MUNAS dan MONAS

Table of Contents
13/08/2016

Munas dan Monas, hanya dibedakan dengan huruf vokalnya tapi sudah berbeda bangunan. Museum nasional (munas) atau dikenal juga dengan museum gajah dan monumen nasional (monas).


Aku pergi bersama dua teman ku, Lia dan Nisa. Lia itu salah satu pengagum Pak Habibie dan Nisa itu anak arsitektur yang mempelajari tentang keindahan bangunan (salah satunya). Lia ngajak ke munas dan Nisa ngajak night trip ke monas. 

 

Di munas itu sedang berlangsung Habibie Festival, ada banyak kegiatan disana. Da Vinci Learning, pameran pesawat N-250 (((gatot kaca))), pameran iptek dan inovasi, bazar makanan, wahana planetarium, talkshow, stand up comedy, dll.


Pas aku kesana lagi penuh sama orang, hari sabtu, wajarlah ya. Aku dan Nisa, Lia belum dateng, juga gak tau festivalnya dimananya. Bayanganku itu festivalnya ada sejarah mengenai pak Habibienya.

aku dan nisa

Entah itu foto (ada sih, tapi fotonya di luar ekspektasiku. Haha), diorama, manekin, atau apa lah yang berbau sejarah zaman dahulu. Tapi ternyata diluar ekspektasi, haha. Kita muter-muter nyari tempat festivalnya, akhirnya nemu.


Kita megang senjata pistol (apa lah itu namanya, sniper ? macem-macem lah pokoknya), berat cuy. Ngelihat foto Pak Habibie tanpa ada tulisan penjelas, malah tulisan “printed by...”. Kan lucu, haha.


Di halaman museum di taruh kepala pesawat N-250 yang bisa dinaiki, tapi nguantreeeenya lama brooo !!! Sampe perjalanan kita ke monas pun masih panjang mengular itu antrean. Akhirnya gak jadi icip-icip N-250. Aku dan Nisa pun bingung mau kemana lagi, dan Nisa ngajak ke lantai tiga museum.


Museum ini luas banget lho, ada tiga lantai dengan tema yang berbeda (gak hapal dan gak merhatiin). Entah di lantai berapa, pokoknya banyak batu-batuan gitu. Prasasti ya? Ada ukiran di batu yang gak bisa aku baca.

Mungkin orang sejarah bakal bisa kali ya memaknai lebih daripada hanya melihat-lihat seperti aku.


Ada juga perhiasan-perhiasan orang zaman dahulu yang dibawa ke dalam kubur (Ya Allah, tolong.. serem gile, haha), rumah adat, alat-alat dapur, fosil-fosil, dan buanyak lagi. Hingga Lia datang dan kami kembali masuk ke dalam museum di lokasi yang belum kami masuki sebelumnya.


Kita berencana lewat pintu masuk yang gak bayar, sebelumnya Lia kesini untuk lihat talkshow lewat pintu belakang dan gak bayar. Lokasinya di areal bazar makanan. Pas menuju pintu tujuan ternyata kita berpapasan sama anaknya Pak Habibie.


Aku sama Nisa gak sadar sampai akhirnya disadarkan Lia si pengagum Pak Habibie. Dan aku hanya bisa menoleh dan bertanya-tanya yang mana. Tapi ternyata ditutup. Akhirnya lewat pintu masuk kami menuju halaman dalam. Gak paham juga apa namanya, kayak halaman dalam gitu. Taman yang beratapkan langit. Tempat yang fotoable. Hehehe.


Di sepanjang koridornya banyak patung-patung gitu. Keliling museum, foto-foto, ganjel perut, ngobrol sana sini dan kita pun menuju monas dengan jalan cantik sambil sesekali berfoto-foto di kursi pinggir jalan raya. Bagus.

 

Berhubung tripnya belum mulai (mulainya  jam 19.30-22.00), kita akhirnya makan dulu. Makan keraak telor, gorengan, dan minum degan. Setelah selesai makan dan sholat maghrib kita langsung menuju monas.


Ada lampunya... Nisa cerita kalau ada temennya yang tugas akhirnya tentang lampu pada monas. Aku lupa lampunya kenapa, hehehe. Nisa juga cerita kalau dosennya pernah bilang kalau salah satu alasan ketinggian monas itu untuk menjaga Pak Soekarno dari bahaya.


Sampai kami pada pintu masuknya (tiket masuk monas) lewatin lorong, sengaja biar lewatin diorama yang ada di dalam monas. Tapi kita langsung lurus buat ngantre tiket ke puncak monas.


Tau gak sih, padahal belum jam bukanya (19:30) tapi antrean ke puncak monasnya subhanallah banget mengularnya. Setelah sekian lama kita nunggu antrean, hujan badai - maaf lebai - akhirnya giliran kita naik lift sampai puncak monas.


Di dalam lift yang tidak begitu cepat kami didengarkan suara angklung yang nyenengin banget - apa deh. Di puncak monas kita bisa ngeliat kota jakarta, meneropong cahaya malamnya melihat kerlap kerlip lampu dari puncak monas.


Tapi apa daya, hujan turun bawa kabut (apa emang lampu jakarta yang tidak terlalu memancar ya) sehingga pemadangan dari puncak monas ini tidak sepenuhnya sesuai ekspektasi. Gapapa, tetep seru kok. 


Banyak hal lucu, pas di lift atau pas lagi foto. Di lift kita bareng dua orang bule yang terpisah dari rombongan. Si bule bertanya pada bapak penjaga lift dengan bahasa inggris, “Apakah bapak menjaga lift sepanjang hari?”.


Si bapaknya jawab pake bahasa sunda (yang aku pun gak ngerti artinya dan berakhir ketawa sendiri disaat yang lain ketawa), “Gak paham saya kamu ngomong apa”. Sontak semua yang ada di dalam lift tertawa tanpa ada yang menerjemahkan pada si bule.


Cerita lucu lagi pas kita lagi foto we-fie dengan berlatar belakang langit malam selepas hujan kota jakarta tiba-tiba ada anak kecil (laki-laki imut menggemaskan) gak dikenal mepet ke kita untuk ikutan we-fie.

we-fie sama anak kecil 

Agak shock, tapi lanjuuut teruus. Gak sampai 1 jam kita di puncak monas, ya iya lah ngapain juga lama-lama, kita turun dan kembali ke gerbang monas naik kereta mobil yang khusus digunakan untuk pengunjung monas. 



 

 

Posting Komentar