal tersebut menghalanginya untuk terus belajar padanya dan meyakini keahliannya, atau menafsirkan perkataan dan perbuatannya yang tidak benar sebagai sesuatu yang benar. Tidaklah itu terjadi kecuali karena kurangnya atau malah tidak mendapat taufik sama sekali. Jika sang guru bersikap keras padanya, hendaknya ia mendekati dan menegur sang guru serta mengakui kesalahan-kesalahannya bahwasanya celaan itu memang ada pada dirinya. Hal itu lebih bermanfaat baginya di dunia dan di akhirat serta lebih menjaga perasaan guru terhadapnya.

    Mereka berkata: “Barang siapa yang tidak bersabar dengan kehinaan menuntut ilmu maka sepanjang hidupnya ia berada dalam gelapnya kebodohan, dan barang siapa yang sanggup bersabar maka ia telah menyerahkan urusannya pada kehormatan akhirat dan dunia.”

  5. Bersemangat Tinggi

  6. Waktu Belajar: Belajar di Waktu Pagi Lebih Baik

Semangat menerapkan dengan penuh keyakinan! Semoga adab ini bisa kita aplikasikan ketika mempelajari apapun...


Sumber:

An-Nawawi.2005.At-Tibyan: Adab Penghafal Al Qur’an.Sukoharjo: Maktabah Ibnu Abbas.

Posting Komentar