Bersama dan Istiqomah Dalam Al-Qur'an
31/03/2018
Kajian rutin Sabtu paginya Ma’had
Ahlul Quran oleh Ustadz Mudzoffar. Denger kata bersama dalam kajian kali ini
membawaku ke lagunya Glenn Fredly, Sekali Ini Saja. Hehe, ngomongin Al-Quran
malah lagu yang keinget. Kayak gini nih liriknya,
Bersamamu kulewati
Lebih dari seribu malam
Bersamamu yang kumau
Namun kenyataannya tak
sejalaaaaaannnn :'(
Nahloh.... Semoga kita sejalan ya
Al-Quran, love you
Kalau bicara tentang Al-Quran, kita
bicara tentang keimanan. Iya, membenarkan dengan perkataan, meyakini dengan
hati, dan melakukan dengan perbuatan. Tahap keimanan itu…
- Mengetahui dan memahami. Keimanan yang berarti mengetahui dan memahami sifat Al-Quran.
- Pengakuan dan pembenaran. Karena orang yang tau tidak mesti membenarkan. True? True! Contohnya orang Quraisy pas zaman Rasulullah, mereka tau nabi terakhir itu Rasulullah, mereka tau kitab yang diturunkan Al-Quran, tapi apa mereka membenarkan ? Tidak. Atau, ada ibu yang tau anaknya, tapi saat kondisi marah ia tidak mengakui anaknya.
- Penerimaan. Seseorang bisa dikatakan beriman ketika mencapai tahap ini. Dulu orang kafir pun ada yang tau dan mengakui tapi mereka semua tidak menerima. Ya kan? Mereka gengsi, malah tetap milih mengikuti nenek moyang mereka. Sebab, jika menerima berarti ada konsekuensinya. Kalau menerima Al-Quran sebagai firman Allah maka pasti akan ada konsekuensinya. Iya masa menerima Al-Quran tapi tidak pernah dibaca? Menerima Al-Quran tapi tidak dijadikan petunjuk? Dari hal ini lah bisa kita lihat diri ini apa sudah kita membersamai AL-Quran yang katanya tadi udah kita klaim? Sejauh mana sih kita menerima Al-Quran sebagai klaim kita? Wah makjleb :’(
- Cinta. Keimanan lope.
- Ridho. Ada sebuah hadits yang mengatakan bahwa telah mendapatkan rasa kelezatan dan manisnya iman ketika kita sudah sampai pada ridho. Dan ini faktornya hati, kita yang membangun hati ini.
Keimaman tahap 3 hingga 5 itu butuh perjuangan. Oleh karena itu, tidak mudah membersamai Al-Quran dengan segala penghalangnya. Penghalang dari diri sendiri yang berupa hawa nafsu, penghalang dari golongan setan, maupun penghalang dari lingkungan yang tidak kondusif.
Maka syarat mutlak yang harus dimiliki untuk membersamai Al-Quran adalah aku,
shobrina. Sabar. Sabar membersihkan hati
dari yang menggembok hati dari menerimanya Al-Quran dan juga sabar dalam istiqomah
membersamai Al-Quran. Berat, tapi kudu wajibun di coba dan terus dicoba!
Bentuk-bentuk bersama Al-Quran adalah dengan menjadikannya sebagai wirid (sesuatu yang menjadi rutinitas seseorang). Hidup, baik, sehatnya jiwa kita ditentukan dari banyaknya pikiran kita tentang Al-Quran. Sebab dalam QS. Asy-Syuro : 52 menyatakan bahwasanya Al-Quran adalah ruh, ruh dari Allah.
Coba bayangin jasad kita ini gak ada
ruhnya. Kalau kata HR. Tirmidzi, orang yang tidak memiliki hafalan Al-Quran
sedikit pun, diibaratkan seperti rumah yang roboh. ROBOH! Membersamai Al-Quran
bisa dengan berbagai macam wirid,
- Wirid tilawah (membaca).
- Wirid as-istima’ (mendengar).
- Wirid hifzil wa muroja’ah (menghafal dan murojaah).
- Wirid tadabbur. Tadabbur tidak mesti tau ilmu tafsir, asal kita bisa baca artinya dan dapat mengambil hikmahnya itu juga sudah masuk tadabbur. Dalam QS. Shad : 29 didapat bahwa keberkahan utama ada pada tadabbur, tadabbur yang kemudian untuk diambil pelajaran. Dalam QS. Muhammad : 24 didapat bahwa ukuran bahwa hati seseorang tidak tertutup jika mentadabburi Al-Quran.
- Wirid dzikir Al-Quran. Semua poin termasuk berdzikir. Tapi ada ayat-ayat dalam surat pilihan atau surat-surat yang diprioritaskan untuk dibaca sebagai pelindung. Ada anjuran khususnya. Contohnya Al-Matsurat, atau surat Al-Mulk, Yasin, Al-Kahfi, dll.
Rasa penghormatan kita terhadap Al-Quran itu bentuk kecintaan kita terhadap Al-Quran. Waduh, begitu ya rupanya. Iya juga sih ya kalau di telek-telek :’( bagaimana ketika kita melihat Al-Quran tergeletak di lantai, bagaimana adab kita ketika membaca Al-Quran, dll.
Dan salah satu faktor penentu tingkat keimanan kita itu hati yang bersih dan suci. Sebab Al-Quran itu kalamullah, lekat dengan Allah. Jadi, Al-Quran itu suci. Kalau mau membersamai juga kudu suci. Maka harus senantiasa kita mensucikan hati (tazkiyatun nafs). Jika kita tilawah tapi merasa berat, berarti cintanya gak jujur terhadap Al-Quran :’(
Orang yang cinta akan sesuatu pasti akan sangat
mudah melakukan apapun masalahnya. Bersama Al-Quran itu kita harus sadar bahwa
kita yang butuh Al-Quran. Yakinkan pada diri bahwa Al-Quran itu adalah RUH!
Ingat, kalau gak ada ruh, mati kon. Salah satu alat ukur apakah kita
memebersamai Al-Quran adalah dengan melihat waktu senggang kita gunakan untuk
apa. Waktu sendiri kita gunakan untuk apa. Apa sudah diisi dengan Al-Quran?
Huhuhu :’(
Posting Komentar