Halal ep. 1
Table of Contents
25/01/2017
Bukan, ini bukan tentang joduhku... Tapi tentang makanan. Aku pengen banget makan-makanan khas daerah-daerah Indonesia, Jepang, Korea, makanan yang unik-unik yang biasanya muncul di TV (termakan hasutan TV._.). Selama di Indonesia aku selalu merasa tenang dan bisa makan semauku, yang katanya mayoritas masyarakatnya beragama Islam, walaupun tanpa ada label halal tersemat direstoran makan. Pokoknya bukan menu anjing atau babi aja lah yang aku pilih. Hingga aku menemukan suatu titik balik pentingnya label halal dan makna halal, walaupun di Indonesia sekalipun.
Hari ketika aku pengen banget makan sushi, ku cari toko sushi mana yang sudah halal. Sebab aku mendapati dari sebuah blog bahwasanya dalam proses pembuatan sushi (yang kita tahu bahwa sushi adalah makanan laut, dan semua makanan laut itu halal walaupun bangkainya) ada penggunaan alkohol didalamnya. Entah itu benar atau nggak, tapi perlu kita waspadai.
Setelah cek di web, Cuma sedikit sushi yang punya sertifikat halal MUI dan letaknya jauh dari rumah. Kecewa aku, haha. Gak jadi lagi kita makan sushi. Pas ibu main ke Surabaya dan kita sedang keluar ada toko sushi di pinggir jalan dan sontak aku langsung bilang, “Bu, itu sushi tuh bu (padahal gak tau halal apa nggak)”. Tapi sayangnya belum buka, Alhamdulillah ya. Sampai sekarang akhirnya belum kesampaian makan sushi sama ibu.
Pernah pas main ke sebuah mall sama temenku tiba-tiba aku bilang, “ Makan sushi yok (sambil menunggu sesuat, lupa aku)”, “Ayok Bi, di lantai atas ada. Aku sama temenku pernah kesana”. Sesampainya disana kita langsung memesan dan menunggu di sebuah meja yang diatasnya ada kecap sushinya. Sesampainya sushi di meja kami, aku mengambil botol kecapnya. Dan tak sengaja botol itu terputar, disana tertulis ‘alkohol’ dalam kandungan kecapnya. Alhamdulillah Allah menunjukkannya padaku. Pupus lah keinginan makan sushi sama ibu. Kita akhirnya makan udon di restoran yang sudah punya sertifikat halal MUI.
![]() |
| jajanan di pasar apung Thailand |
Hal ini kembali berlanjut ketika di pasar apung Thailand, banyak jajan-jajan pasar disana yang pengen aku cicip satu-satu. Tapi apa daya, aku cuma bisa menelan ludah. Mayoritas masyarakatnya beragama Budha, kata tour guide kami kalau mau makan disana kita harus menemukan label halal dulu baru boleh beli dan dikonsumsi. Lagi-lagi Cuma bisa nelan ludah menahan nafsu mata.
Atau ketika aku studi ekskursi ke NTU Singapura, yang jelas Islam bukan mayoritas disini. Sesi ketika kelompokku keliling kampus, dipandu oleh mahasiswa Indonesia yang kuliah di NTU. Ada yang menarik perhatian mataku ketika kami sampai di kantin mereka. Ada sebuah dua buah rak, yang satu bertuliskan halal food dan yang satu lagi bertuliskan non-halal food. Subhanallah.
Gak hanya itu, jauh sebelum kepingan puzzle di atas, mucul teman sekosan ku. Kebetulan di kos ku ini ada dapurnya. Jadi aku pikir semua yang ada di dapur itu bisa dipakai bersama. Dan dikala itu aku pengen nyuci piring apa pengen masak ya. Pokoknya dia mengingatkan aku, dulu pernah kecolongan ada yang bukan orang muslim di kosan (soalnya kata dia, kosan ini muslim semua). Jadi dia takut kalau orang tersebut memakai peralatan dapur untuk sesuatu yang tidak diperbolehkan oleh umat muslim. Contohnya masak babi.
Halal. Di dalam Al-Quran disebutkan,
“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, dan (daging) hewan yang disembelih bukan atas (nama) Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu sembelih. Dan (diharamkan pula) yang disembelih untuk berhala...”
QS. Al-Maidah :3
“Wahai orang-orang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib baik dengan anak panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung.”
QS. Al-Maidah : 90
Kepingan-kepingan puzzle itu menghantarkan ku ke sebuah makna baru. Bahwa halal tak sekadar sebatas anjing dan babi. Ia juga harus memperhatikan sebuah proses. Bagaiamana sebuah makanan yang hadir di hadapan kita di buat. Apakah dimasak dengan minyak babi? Apakah dimasak dengan wajan bekas memasak babi (tanpa pensucian dengan tanah)? Apakah dimasak dengan alkohol? Apakah didapat dengan mencuri?
Lagi-lagi, halal tak sekedar sebatas anjing dan babi. Halal tak sekadar tentang kesehatan. Halal berbicara juga tentang hati, berbicara tentang tindakan amal baik. Sesuatu yang masuk kedalam tubuh kita akan mendarah daging. Jika yang masuk kedalam tubuh kita, melalui mulut, sesuatu yang haram maka jika ini tidak diberhentikan akan menyebabkan mata, tangan, kaki, telinga akan sulit merespon sutau kebaikan. Lagi-lagi, halal tak sekedar sebatas anjing dan babi.

Posting Komentar