Muhammad Al-Fatih 1453

Table of Contents
15/01/2016


 “Sungguh, Konstantinopel akan ditaklukkan oleh kalian. Maka sebaik-baik pemimpin adalah pemimpinnya dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan yang menaklukkannya” (HR. Ahmad).

 

Ya… Muhammad Al Fatih, penakluk konstantinopel. Kota dengan pertahanan yang sempurna. Pasti sudah banyak yang membaca kisah ini.

Tapi bagiku yang baru pertama kali membacanya punya kesan tersendiri. Kesan yang tidak biasanya aku dapatkan ketika aku membaca buku lain *lebai*. Aku membaca ceritanya melalui buku karangan Felix Y. Siauw (Muhammad Al-Fatih 1453) yang membuat diri ini malu yang teramat malu *lebai*. Malu dengan cara Sultan Mehmed II menaklukkan Konstantinopel.


Pembuktian ‘Pemimpin Terbaik’ dan ‘Pasukan Terbaik’. Disini Sultan benar-benar membuktikan. Pemimpin terbaik, ya… Sultan dengan keimanannya yang tinggi. Selama setelah baligh, beliau tidak pernah meninggalkan amalan-amalan sunnah maupun solat berjamaah.


Beliau juga cerdas, menguasai beberapa bahasa asing untuk melemahkan musuh, belajar dari sejarah, strategi perang yang handal, pinter fisika, dll. Terlihat jelas kepribadian bentukan para Syaikh mulia sebagaimana syair Mehmed yang remaja ketika menggambarkan dirinya:

 

Niatku; Taat kepada perintah Allah, “Dan hendaklah kalian berjihad di jalan-Nya” (QS. Al-Maidah [5]: 35)

Semangatku; Berupaya dalam kesungguhan dalam melayani agamaku, agama Allah

Tekadku; Aku akan tekuk lututkan orang-orang kafir dengan tentaraku, tentara Allah
Pikiranku; Terpusat pada pembebasan, atas kemenangan dan kejayaan, dengan kelembutan Allah
Kerinduanku; Perang dan perang, ratusan ribu kali untuk mendapatkan ridha Allah
Harapanku; Pertolongan dan kemenangan dari Allah, dan ketinggian negeri ini atas musuh-musuh Allah

 

Pasukan terbaik, disini Sultan mendidik pasukannya agar memiliki keimanan yang bagus juga. Disisipkan beberapa ulama di tiap kelompok pasukan.


Tugas para ulama ini untuk mengingatkan agar selalu dalam niat yang benar dan ikhlas. Hal ini digambarkan oleh Nicolo Barbaro akan kekagumannya terhadap prilaku pasukan Islam:

 

Bila satu atau dua diantara mereka terbunuh, dalam sekejap seorang yang lain datang dan membawa mayat rekannya, memapah dengan bahunya, tanpa peduli seberapa dekat mereka dengan tembok pertahanan kami.


Tapi, pasukan kami yang berada di benteng menembak kembali mereka dengan meriam dan crossbow, membidik tentara Utsmani yang sedang memapah rekannya yang sudah meninggaldan seketika itu keduanya jatuh ke tanah dan meninggal, walaupun begitu, tetap saja ada tentara yang datang dan mengambilnya kembali, tanpa takut mati sedikitpun. 


Sepertinya mereka lebih suka untuk mengorbankan 10 tentara kembali dibandingkan harus menanggung malu dengan meninggalkan satupun mayat tentara di depan tembok kota.

 

Keyakinan beliau akan hadist Rasulullah serta pertolongan Allah hingga titik terakhir. Sebab dalam menggapai kemenangan itu tidak semudah dan sesingkat yang pernah aku dengar, penaklukkan dengan membawa kapal-kapal melewati daratan, tidak sesingkat itu.


Namun dengan persiapan tempur (pemimpin terbaik dan pasukan terbaik) itu Allah menguji mereka. Sultan menggunakan strategi A (meriam super canggih dimasanya), kalah. Strategi B (menggali lubang bawah tanah), kalah. Strategi C (membuat benteng kayu yang tingginya elebihi tembok Konstantinopel), kalah. Sultan ingin menghambat kapal bantuan untuk konstatinopel, kalah juga. 


Hingga dititik itulah Sultan merasa goyah. Tidak hanya ujian dari eksternal, namun ujian juga datang dari internal mereka sendiri. Halil Pasha, beliau orangyang tidak setuju atas serangan ke Konstatinopel. Ia lebih setuju dengan cara damai. Hingga Sultan meminta nasihat kepada gurunya, Syaikh Syamsuddin. Dan gurunya menjawab, 

 

“Pasti Allah memberikan kemenangan. Allah-lah Dzat Yang Maha Pemberi Kemuliaan dan Pemberi Kemenangan. Sesungguhnya peristiwa lolosnya kapal itu telah menimbulkan rasa ngeri dan ketakutan di dalam hati dan menimbulkan rasa gembira dan bangga dikalangan orang-orang kafir. 


Sesungguhnya masalah yang pasti adalah; bahwasanya seorang hamba itu sekedar merancang, sedangkan yang menentukan adalah Allah dan ketentuan semuanya ada di tangan Allah. Kita telah berserah diri dan kita telah membaca Al-Qur’an. Itu semua tidak lebih dari rasa kantuk didalam tidur setelah ini. Sesungguhnya telah terjadi kelembuta kekuasaan Allah dan muncullah kabar-kabar gembira tentang kemenangan itu, sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya.” 

 

Dari situ akhirnya muncullah ide untuk menguasai selat tanduk emas dengan memindahkan kapal-kapal melalui jalur darat. Sebab ada rantai yang menjaga di selat tanduk emas yang menyebabkan kapal tidak bisa masuk selat. 


Akhirnya dari situ, kaum muslim mendapatkan kepercayaan diri lagi. Namun Sultan masih belum 100% menguasai Konstantinopel. Hingga berhari-hari kemudian akhirnya jatuhlah Konstantinopel di tangan Sultan Mehmed II a.k.a Muhammad Al-Fatih.

  

Semangat! Usaha maksimal + Doa = Sukses ! Ini baru satu dari sekian juta sejarah yang dapat membangitkan semangat. Yakin sama Allah. Berbaik sangka sama Allah. BERBAIK SANGKA!

 

 

Posting Komentar