Khadijah
Table of Contents
22/12/2017
Buku ini karya
Abdul Mun’im Muhammad yang berjudul Khadijah: The True Love Story of Muhammad
setebal 363 halaman. Dengan semangat membawa buku ini dari rumah menuju
perantauan akhirnya selesai juga aku bacanya. Padahal udah lama banget nih buku
aku bawa-bawa. Pernah suatu saat aku baca buku ini, tapi berhenti di awal
halaman. Waktu berlalu lama, akhirnya aku coba buat buka lagi nih buku. Dan yak
Alhamdulillah atas izin Allah aku bisa nyelesein baca nih buku.
Mencoba
mengenali sosok Khadijah. Apa sih peran beliau sampai beliau begitu menjadi
sosok yang terkenal, Khadijah itu seperti apa? Kiranya begitulah yah ekspektasi
ku sebelum membaca buku ini. Gaya bahasa dalam buku ini ringan untuk dipahami,
bagi yang sudah siap baca dan mengambil sesuatu ya. Sebab ini terjadi sama aku,
ketika aku belum siap dan menganggap sirah itu sesuatu yang berat maka bahasa
si penulis akan terasa berat buat dibaca. Sehingga aku berhenti membaca. Wkwk.
Jadi, bacalah dengan menyebut nama Allah. Nyambungin aja lah ya. Haha.
Dimulai dengan
kisah pertemuan antara Khadijah dan Nabi Muhammad SAW dan diakhiri ketika
Khadijah wafat (ya iya lah ya, klo diterusin mah gak ada Khadijahnya). Dalam
buku ini tak begitu banyak kisah yang memaparkan secara detail tentang
Khadijah. Ia lebih banyak memaparkan kisah Rasulullah. Sampe aku menanti-nanti.
Mana sih ini kisah Khadijahnya yak? Karena ekspektasiku semua lembaran ini dari
sudut pandang Khadijah. Tapi ini dari sudut pandang penulis, wkwkwk sotoi abis
deh aku kan.
Pada awalnya aku rada gak bisa mengambil kesimpulan atas peran
Khadijah, tapi lambat laun dengan pemaparan kisah Rasulullah aku jadi merasakan
betapa besar peran Khadijah saat itu. Kalau bisa dirangkum akan jadi seperti
kata Rasulullah ini,
“Tidak. Demi
Allah, aku tidak pernah mendapat pengganti yang lebih baik daripada Khadijah.
Ia yang beriman kepadaku ketika semua orang ingkar. Ia yang mempercayaiku
tatkala semua orang mendustakanku. Ia yang memberiku harta pada saat semua
orang enggan memberi. Dan darinya aku memperoleh keturunan, sesuatu yang tidak
aku peroleh dari istri-istriku yang lain.” (Perkataan Rasulullah saw mengenai
Khadijah)
Khadijah. Dari
kisah ini aku belajar menjadi istri dan ibu yang baik. Wkwkwk. Cuplikan
paragraf dibawah menggambarkan karakter Khadijah. Cuplikan ini aku ambil yang
ada berkaitan dengan Khadijah. Sebenarnya kalau dibaca sebelumnya lebih ngena.
Sebab disaat itu wahyu pertama kali turun, pada saat dakwah Rasulullah masih
sedikit yang menerima. Dikisahkan juga bagaimana orang Quraisy memperlakukan
Rasulullah. Mungkin kalau aku ada pada masa ini gak bakal bisa sabar ya. Tapi
Khadijah...
Khadijah tak
pernah ragu akan pertolongan dan taufik Allah kepada suaminya. Ia juga yakin
sepenuhnya kepada kekuatan tekad dan kesabaran Rasulullah. (hal 167)
Nah ini, ketika Rasulullah mendapatkan wahyu ia menemui
Khadijah, diceritakan semua. Disaat suaminya tidak yakin dengan apa yang di
dengarnya, Khadijah meyakinkan beliau bahwa beliau utusan Allah. Dengan bertanya
pada Waraqah bin Naufal (saudara sepupunya). Kisahnya ada di halaman 61-69.
Bayangin ya, kamu didatengin sama suami kamu padahal kamu juga gak ngerti itu
apaan. Kalau kata Ust Mudzoffar Khadijah itu tidak tau, tapi mau mencari tau,
dan tau mencari kemana.
Dengan perasaan
yang halus, Khadijah dapat menyelami rasa gamang di dalam hati kaum muslimin
ketika mereka mereka harus pergi ke suatu tempat dengan budaya dan bahasa yang
asing. Jauh di lubuk hatinya, Khadijah khawatir orang-orang musyrik akan
mengejar mereka dan berusaha sekuat tenaga untuk mengembalikan mereka ke Mekah.
