Menjadi Ibu Generasi
22/12/2017
Ibu. Pernah dipanggil ibu padahal belom menikah? Pernah.
Rasanya gimana? Zebel! Habis gitu langsung ngedumel dalem hati. Kiranya kayak
gini,
‘Heh? Ibu? Orang masih muda begini dipanggil ibu.’
Tapi sekarang aku malah berharap dipanggil ibu. Karena
ucapan adalah doa. Karena kata ibu itu begitu dahsyat. Begitu agung. Dan peran
yang paling sempurna itu adalah ketika wanita sudah berpredikat sebagai ibu.
Bahkan dalam bahasa arab, ‘umm’ adalah inti dari kata ‘ummah’. Artinya ‘ibu’
adalah induk dari ‘ummat’. Wew berat kan, tapi hebat juga. Kalau kata Bu Septi
pas lagi acara hari ibu di rumah wkil walikota Bekasi (ust Syaikhu), ada 4 makna yang terkandung dalam kata ‘ibu’.
- Ibu biologis. Hanya sebagai penyumbang sel telur dan membiarkan rahimnya sebagai tempat janin tumbuh berkembang. Bahkan menjadi un wanted pregnant, gak mau hamil. Sebab ada orang yang sudah tidak mau punya anak lagi, tapi Allah masih memberi rezeki dengan amanah anak, atau dengan kata lain hamil. Beberapa orang ada yang gak mau ngurusin anaknya, dijual atau dibuang ke panti. Jadi dia hanya berperan sebagai ibu biologis.
- bu psikologis. Memberikan kasih sayang dan kenyamanan tanpa landasan nilai-nilai Islam. Yang penting anak senang dan bahagia.
- Ibu religius. Fokus pada menjadikan anak memiliki kesalihan pribadi saja.
- Ibu ideologi. Menjalani semua peran tersebut dengan landasan Iman dan nilai-nilai Islam, mendorong anak untuk memiliki kesalihan sosial dan memberi manfaat pada sebanya mungkin orang. Mengutamakan pewarisan dan penegakkan nilai-nilai pada diri anak meski kadang dalam pandangan anak membuat tidak nyaman.
Jadi, mau menjadi ibu dengan makna yang mana? Kalau disuruh
milih, jelas ibu ideologis adalah yang paling komplit. Ibu tak hanya sebagai
penyumbang sel telur, tapi jauh dari itu. Jauh menembus cakrawala. Jauh hingga
menembus surga. Sebab ibu yang hebat akan melahirkan generasi yang hebat.
Generasi hebat akan menghasilkan negara yang hebat. So, its starts from us
ladies!
Posting Komentar