Bersama Menjadi Pribadi yang Lebih Baik
Table of Contents
27/05/2018
Allah emang romantis
banget. Padahal cuma niat ketemu Mba Kiki karena ada perlu. Tapi apa? Allah
malah mempertemukan aku sama pemateri dan materi luar biasa ini. Iya, beliau
adalah Dr. Dyah Sania Artiwi, dokter dan konsultan permasalahan remaja dalam
materi ‘Agar Hijrah Tak Setengah-Setegah’.
Ada banyak kalimat-kalimat positif
yang keluar dari pemateri ini, ada banyak analogi-analogi sederhana dari
beliau, ada banyak hikmah dari pertemuan kali ini. Karena hijrah bukan sekedar
dari tidak berhijab menjadi berhijab. Hijrah itu jauh lebih dalam dari itu. Hijrah
itu menjadi pribadi yang selalu berusaha untuk jadi lebih baik menurut
padangnya Allah.
Dulu aku pernah berbuat
hal yang tidak disenangi Allah, hingga akhirnya aku menemukan titik balik. Apa
itu? Rasa dengki. Rasa gak suka lihat temennya bahagia. Berawal ketika aku
memperlihatkan ada lomba bidang tanah ke temenku yang anak tanah. Akhirnya dia
membentuk kelompok, tanpa aku soalnya aku ditawari gak mau. Hingga akhirnya
kabar bahagia itu datang, mereka LOLOS! Dan berakhir dengan kemenangan.
Alhamdulillah.
Tapi apa yang aku lakukan? Aku iri, dan ekspresiku menunjukkan
itu semua. Gak bisa ditutupi. Hingga aku berpikir kenapa aku harus iri sama
temen ku? Kenapa iri ini datang? Satu-satu jawaban mulai terurai dalam benak
bak menyelesaikan soal kimia yang harus flash back dan berakhir pada satu
jawaban, yaitu karena aku gak punya tujuan. Mau apa kamu dikehidupan ini?
Karena selama ini setalah aku renungkan lagi, apa-apa yang aku capai hanya
untuk mencari perhatian manusia.
Entah dari drama nyari beasiswa, ikutan LKMM,
masuk himpunan, atau bahkan hanya sekedar pengen maju di depan kelas. Ternyata
jawaban itu Allah kasih pas liqo. Disitu pas lagi bahasan mengenai MANUSIA.
Yes, us. Yang sampai sekarang masih melekat di otakku bahwa manusia diciptakan
di dunia ini untuk beribadah kepada Allah. BERIBADAH. Oh, jadi apa apa yang
kita lakukan ini harus melink ke Allah. Terus, aku mau jadi apa ya Ya Allah.
Kalau mau jadi kontraktor atau konsultan, aku ragu sama ilmu yang aku pelajari.
Aku gak yakin bisa menyampaikan dengan benar.
Dan lagi-lagi Allah ngasih
petunjuk lewat kawan ku yang tiba-tiba ngajak aku buat ngajar ngaji anak-anak.
Ngajar ngaji di rumah tetangga, sebab lokasinya hanya beberapa rumah dari
kosan. Hanya bermodalkan baca Quran dan juz 30 yang lama gak dimurojaah justru banyak
pelajaran yang bisa dipetik dari rumah tahfidz itu. Banyak masalah dan cara
menyelesaikannya yang aku pelajari.
Dari situ entah gimana Allah tanamkan rasa
itu, perasaan ingin berbagi dengan mengajar. Terbukalah pintu-pintu Allah lagi
lewat 1000 Guru Balikpapan, seminar parenting, dipertemukan dengan orang-orang
dengan metodenya masing-masing dalam memajukan pendidikan Indonesia. Didukung
pula oleh berita yang negatif yang sering muncul di TV, entah itu anak sebagai
korban atau anak sebagai pelaku, aku punya mimpi menuju Allah dengan mengajar.
Karena dengan menjadi guru aku bisa ikut menorehkan warna indah pada usia
golden age mereka. Yang harapannya ketika nanti mereka berada pada dunia yang
heterogen, ia siap. Ia siap menjadi penerus bangsa dengan aqidah yang kokoh dan
akhlaq yang mulia. Yang memikirkan kesejahteraan rakyat, bukan lagi mikirin
dirinya sendiri. Amin Ya Allah.
Eh jadi melebar ya. Oke mari kita kembali ke laptop. Dulu aku pernah
terpikir,
‘kok aku gak punya cerita
apa-apa ya sama jilbab ku. Aku ini pake jilbab kenapa ya?’
‘kenapa sih dulu aku
sekolahnya gak di sekolah negeri aja. Kenapa di pesantren. Coba kalau di
negeri, mungkin aku jadi bisa lebih percaya diri’
Dan ternyata ketika aku
tau, aku bersyukur banget dulu di pesantren. Sebab di masa-masa SMP SMA itu
aku masih labil. Aqidahnya masih gak kuat. Tapi di pesantren ini justru
penguatan yang ada. Dari programnya dan teman-teman yang selalu ingin
berlomba-lomba berbuat baik. Aku bersyukur aku ditaruh di pesantren, dengan itu
aku tak perlu lagi memikirkan kenapa aku harus berjilbab. Aku bisa memikirkan
yang lain yang belum aku pahami tentang dunia ini.
Kalau kata Dr Sania,
"Dont wait perfect
moment for hijrah, but make it perfect."
"Jangan pernah remehkan apa pun yang
masuk lewat panca indera kita. Hijrah itu bukan hanya apa yang kita pakai, tapi
juga apa yang kita lihat, dengar, rasakan (panca indera kita). Karena
keburukannya itu mengendap di otak yang akan keluar secara spontan. Akan
mempengaruhi pemikiran kita. Walaupun cuma sekedar iseng-iseng."
"Ketika
disisimu gelap, curigailah bahwa Allah mungkin menginginkan mu menjadi cahaya."
"Perempuan itu adalah simbol keindahan seperti bunga. Maka jangan Cuma cantik
karena coraknya, tapi juga harum mewangi akhlaqnya."
"Jangan melemah karena persepsi,
caranya jadilah kemuliaan itu.jangan sibuk dengan persepsi, sibuk dengan bukti."
"Urgensi jilbab (kain
yang menutup semua badan) : harga mati, yes without but, just belief."
Kalau ada yang bilang, "Eh si A jilbaban tapi suka mukulin anaknya. Mending si B aja, gak jilbaban tapi sayang sama anak." Hmm.. coba kita balik. Si A saja jilbaban suka mukulin anaknya, gimana kalau tidak jilbaban? Mungkin anaknya bisa dibunuh. Astaghfirullah ya. Sejatinya jilbab membuat priadi kita menjadi lebih baik.
Semoga Allah mudahkan langkah-langkah kecil kita untuk bisa menjadi pribadi yang lebih baik.
Posting Komentar