Bahasa dan Potensi Anak

Table of Contents

18/11/2017


Alhamdulilahi Rabbil ‘Aalamin wa Sholatu wa Salamu ‘ala Asyrofil Anbiyai wal Mursalin wa ‘ala Alihi wa shohbihi ijma’iin Ama Ba’du.


Ada seminar parenting hari ini. Pematerinya ustadz Miftahul Jinan. Belum pernah aku dengar nama beliau sebeumnya, tapi kata murabbi ku beliau itu bagus. Beliau ini direktur utama Griya Parenting Indonesia. Temanya kali ini “Membangun Bahasa Kasih di Sekolah dan Keluarga Demi Melejitkan Potensi Anak”


Dipaparkan apa saja yang perlu diperhatikan ketika ingin menyampaikan bahasa kasih dengan bahasa hati. Karena dengan bahasa kasih akan memunculkan sebuah keputusan yang diambil oleh anak sendiri. Hal itulah yang akan menimbulkan pengambilan potensinya. Ada 6 poin yang beliau paparkan yaitu,


  1. Hindari berteriak.
    Berteriak mungkin cara efektif dalam memerintah, namun itu hanya dalam jangka pendek saja. Jangka panjangnya? Ia jadi kecanduan teriakan kita, bukan hakikatnya.

  2. Banyak mendengar.
    Pada poin ini ada kisah yang menarik yang beliau sampaikan. Pernah ada yang bertanya kepada beliau bagaimana caranya agar si anak tidak sering nongkrong di warkop. Beliau menjawab dengan balik bertanya apakah di rumahnya tersedia kopi sebagaimana tersedia kopi di warkop? Iya tersedia insyaAllah, si ibu menjawab dengan mantap. Apakah ada yang membuatkan kopi di rumah sebagaimana yang ada di warkop? Terkadang saya buatkan kopi juga (aku lupa jawaban pastinya gimana). Adakah teman di rumah ketika anak meminum kopi sebagaimana di warkop banyak teman ketika ia meminum kopi?

    Si ibu terdiam, biasanya hanya membuatkan kopi aja. Tau perbedaannya dimana? Di warkop ada banyak telinga yang mendengarkan, sedangkan di rumah tidak ada telinga yang akan mendengarkannya. Semakin banyak anak curhat kepada orang tuanya, berarti mereka masih aman.

  3. Perhatikan postur.
    Turunkan tubuh setinggi anak, tatap anak, usap punggung, ubah nada suara (berubah dengan suara tegas tapi lembut), beri kata-kata kepada anak, ulangi apa yang dikatakan, jangan menyela, tetap tenang.

  4. Keseimbangan.
    Keseimbangan dalam memberikan penghargaan dan teguran. Jangan sampai kita selalu menghukum seorang anak, atau bahkan tidak pernah mengapresiasikan hal-hal sepele namun luar biasa. Karena terlalu banyak kebaikan-kebaikan seorang anak yang perlu kita kembangkan. Sebab Allah menciptakan kita (manusia) dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Disebutkan dalam surat At-Tin:4, Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Dan sebelum ayat ini, didahului oleh 3x sumpah pada ayat 1 hingga 3.

  5. Mengganti perintah dengan bertanya dan informasi. 
    Bertanya sebagai pengganti perintah dan meberikan informasi sebagai ganti larangan. Rada mbingungi ini :( Contohnya ketika si anak membanting pintu maka yang salah adalah pada caranya menutup, “Mas, bagaimana caranya menutup pintu?”. Atau ketika anak buang sampah sembarangan, yang salah adalah tempatnya, “Mas dimana tempat sampahnya?”.

  6. Reaksi dan respon.
    Reaksi adalah tindakan yang kita lakukan berdasarkan pikiran pertama yang muncul. Sedangkan respon adalah mengambil waktu sejenak untuk memikirkan sebenarnya apa yang terjadi, sebelum kita berbicara, berperasaan, atau bertindak sesuatu. Di poin ini beliau mencotohkan pengalamannya dan juga mengkisahkan sahabat Ali yang ngebuat aku DEEG!

    Beliau juga bercerita tentang pengalamannya ketika mengajar di sebuah sekolah. Ketika beliau sedang mengajar di depan, ada muridnya yg cekikikan melihat majalah (gambar laki-laki bertelanjang dada kalau tidak salah ingat ceritanya), sontak beliau menghampiri kedua murid ini dan tanpa berpikir panjang beliau tarik majalah tersebut lalu merobeknya.

    Kejadian ini menghebohkan satu yayasan sehingga didiskusikanlah ini diantara para pendidik. Terbentuk dua kubu, pro dan kontra. Hingga suatu ketika beliau keuar dari forum itu lalu ada satu pengajar merangkul beliau dan bertanya dengan lembut, “Ustadz, apakah ketika ustadz mengambil dan merobek majalah itu benar-benar karena Allah atau ada sebersit rasa marah akibat tidak diperhatikan?”. Deg!

    Dan ini juga terdapat dalam kisa Ali bin Abi Thalib yang melepas musuhnya karena si musuh meludahi Ali ketika pedang Ali berada di lehernya. Ali takut ketika ia membunuh musuhnya itu bukan karena Allah. 

Subhanallah wal hamdulillah wala ilaha illallah wallahuakbar, bingung aku kudu ngerespon apa sama hal-hal itu :( Cuma bisa instropeksi diri lagi, lagi, dan lagi.

Posting Komentar