Penaklukkan Roma

Table of Contents

26/11/2016


Aku dan Novita ikut workshop ini. Berangkat dari guru ngaji yang akhirnya kami mengikuti workshop ini guna mencari tau bagaimana cara mengatasi anak kecil, dengan kisah. Tapi apa yang ku dapat justru di luar ekspektasi. Ada hal-hal yang membuat aku terperangah. Maaf ya agak berlebihan kata emang Hami ini. Sesi materi dibuka dengan bagaimana Kak Hadyan (pemateri, beliau konsen dalam bidang pendidikan) membawakan secuplik kisah Nabi Muhammad, yang diselingi oleh nasihat-nasihat ringan, di depan adik-adik. Menarik banget, seketika inget Putri. Havwiyanti Ananda Putri Utami, dia teman SMP-ku yang pandai sekali berkisah. Permainan suara untuk tiap karakter yang berbeda ia jagonya, dan ke-PD-annya menjadi nilai plus juga. Sesi dilanjutkan dengan materi inti yang disampaikan oleh Kak Hadyan juga. Tema kali ini juga menarik dan mengusik qolbu-ku. Hehe.


“Berkisah untuk PEMBENTUKAN PONDASI Kokoh Generasi PENAKLUK ROMA”

 

Menarik kan ? Membacanya membuat pikiran melayang pada kisah Muhammad Al-Fatih sang penakluk Konstantinopel. Beliau yang dari kecil sudah di doktrin oleh ayahnya sebagai penakluk Konstantinopel, padahal rencana awalnya bukan beliau. Berarti anak ku kelak bisa juga ya didoktrin untuk menjadi generasi penakluk Roma, amin ya Allah. Salah satu caranya dengan berkisah. Dengan berkisah kita bisa menanamkan pondasi dasar dan membentuk karakter seorang anak, karena masa-masa anak kecil (lupa rentang usia berapa) adalah masa emas. Masa pencarian benar dan salah. Dan yang bikin menarik lagi karena ada sebuah hadith yang berbunyi,


Abu Qubail berkata : Ketika kami bersama Abdullah bin Amr bin al-Ash, dia ditanya : Dua kota ini mana yang akan ditaklukkan terlebih dahulu ; Konstantinopel atau Roma ? Abdullah bin Amr meminta kotak miliknya, dia mengeluarkan dalamnya sebuah buku. Kemudian Abdullah berkata : Ketika kami sedang ada di sekeliling Rasulullah, kami menulis, Rasulullah ditanya : Dua kota ini manakah yang akan ditaklukkan terlebih dahulu, Konstantinopel atau Roma ? Rasullah bersabda, “Kota Heraklius ditaklukkan terlebih dahulu.” Yaitu Konstantinopel. 
(HR. Ahmad)

 

Di Al-Quran pun sepertiga isinya berupa kisah. Kisah yang penuh hikmah. Pernah ada sebuah penelitian (aku lupa di negara apa dan apa, anggap saja negara A dan negara B). Negara A orangtua terbiasa mendongengkan dongeng-dongeng heroik sementara di Negara B dongen-dongen melow. Dan beberapa tahun setelah itu dapat dilihat bahwa Negara A lebih maju daripada Negara B. Atau di film laskar pelangi, ketika anak-anak tidak mau masuk kelas dan bu guru mengajak mereka agar cepat masuk kelas. Tapi tidak terlalu di gubris bu guru, hingga dari kejauhan terdengar suara pak guru yang berteriak, “Ayo anak-anak, siapa yang mau mendengarkan kisah Nabi Nuh dan kapal besarnya ?”. Sontak anak-anak langsung lari menghampiri pak guru dan masuk kedalam kelas. Gak usah jauh-jauh, di Indonesia pun begitu. Salah satu contohnya dongeng Kancil Mencuri Timun. Cerita itu selalu didendangkan, tak ayal negeri kita banyak korupsi. Betapa kuatnya peran berkisah dalam kehidupan, terutama anak-anak pada usia masa pencarian dan penanaman pondasi. Kekuatan berkisah.


Tiba-tiba pikiranku melayang lagi ke SMA. Disana kita selalu ada agenda bahasa dari Language Team (LT) yang berisi lomba-lomba dan salah satunya adalah story telling dan musikalisasi puisi. Bagaimana kita berkompetisi menyampaikan sebuah cerita hikmah maupun dongeng-dongeng.


Kisah, berkisah... mempunyai kekuatan yang begitu mendalam dalam membentuk karakter, membentuk podasi kokoh untuk mencetak generasi penakluk Roma. Dengannya akan mempengaruhi jiwa dengan begitu halus sehingga menjadi nasihat yang mudah dikenang atau teguran yang tidak menyakiti. 

Posting Komentar