Khadijah hanya bisa berdoa dan menyerahkan segala urusan kepada Allah. (hal
175-176)
Dengan putri dan
keponakannya berada di antara para muhajirin, pantaslah jika Khadijah merasa
sangat khawatir. Tetapi iman di hatinya telah teruji. Ia tekan perasaannya
sendiri dan ia dorong putrinya untuk berhijrah. Tidak dibiarkannya kekhawatiran
itu terlihat orang lain, terutama oleh suaminya, Rasulullah saw. Ia pasrahan
semuanya kepada Allah dengan sabar dan tawakal. Ia berdoa tanpa henti agar
Allah menyelamatkan kaum muslimin dari segala aral dan bahaya. (hal 176)
Rasulullah
keluar dari tempat pertemuan itu dengan sedih. Harapan beliau bahwa kaum
Quraisy akan beriman belum terwujud. Mereka justru berpaling dan meminta beliau
melakukan hal-hal yang tidak masuk akal. Tetapi, seperti biasa, Khadijah selalu
ada di sana untuk menghibur dan meringankan beban beliau. Dicurahkannya seluruh
perhatian untuk mendengarkan keluhan suaminya tercinta. Lalu dihibur suaminya
itu dan diingatkannya tentang Allah yang akan senantiasa melimpahkan
pertolongan. (hal 192)
Dua puluh lima
tahun lamanya Khadijah hidup bersama Rasulullah, mengarungi hiduo rumah tangga
denga penuh cinta. Selama itu, ia senantiasa mencurahkan kasih sayang dan
keikhlasan yang tiada terhingga. Ia menikmati kebahagiaan yang tidak pernah
dirasakan oleh wanita manapun sebelumnya. Khadijah, bersama segelintir orang
lainnya, merupakan bagian paling penting dari proses lahir dan berkembangnya
Islam. Ia hidup dalam cahaya kenabian dan menyumbangkan peran sangat penting
dalam penyebaran risalah Islam dengan kecerdasan pikiran, kematangan
pertimbangannya, serta keluasan pandangannya. Tak pernah ia ragu untuk
mengemukakan pendapat, berusaha sekuat tenaga dan menyumbangkan harta bendanya.
(hal 295-296)
Khadijah
mendapat pemeliharaan dan bimbingan langsung dari Allah di sepanjang hidupnya.
Allahlah yang mengarahkan Khadijah untuk menjdi teman hidup Rasulullah. Allah
pula yang memunculkan tekad di hatinya untuk senantiasa membela, membangkitkan
tekad, dan mengobarkan semangat suaminya. Allah yang menganugerahkan kepadanya
akal yang cerdas dan akhlak mulia. Allah pula yang menjaganya dari segala cela,
sehingga penduduk Mekah menjulukinya “wanita suci”. (hal 308)
Ini yang spesial banget. Langsung dari Allah. Intinya kalau
di zaman sekarang itu kudu deket sama
Allah. Sebab Allah yang punya dunia dan seisinya ini :(
Khadijah
merupakan istri dan sahabat ideal yang selalu setia mendampingi serta menghibur
Rasulullah dalam setiap kesulitan. (hal 310)
Khadijah
berperan sebagai seorang istri yang setia, sahabat yang penuh pengertian,
sekaligus ibu yang penuh kasih sayang. (hal 312)
Tetapi ada
sesuatu yang tidak pernah berubah di dalam dirinya: kekuatan spiritual dan
kejernihan cinta. (hal 313)
Lagi-lagi, spiritual.
Dari buku ini
gak cuma pelajaran tentang Khadijah saja yang aku dapat. Ada pelajaran tentang
masyarakat zaman itu.
Adat dan tradisi
itu mengajarkan mereka sedemikian rupa sehingga hampir tidak ada ruang lagi
bagi penalaran yang sehat dan pemahaman yang benar. Mereka tidak mau mengerti
bahwa tradisi yag mereka itu lahir dalam kondisi dan masa ketika tuntutan hidup
memaksa leluhur mereka untuk melakukannya. (hal 216)
Akhir tahun
keenam kenabian-tiga tahun setelah dakwah Islam dilakukan secara terbuka-kaum
Quraisy medapat gagasan untuk melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan
oleh bangsa Arab sebelumnya. Rencana itu bertentangan dengan kebiasaan masyarakat
Arab yang menjunjung tinggi kehormatan tetangga, sanak kerabat, serta kewajiban
menjaga hubungan silaturahmi di antara mereka. (hal 254)
Dilihat dari apa yang mereka junjung tiggi membuat aku merasa
orang dulu punya Sense Of Belonging (SOB) yang tinggi. Terlihat ketika zaman
Rasulullah itu ada yang namanya “perlindungan” oleh kerabatnya. Seperti ketika
awal mula berdakwah, Rasulullah berada di bawah perlindungan Abu Thalib. Abu
Thalib termasuk orang yang disegani. Jadi tidak ada yang dapat dengan mudah untuk
membunuh Rasulullah.
Mereka
memperhatikan kenyataan bahwa sebuah klan yang paling mulia, paling terhormat,
dan paling luhur terancam musnah oleh kekejaman saudara-saudara mereka sendiri.
Bila benar-benar terjadi, itu akan menjadi aib yang sangat memalukan dalam
sejarah kabilah Quraisy. (hal 263)
Pas boikot dan
pemutus hubungan kaum Quraisy terhadap bani Hasyim dan bani Muthalib. Gila
banget ya gengsinya mereka itu. Terlalu. Gengsinya sampe nutupin akal mereka
dari kebenaran gitu. Bahkan paman Rasulullah pun, Abu Thalib, hingga akhir
hayatnya gak mengakui. Gara-gara apa? GENGSI! Padahal Abu Thalib meyakini
ajaran Rasulullah.
Kegagalan tidak membuat
mereka sadar bahwa Tuhan Muhammad merupakan Tuhan yang paling benar-Tuhan yang
memuliakan dan menghinakan siapa pun yang Dia kehendaki, Tuhan yang
ditangan-Nya terletak segala kebaikan, Tuhan yang Mahakuasa atas segala
sesuatu. (hal 275)
Bismillah, semoga bisa sedikit demi sedikit meneladani beliau.
Posting Komentar