Fabel Al-Qur'an

Table of Contents

08/11/2017

Seneng banget akhirnya bisa ke BBW Surabaya (Big Bad Wolf). BBW itu kayak book fair, guede banget, banyak banget bukunya. Banyak buku impor. Buku anak kecil juga ada, tapi kebanyakan pake bahasa asing. Wkwkwk. 

Pas masuk, wow luas banget. Kali ini perginya sama temen kampus, Zaidah. Kita mulai dari tengah meliuk-liuk ke kanan, dari satu tumpukan buku ke tumpukan buku yang lain. Udah sampe pojok, jalan lagi ke ujung kiri yang belum diliat. Beuh capeknya ngiterin gitu doang. Dan gak ada genre yang menarik mata aku. Sekalinya ada, budget gak sesuai. Hahaha. 

Udah puas tawaf, akhirnya kita mutusin buat pulang. Tepat sebelum ke kasir, mata aku nemu sesuatu yang menarik. Yap, buku yang bakal aku ceritain gimana isinya ini yang aku beli. Judulnya Fabel Al-Qur’an, 16 kisah binatang istimewa yang diabadikan Al-Qur’an. Buku soft cover setebal 461 halaman ini gak ada nama penulisnya, tapi ada kata disadurnya. Jadi yang membuat saya bingung adalah, apakah semua ceritanya murni disadur dari buku lain tanpa ada penambahaan atau ada penambahan oleh penulis yang tak disebutkan namanya ini. Hahaha. Bukunya ini punya font yang lebih besar dengan gaya bahasa yang ringan banget, sekali ngebuka bawaannya pengen baca terus. Ada sih beberapa titik bosen, tapi cuma bentar.

Dari kata pengantar penerbitnya kita bisa tau kalau kisah didalam buku ini diceritakan dari sudut pandang si hewan. Beranjak ke judul pertama yang dibaca itu ‘Burung Gagak dan Putra Adam’. Gila banget baca kisah pertama ini. Bikin aku jadi bingung seribu bingung, lebai deh ya. Gaya bahasanya itu lho ngebuat jadi mikir ini itu beneran apa bohongan sih perasaan hewannya. 

Baca halaman demi halaman pun masih bertanya-tanya otak ini, beneran gak sih ini? Seriusan ta ini perasaan hewannya kayak gini? Beneran ta didunia gagak itu ada hal kayak gini? Kayak nyata bung! Tapi akhirnya aku yakinin lagi hati aku kalau ini fabel, iya ini fabel. Orang dari judunya aja udah keliatan kok ya. 

Tapi emang masyaAllah banget sih si penulisnya ini ngediskripsiin kejadiannya, bikin emosi yang baca teraduk-aduk parah. Dari buku ini aku jadi penasaran sama binatang yang jarang aku dengar nama dan bentuknya sekaligus penasaran sama TKP-nya. Masih ada apa nggak. Kalau masih ada, letaknya dimana. Jadi penanda untuk trip nanti. Haha, amin. Dan kadang aku ngerasa hina banget jadi manusia. Coba lah lihat disini, aku ambil satu paragraf dari tiap kisah didalamnya. 
  
Aku sama sekali tak berniat untuk bertemu dengan Qabil. Aku begitu muak kepadanya. Namun di luar kendaliku, sayap-sayapku terus membawa tubuhku menuju ke arah Qabil berada. Ada perintah agung yang menegndalikan kesadaranku dan menuntun sayap-sayapku. Aku diperintah oleh Malaikat yang agung. (Burung Gagak dan Putra Adam)

Separah apakah keburukan yang telah kuperbuat hingga aku pantas dibunuh? Sejauh manakah aku telah mengganggu mereka? Sebesar apakah kejahatan yang telah kuperbuat terhadap mereka? Tidak ada jawaban untuk semua pertanyaan ini. Aku menunduk, kusuguhkan susu dan belas kasih kepada mereka. Aku menyadari bahwa keputusan untuk membunuhku teah terjadi. Tinggal menunggu eksekusi. (Unta Nabi Shaleh as.)

Yang aku tahu hanyalah bahwa Allah swt. telah memantapkan hati Ibrahim yang menginginkan kemantapan hati. Allah juga memantapkan hatimu ketika Ibrahim menyembelih dan memotong tubuhmu. Dia memantapkan hatiku dengan mengembalikanmu kepadaku setelah beberapa saat aku kehilangan dirimu. (Merpati dan Nabi Ibrahim)

Tubuhku menggigil karena marah. Alangkah berani makhluk yang bernama manusia ini! (Serigala dan Yusuf)

Aku sangat takut memfungsikan lambungku. Aku tak berani menjadi pembunuh seorang nabi. Biarlah lambung ini tenang tanpa bergerak, atau dengan gerak menyusut yang perih, bukan gerak mencerna. (Ikan Paus dan Nabi Yunus)

Jadi, perasaan kami hanya berhubungan dengan manusia. Tidak demikian jika kami berhubungan dengan manusia. Kami tak pernah berperasaan terhadap manusia. Kadang aku takut saat ia memukulku. Namun, aku pasrah. Hidupku sungguh indah. Aku adalah makhluk yang pandai menerima hidup dengan senang hati. Aku adalah nikmat, namun bukan untuk diriku sendiri. Kenikmatan yang kami rasakan adalah saat kami memberi. (Sapi Betina Bani Israil)

