Rewang-Rewang Yok!

Table of Contents

02/09/2016

 

Selalu suka deh sama suasana di desa. Alamnya, orang-orangnya, bentuk rumahnya, irigasinya (yang jarang bisa kita temui di kota, apa malah gak ada?), sawahnya, makanan khasnya (walaupun sampai bosen, sebab daerah yang ku kunjungi selalu sama), dan lain-lain. Hari ini aku membantu ibu rewang di rumah Mbah Wit. 


Kali ini rewang karena Mbah Wit punya gawe, Mba Rona (anaknya Mbah Wit) mau melangsungkan pernikahan yang dilaksanakan di rumah. Ada beberapa agenda sebelum resepsi. Ada hantaran untuk tetangga, pengajian (malam hari sebelum pernikahan selepas maghrib), dan menjamu keluarga laki-laki (aku gak tau namanya apa, dilaksanakn malam hari sebelum perikahan selepas isya). 


Hantaran untuk tetangga berjumlah 150 hantaran rantang yang isinya makanan berat, nasi dan teman-temannya. Pengajian disuguhkan nasi pupuk yang isinya acar, telur balado, daging, kerupuk udang, dan es enak. Menjamu keluarga laki-laki dengan menyuuguhkan jajanan (lemper, jenang, onde-onde) dan makanan prasmanan (sate, pecel, rendang, es enak). 


Semua itu dibuat di dapur nenek alias dapurnya Mbah Wit sendiri, mungkin kecuali satenya. Mbah Wit menyulap dapurnya. Menutup jalan menuju rumah Mbah Nok dengan kayu-kayu, membuat atap sehingga dapat menambahkan beberapa kompor tanah liat. Dan fotoable banget jadinya, haha.

 




Rewang-rewangku dimulai dengan mritili (metikin) daun yang aku lupa namanya. Setelah itu beralih untuk memotong buah nangka yang hendak dijadikan sayur. Lalu membuat bola-bola dari ayam giling. 


Bahan membuat bola-bola sama kayak bahan buat bakso. Beda ukuran dan cara ngebuletinnya aja. Kalau bola-bola ini dibulet-buletin pake tangan yang digerakkan secara berputar pada daging ayam yang berada di tangan kiri. Tangan kiri kita dilapisi daun pisang ya. Sesekali diberi minyak supaya nggak nempel. 


Awalnya agak sulit untuk memutar bola-bola di atas daun pisang, akhirnya aku memutuskan untuk tidak memakai daun pisang (itu berarti bahannya langsung menyentuh kulit tangan kiri ku). Awalnya gak ada yang aneh hingga ada mba-mba baru nimbrung (di dekatku) dan merasa agak aneh dengan kerjaan ku. Sebab yang biasa kita tahu bahwa tangan kiri selalu digunakan untuk mencebok kan ya. Langsung deh aku pake daun pisang lagi, haha.  

 

Kemudian menusukkan lidi pada daun pisang yang berisikan ayam giling, bentuknya semacam otak-otak versi besar dan gendut. Daun pisangnya susah banget dicubles, mau nangis rasanya. Tapi kata ibu harusnya dijemur dulu baru dipakai, biar agak lemes. Membentuk ujung daun pisang agar rapat dan terlihat menarik butuh berkali-kali mencoba. Kalau caranya ibu ditekan dan dilipat kebelakang, mudah banget emang teorinya tapi praktiknya gampang-gampang susah.

 

Mataku masih berbinar-binar melihat dapur nenek, hingga Mba Nisa nanya hal itu dan mataku menangkap sesuatu yang lucu itu. Ada sate yang ditusukkan di salah satu kompor tanah liat didekat aku menusukkan lidi. Bukan sate kambing, tapi sate yang isinya bawang merah, bawang putih, cabai merah, dan serabut kelapa dirangkai menjadi satu bagian sate. Mbah Sob bilang itu biar undangan yang dateng rame, barakallah. Kepercayaan yang masih ada di beberapa desa. 


tusuk sate biar ramai yang datang

Kembali bertugas untuk mengupas kulit telur, menghitung jumlah telur, dan menggoreng telur, bantuin nyicipin (bukan bantuin kali shob). Waktu silih berganti, orang-orang pun semakin ramai berdatangan untuk rewang. Mereka membawa ‘pisau masing-masing’. Obrolan saling bersahutan yang tak jarang menimbulkan gelak tawa. Apalagi ada Mbah Sob, ruame pol. Oia, tidak semua yang rewang beradadi dapur. Ada yang bagian memasukkan hantaran atau ngurusi (packaging ya istilahnya) jenang yang sudah dibuat sehari sbelumnya.

 

Sore harinya aku dan kebanyakan orang pulang. Aku, ibu, Bude Anik, dan Mbak Nisa pulang bersih diri dan beberapa menit sebelum maghrib kita balik untuk rewang. Sesampainya kami kembali, makanannya sudah di dalam kotak (kita telat !), minuman sudah tinggal dikasih es batu, intinya untuk yang pengajian sudah siap. 


Aku tertegun, sebab ada ibu-ibu yang dari tadi pagi sampai aku datang lagi masih di dapur nenek. Pas aku tanya ibu, memang ada beberapa orang yang ditugaskan oleh Mbah Wit untuk memasak dan dibayar. Karena persiapan pengajian sudah siap, kami pun duduk santai hingga acara berakhir dan tamu sudah pulang. Tapi kami tidak ikut pulang, masih ngobrol dulu, bantuin beres-beres. 


Selesai beres-beres beberapa menit kemudian (gara-gara gak pulang-pulang juga dan aku mulai bosan) akhirnya aku bantuin Pak Kliwon buat bakso. Aku suka buat bakso, meremas-remas daging giling dengan tangan. Ahai! Reflek langsung tangan kiri ku ngambil daging gilingnya yang diikuti oleh seruan dari si ibu bakso, “Pake tangan kanan, tangan kiri kan buat cebok” (intinya seperti itulah ya). Deg, langsung pindah posisi tangan. Tangan kanan meremas-remas daging dan tangan kiri memegang sendok. Dan berakhirlah rewang-rewang kali ini.

 

Ada banyak yang dapat aku pelajari dari hal ini. Kerjasama mereka, saling bahu membahu, saling tolong menolong, gotong royong, dan kedekatan antar mereka (yang ditandai dengan sahut-sahutan mereka) sungguh mengasyikkan. Bahwasanya untuk melakukan hal besar dibutuhkan kerjasama semua elemen yang mempunyai tugasnya masing-masing. Ada yang bagian memasak, persiapan bahan, penempatan, dan pengantaran. Itu pun nanti dibredel lagi, ada yang memasak nasi, memasak sayur, memasak jenang, dll. Begitu juga dunia. Dunia yang besar ini tidak mungkin kita gerakkan sendiri. Butuh semua elemen (kerja sama) untuk bergerak. Bergerak sesuai dengan ajaran-Nya, mengaplikasikannya. Sekecil apapun itu.

 

Posting Komentar