Kemi
Table of Contents
20/01/2018
Alhamdulillah
akhirnya tuntas sudah kisah perjalanan Kemi aku baca. Dari pendapat teman
mengenai isi buku ini, membuat aku jadi tergiur beli bukunya. Pas bukunya
nyampe langsung lihat pendapatnya Taufik Ismail di depan bukunya, “Setelah
wajah pesantren dicoreng-moreng dalam film Perempuan Berkalong Sorban, novel
Adian Husaini ini berhasil menampilkan wajah pesantren sebagai lembaga
pendidikan Islam yang ideal dan tokoh-tokoh pesantren yang berwawasan luas,
sekaligsu gigih membendung gelombang liberalisme.” Uhuy, makin menarik buat
dibaca deh.
Ketiga buku ini diterbitkan oleh GIP (Gema Insani Press), udah lama
gak megang buku keluaran penerbit ini. Dan ketiga buku ini punya model kertas
yang berbeda, sampe aku mikir ini buku asli apa palsu. Wkwk. Eh ternyata Kemi 1
cetakan pertamanya tahun 2010, aku kelas 10. Udah lama juga ya nih novel. Kemi
2 tahun 2012 dan Kemi 3 tahun 2015.
Didepan novel ini tertulis “Bukan Novel
Biasa”, dan yak, betul banget. Novel ini bukan novel biasa, novel luar biasa.
Adian Husaini mampu membuat bahasan yang berat menjadi ringan untuk dipahami.
Novelnya ini berisi isu-isu yang kekinian, tokoh-tokoh maupun referensi buku
yang nyata. Sampai-sampai si Bejo aku kira ada di dunia nyata. Nama tokoh
maupun nama tempat terkadang lucu.
Ini novel
keluaran 7 tahun silam, dan masih menyisakan masalah yang sama hingga saat ini.
Kata orang kalau mau menyelesaikan masalah, harus kenal dulu sama masalahnya.
Jadi kalau mau mencegah liberalisme dan kawan-kawan harus tau dulu mereka itu
apa. Biasanya buku-buku seputar pemikiran itu punya bahasa yang berat. Ogah
banget yak aku ngebaca buku-buku itu, tebel pulak pastinya. Al-Quran aja belum
sepenuhnya termanfaatkan, ngapain juga nyentuh buku-buku kayak gitu. Pikir ku
dahulu.
Tapi ternyata gak bisa. Minimal tau lah pemikiran ini artinya apa,
sehingga kita bisa tau salahnya dimana. Dan yak, Kemi ini memberikan informasi banyak
hal terkait pemikiran-pemikiran itu dan dimana letak salahnya. Karena kalau
kita gak tau letak salahnya, kita akan keikut lho. Minimal diam, mengiyakan
kata mereka. Sebab ini dulu pernah terjadi sama aku ketika aku gak paham
apa-apa tentang liberalisme dan masih bingung memahami hakikat toleransi.
Ada
temen, entah dulu itu dalam kondisi apa sehingga dia melontarkan sebuah kalimat
yang membuat aku diam, dia bukan Islam. Membuat aku kehilangan kepercayaan
diriku sebagai muslim. Dia bilang, “...Semua orang menganggap agamanya benar”.
Entah gimana kalimat depannya sampe-sampe yang aku ingat cuman itu. Haha.
Dari buku ini juga akan
kalian temukan banyak hal. Salah satunya adalah ketika ada orang yang berbuat
baik, nilai lah dari yang nampak. Karena kita tak bisa melihat yang tak nampak,
niat, cuma Allah yang tau. Kadang ketika ada orang niat baik, aku menaruh
curiga pada orang tersebut. Jadi khawatir, jadi banyak pertimbangan dalam
menolong. Harusnya ketika ada orang berniat baik, sambutlah ia. Lihatlah apa
yang nampak.
Subhanallah wal Hamdulillah wa Allahuakbar. Maafin Hami yang masih
berproses ya teman-teman.
Posting Komentar