Transportasi

Table of Contents

27/07/2016 


Hari ini aku ikut kuliah tamu dari Pak Paul Burke dari ANU (Australia National Uneversity). Ngebahas tentang kemacetan. Dimana? Di Indonesia tercinta. Pak Burke meneliti efek dari reformasi terhadap subsidi (naik turunnya) minyak terhadap kemacetan di Indonesia.


Dan kesimpulannya bahwa naik turunnya subsidi tidak terlalu berpengaruh terhadap kemacetan. Subsidi 10% mengurangi kemacetan 1%. Bapaknya sama ngasih saran untuk pnerapan ERP (Electronic Road Pricing) atau pajak bensin.


Kurang lebih gitulah kesimpulannya. Lalu tiba-tiba... temen ku ada yang bilang, sebenernya efek yang ditimbulkan dari naiknya harga bensin itu luas. Seolah-olah harga bensin jadi acuan.


Ketika harga bensin turun harga bahan pokok (beras, cabe, bawang, dll) naik. Harga bahan pokok saja naik, bahan olahan pun pasti naik kan? Ibu juga pernah bilang salah satu cara mengatasi kemacetan adalah dengan pemerataan pembangunan. Pembangunan tidak terpusat pada satu wilayah, tapi menyebar.


Kalau dilihat, transportasi umum yang ada di Indonesia belum sepenuhnya memadai. Padahal kalau di Jakarta kayaknya selalu penuh deh (apalagi pas peak hour) moda transportasi umumnya (busway, kereta api, angkutan umum). Kalau di Surabaya sih belum kerasa malah. Angkutan umumnya jarang banget.


Munculnya nggak sesering di Bekasi. Haha. Lets wait and see for our suro trem and boyo rail here (Surabaya). Dan jangan lupa, kemacetan juga berasal dari pola pikir kita. And my big question is, from where do we start the planning? Jika semua penyebab kemacetan punya sebuah tantangan besar untuk diimplementasikan, apalagi yang berasal dari pola pikir manusia yang sangat cerdas.


Oke, tinggalkan pertanyaan ku itu. Sekarang aku mau ngebahas transportasi di Singapura. Singapura punya sistem transportasi yang bagus. Waktu kami (Study Excursion Teknik Sipil 2012) ke museum transportasi (LTA-Land Transport Authority) ada sebuah maket.


Dari maket itu aku bisa lihat, ada 4 tingkat jalan transportasi (flyover, jalan di atas tanah pas, jalan di bawah tanah, dan jalan untuk rel MRT (Mass Rapid Transit) dan LRT (Light Rapid Transit), wew, 4 tingkat broh. Di beberapa jalan yang kami lalui juga ada penerapan ERP. Ada moda transportasi bus juga, lengkap dengan terminalnya.


Di sana semua kendaraan sudah terintegrasi dengan sistem komputerisasi. Serba gesek-gesek. Oia, di sana fasilitas pejalan kakinya juga bagus. Kalau kita jalan kaki, pasti ada jalannya. Kalau pun keputus, pasti di dekat sana ada zebra cross. Penerapan plat juga berlaku lho disana. Kata pemandu di bus ku, mobil Singapura keluar berdasarkan daya belinya.


Bisa dikatakan bahwa perbedaan plat nomer kendaraan berdasarkan daya beli penduduk setempat. Semakin murah harga kendaraan pribadi itu semakin sedikit hari juga kendaraan tersebut dapat digunakan. Tak hanya itu, bapak pemandunya (sori pak, aku lupa nama bapak), kepemilikan mobil di Singapura hanya boleh selama 10 tahun. Lebih dari 10 tahun harus di tarik.


Parkir kendaraan disana juga mahal lho, soalnya keterbatasan lahan juga. Bayangin, sewa apartemen aja masih harus bayar parkir lagi. Oke back to museum, disana juga ada beberapa sejarah transportasi di Singapura.


Ada patung orang yang tengah mengoperasikan lampu merah, penerapan warna plat (plat-plat ditempel di dinding), mobil zaman dulu, dll. Museumnya bagus banget. Interaktif. Negara kecil seperti Singapura butuh waktu yang tidak sebentar untuk mengubah pemikiran warganya dan mendapatkan sistem yang pas. 


Selesai sudah remah-remah gambaran tentang transportasi kali ini. Semoga bisa menjadi bagian dari terbentuknya transportasi Indonesia yang bagus, ramah lingkungan, menguntungkan, semuanya lah. 

 

Posting Komentar