Aku adalah kata-kata lembut yang terakhir. Halusnya kulit ular, dengan segala kengerian yang ditimbulkan, adalah kata-kata yang lembut. Aku tahu bahwa aku tak akan diperintahkan untuk menelan atau menyakiti Firaun. Tugasku hanyalah menakut-nakutinya. Itu saja. Ya Tuhan, betapa agung rahmat dan kasih sayang-Mu terhadap makhluk. Kepada Firaun yang durhaka-pun Engkau memberi kasih sayang-Mu. (Tongkat Musa)

Aku menjawab dengan berani, “Bukan tertipu wahai nabi, aku ingin agar manusia mengetahui bahwa makhluk yang tawadhu dan sederhana sepertiku bisa saja menjadi alat yang digunakan oleh Allah untuk mengislamkan seluruh penduduk sebuah negeri. Ini adalah hakku, wahai nabi.” (Burung Hud-Hud dan Sulaiman)

Kami beriman kepada qadha dan qadar Allah. Kami tahu bahwa satu gelas air saja bisa menenggelamkan satu pleton pasukan semut. Namun, iman kami kepada Allah tidak menghalangi kami untuk melakukan perhitungan dan mempelajari manfaat. Mengatur segala sesuatu dan menata segala sesuatu dengan cermat. Bahkan, kami mengerti bahwa iman kepada Allah akan menuntut dan mengharuskan semua ini. Karena semesta memiliki hukum-hukum yang tidak akan merugikan siapa pun dan tak akan penah menyimpang. (Semut dan Sulaiman)

Aku, si gerayap kecil, telah mengungkap perkara gaib itu. Aku berhasil membuktikan kepalsuan pengakuan jin bahwa dirinya bisa mengetahui yang gaib. Aku buktikan kepalsuan itu saat aku menjatuhkan tongkat Sulaiman. Lalu, Sulaiman jatuh tersungkur. Meskipun mulutku tak bisa melihat, namun ia telah mengumumkan berakhirnya kekuasaan Sulaiman yang luas itu. (Gerayap dan Sulaiman)

Aku tahu bahwa manusia memiliki pandangan yang buruk dan salah tentang keledai. Jadi, tidak terlalu salah jika keledai memiliki pandangan yang sama terhadap manusia. Aku tak ingin gegabah. Aku tahu bahwa kaum keledai beruat gegabah di saat berjalan atau berbicara. Kini aku ingin belajar dari pengalaman. (Keledai Uzair)

Aku adalah Qitmir. Anjing Ahlul Kahfi yang tidur selama 309 tahun, yang kemudian terbangun kembali-seperti orang yang tiidur sekadar setengah jam. Aku bersyukur kepada Allah bahwa telah terjadi apa yang terjadi. Aku hampir kehilangan kepercayaan atas adanya keadilan di muka bumi. Banyak orang erpikir bahwa para anjing adalah binatang yang tidak berkepentingan selain untuk makan dan melolong. Ini adala ilusi rendahan yang salah. Dan banyak orang yang berpikir bahwa anjing adalah sesuatu yang najis. Umpatan, cacian, dan lain-lain. Bahkan, ada manusia yang diciptakan oleh Allah dan dimuliakan itu berkata kepada temannya, “Hai anjing.” Kata-kata yang mengandung maksud untuk merendahka dan meremehkan. Namun, ini bukanlah penghinaan bagi kami para anjing. Kami tak merasa hina menjadi anjing. Menjadi anjing bukan berarti menjadi kafir. (Anjing Ashabul Kahfi)

Meskipun aku adalah bagian dari tanah berwujud bumi, namun aku bisa memahami fenomena yang menakjubka ini. Jika suatu masyarakat mengalami keruntuhan moral, maka mereka menolak untuk membenarkan adanya kesucian pada apa pun. Bahkan, masyarakat itu menentang kesucian atau kebersihan pada apa pun. (Tanah Liat dan Isa)

Setelah mengalami kehidupan terpenjara, aku tahu bahwa tidak ada sesuatu pun yang menyamai kemerdekaan. Mungkin aku juga memahami sesuatu yang lebih serius, yaitu bahwa hilangnya kemerdekaan berarti hilangnya kemampuan untuk mencintai. Juga berarti hilangnya rasa roti yang sesungghnya. (Gajah Abrahah)

Kulemparkan batu pertama yang berasal dari Neraka Jahim di tengah pasukan itu. Pasukan Abrahah terkena ledakan. Dan ledakan itu terbatas pada tempat tertentu. Energi penghancur ini tidak diizinkan untuk meledak sembarangan dan menggetarkan seluruh tempat itu. Ia juga tidak dizinkan bersuara saat meledak. Jadi ledakan itu tanpa suara dan hanya mengenai pasukan musuh. Ledakan yang dikendalikan, bukan ledakan bebas. Andai ledakan itu dibiarkan bebas, tentulah Ka’bah dan seluruh tempat itu akan hancur selama-lamanya dan tidak mungkin diselamatkan lagi. (Burung Ababil)

Setiap orang yang menangis dan berdoa itu akan membayangkan diri Rasulullah saw. Mereka hanya sekadar bisa membayangkan. Namun, aku pernah melihat beliau. Aku pernah hidup bersama beliau selama tiga hari. Beliau hidup sebagai tamu dalam perlindunganku selama tiga hari. (Laba-Laba Penjaga Gua)

Semoga keimanan kita bisa lebih baik daripada hewan-hewan dalam kisah ini :')

Posting Komentar