Gifted Hands

Table of Contents
20/01/2018
Tadi pagi rencananya mau lihat ceramahnya Yasmin Mogahed, eh malah nonton film. Film yang penuh makna buat aku, sampe-sampe keterusan hingga akhir kisahnya. Film berdurasi 1,5 jam ini menceritakan tentang orang kulit hitam yang menjadi dokter ahli bedah syaraf. Namanya Ben, Benjamin Carson. Ia lahir tumbuh besar bersama kakak dan ibunya. Ayahnya telah menikah dengan wanita lain. 

Dahulu ibunya hidup besar di panti asuhan tanpa bisa membaca apapun. Kini pemasukannya ia dapat dari bekerja sebagai pembantu dan rumah lamanya yang disewakan. Ketika SD, Ben dikenal sebagai murid yang bodoh. Ia selalu melabeli dirinya bodoh. Selalu menyalahkan dirinya yang bodoh atas nilainya yang dibawah rata-rata. Sontak sang ibu pun menegaskan ke anaknya bahwa ia gak bodoh, dianya aja yang belom menggunakan kemampuannya. Kata-kata positif selalu ia lontarkan kepada Ben, padahal pernah suatu saat ia ke psikiatri dan mengaku sangat berat sama hidupnya. Sang ibu merasa bodoh karena tidak bisa membaca dan tidak bisa menghadirkan sosok ayah kepada anak-anaknya. 

Bisa dibayangkan? Memberi semangat, kata-kata positif kepada orang yang disayang padahal diri pun sebenarnya sedang butuh disemangati juga. Cinta ibu itu emang luar biasa! Ibunya, dengan segala keterbatasannya, tak mau anaknya tumbuh seperti dirinya. Kata-kata yang selalu menjadi andalan ibunya ketika menyemangati anak-anaknya, “You can do anything anybody else can do, Bennie. Only you can do it better.” Film ini penuh dengan dukungan ibu untuk anaknya. Kata-kata positif sang ibu terhadap prilaku anaknya.

Suatu saat Ben mendapatkan nilai D untuk matematikanya (naik peringkat dari F). Si ibu memujinya pintar dan bilang kalau dia bisa lebih baik dari itu. Dan yak, lagi-lagi si Ben bilang gimana. Dia gak tau gimana bisa lebih baik. Lantas si ibu bilang kalau dia pun gak tau gimana, tapi kita hanya perlu pake imajinasi kita. Lantas Ben bilang kalau dia gak bisa berimajinasi. Hingga ketika sedang siraman ruhani di gereja, ada sang pastur sedang bercerita didepan. Dan masuklah kedalam imajinasi si Ben. Begitu senangnya ia bisa berimajinasi. Lagi-lagi... mendongeng, berkisah, bercerita punya efek yang begitu luar biasa. Salah satunya, membuat imajinasi anak terasah. Dengan kisah itu, si Ben pun kelak ingin menjadi dokter.

Kau tau? Menonton TV adalah kebiasan Ben dan kakaknya dirumah ketika ibunya sedang tidak ada di rumah. Kalau gak ada kegiatan apa-apa, pokoknya di depan TV. Hingga suatu saat ketika sang ibu sedang bekerja ditempat barunya ia menyadari suatu hal. Baca. Rumah yang dibersihkannya kala itu punya satu ruangan besar penuh dengan buku, bahkan sampai tumpah-tumpah di atas meja si empunya rumah. Si ibu keheranan dan bertanya kepada pemilik rumah, “Apakah Bapak membaca semua buku yang ada di sini?”. Kurang lebih gitulah yah arti bahasa inggrisnya. Dan si bapak menjawab, “Iya, sebagian besar”. 

Ketika kembali ke rumah dan menemukan anaknya sedang menonton, sontak sang ibu mematikan layar telpon dan mengeluarkan aturan baru. Mereka dalam 1 minggu harus membaca buku yang kemudian di ceritakan kembali ke ibunya sebagai bentuk laporan dan hanya boleh menonton 2 program TV. Mau gak mau mereka menuruti ibunya. Dengan langkah gontai, mereka menuju perpustakaan, mengambambil buku dan membacanya. 

Lama-lama dengan kebiasaan membaca itu tontonan mereka pun berubah genrenya, yang biasanya menonton opera sekarang tontonannya quis. Dikelas, Ben mahir dalam mengeja, bisa menjawab pertanyaan guru yang sebelumnya belum dijelaskan. The power of reading, Iqra’.

Film ini juga mengajarkan aku bahwasanya ilmu tidak dapat dipishkan dengan agama, hidup tidak bisa dipisahkan dengan agama. Semua dalam hidup ini akan selalu berkaitan dengan agama. Ditunjukkan oleh sang ibu ketika Ben bilang mau jadi dokter. Si ibu bilang, “You can be anything you want a be in this life, as long as you work to get it. God will not abondon you.”

Pun ketika Ben melakukan kesalahan dan meluapkannya dengan emosi yang tak terkontrol, ia menuju kamarnya dan memeluk kitab sembari berdoa, “God. God, You have to take this temprament from me. Please, please, take it.”

Pun ketika Ben ditanya kenapa ia mau masuk ke residensi bedah syaraf di Rumah Sakit Johns Hopkins yang hanya menerima 2 murid dari 125 dalam tahun itu, kenapa ia mau menjadi dokter otak. Ada pada menit ke 00.51.30, “The brain its a miracle.” Dari subtitlenya begini, “Otak. Itu sebuah keajaiban. Anda percaya keajaiban? Tidak banyak dokter mempercayainya. Tidak ada banyak keyakinan diantara kalangan dokter. Maksud saya, kita mempelajari laporan, kita mengabaikan pertanda, itu semua sangat nyata, dijual. Tapi faktanya adalah, ada begitu banyak hal yang tidak bisa kita jelaskan. Saya percaya bahwa kita semua mampu untuk melakukan keajaiban, di atas sini (sambil nunjuk ke kepalanya). Saya percaya bahwa kita semua diberkati dengan talenta menakjubkan dan keahlian. Ini adalah saluran (otak), sumber, inspirasi untuk pencapaian yang luar biasa.”

Pun ketika hendak mengoperasi anak kembar siam yang kepalanya menjadi satu, ia meminta agar orang tuanya untuk berdoa. Karena Ben pun berdoa. Pemisahan anak kembar siam yang kepalanya menjadi satu akan sangat sulit untuk menyelamatkan kedua bayi. Sebab, akan terjadi pendarahan yang hebat ketika hendak memisahkan. Dan Alhamdulillah berkat semua hal tadi ia berhasil memisahkan kepala bayi kembar siam yang menempel.

Yak, dari sebuah film banyak hal yang dapat kita ambil hikmah. Hikmah ku belum tentu sama dengan hikmah mu. So, keep watching. Wkwkwk.

Posting Komentar