TNT 1000 Guru Banten di SDN Pulau Tunda
Table of Contents
02/05/2018
Alhamdulillah dikasih
kesempatan lagi sama Allah buat mengarungi karya-Nya, buat mensyukuri
nikmat-Nya. Kali ini lewat 1000 Guru Banten. Di SDN Pulau Tunda, Ds. Wargasara,
Kec. Tirtayasa, Serang-Banten. Serang? Wah, langsung yang kebayan masa-masa
SMP-SMA. Udah menempuh pendidikan di serang 6 tahun, baru tau ada pulau ini.
Dah emang bener-bener kaya banget dah Indonesia mah. Lagi lagi Daniel Manantha
bener banget, DAMN I LOVE INDONESIA!
Bermula di meeting
point, stasiun rangkasbitung menuju stasiun karangantu. Untuk pertama kalinya
ke Serang naik kereta api. Cukup dengan Rp 3.000 udah dapet tiket kereta
ekonomi tanpa seat. Gak seberapa jauh, hanya ditempuh dalam waktu 1 jam 8
menit. Tapi entah kenapa si kereta tiba-tiba listriknya padam dan bergerak maju
mundur macam Syahrini.
Sesampainya di Karangantu, kami masih harus menunggu
angkot dateng yang akan membawa kami ke dermaga. Mayan lama, sampe sempet
numpang kamar mandinya mba mba indomaret. Singkat cerita kami udah di kapal,
Alhamdulillah perjalanan ke pulau tunda lewat kapal ini hanya 2 jam. ¼ kali lebih cepat dibandingkan ke pulau sabbakattan kemarin.
Gak mabuk, tapi hampir masuk angin gara-gara anginnya
MasyaAllah. Kapal yang menghantar kami juga bagus, mungkin karena pulau tunda
itu udah dijadikan pulau pariwisata kali ya, aku bisa baring di atas decknya.
Sampe sampe masih malam, jadi gelap. Pertama kali nginjakkan kaki di pulau ini,
Alhamdulillah sudah pavingan, dermaganya juga sudah beton. Beda dengan di
sabbakattan, yang Alhamdulillah dermaganya dari kayu, potoable deh dermaganya.
Jalannya pun masih asri berpasir, layaknya pantai-pantai. Kita langsung menuju
rumah Pak kepala desanya. Kalau yang lain masih melek nyiapin teaching buat
besok, entah kenapa aku tepar banget. Langsung gelar sleeping bag dan zzzzz.
Keesokan paginya,
kegiatan mengajar pun dimulai. Dimulai dengan upacara bendera, dilanjut dengan tepuk
semnagat. Seneng banget rasanya bisa tepuk semangat sambil loncat girang gitu.
Hehe. Dan berlanjut ke kelas masing–masing. Aku bersama dua volunteer lainnya di
kelas 2. Ada Kak Eko dan Kak Dina. Tema kali ini di kelas 2 adalah
memperkenalkan anggota keluarga.
Kami memulai kelas dengan doa yang dipimpin oleh
salah satu dari mereka, wuih gilak... semangatnya langsung kerasa, keras kali
suara mereka. Kami pakai media pohon keluarga. Adik-adik mengisi nama keluarga
mereka. Banyak yang bingung ngisinya, oh ternyata tak sesimpel itu ya
menjelaskan mengenai keluarga.
Saat Kak Eko dan Kak Dina berbicara di depan,
aku berkeliling mengitari mereka. Bertanya dan memantau pohon keluarga mereka.
Hingga aku bertemu dengan Ajat, murid lelaki kelas 2 yang mengingatkan aku akan
buku yang berjudul Totto-Chan, Gadis Cilik di Jendela. Kenapa? Sebab buku itu
yang terakhir aku baca sebelum TnT kali ini.
Di buku itu menceritakan
bagaiamana seorang guru mendidik muridnya. Salah satunya yang seperti Ajat ini.
Entah nama penyakitnya apa yang diderita Ajat ini, yang jelas tangan kanannya
menekuk. Jadi kalau Ajat nulis pakai tangan kiri. Pun ternyata gak cuman itu.
Ketika aku suruh dia maju, lagi-lagi Ajat menunjukkan kespesialannya. Jalannya
tak seperti anak biasanya, ia membentuk lengkungan. Ia yang harus aku bimbing
ketika maju ke depan hingga akhirnya pun aku yang bercerita tentang keluarganya
yang aku tak tau itu betul atau tidak. Tapi ketika Kak Eko memberikan coklat
karena keberaniannya untuk maju, spontan Ajat langsung tersenyum senang. Anak
kecil ooooh anak kecil.
Ada lagi anak kelas ku,
namanya Nila. Dari dia aku tau kalau orang-orang di Pulau Tunda ini menyebut
sekolah ku (Nurul Fikri) adalah pondok di DARAT. Pertama kali dengernya heran
banget, emangnya pulau ini bukan daratan apa yak. Hehe. Dia yang aku bingung
gimana lagi memahamkan kalau semua yang didapat itu sama aja. Iya, dari 1000 guru Banten ada kasih anak-anak tas dan isi yang berbeda-beda. Ada yang krayon ada yang pensil warna. Tapi si Nila
bersih kukuh minta tuker krayon yang dia dapet dengan pensil warna. Aku bilang
A, di jawab B. Aku bilang C, dijawab D. Sampe-sampe aku ngomong ke Nila untuk
mencoba menukarkannya dengan temannya. Dan tau? Dengan suara kecilnya itu ia
coba, ia beranikan diri untuk bertanya kepada temannya agar mau bertukar dengan
krayonnya. Tapi tetep gak berhasil. Dan akhirnya Nila diam, berusaha meneriama
apa yang ia terima. Semoga bermanfaat ya adik ku.
Ada lagi kelakuan
anak-anak keas 2 ini, sesederhana itu mereka bahagia, tersenyum, tertawa, dan
sesederhana itu pula tiba-tiba mereka berantem dorong-dorongan dengan kelas
lain. KELAS LAIN! Sampai menggenang air mata salah satu mereka. Entah apa yang
memicu pertengkara itu. Apa yang aku lihat dari mereka? Mereka anak-anak yang
masih harus terus belajar, apalagi masalah akhlaq.
Anak-anak masih ada yang
pipis sembarangan. Denger-denger kamar mandi sekolah ini angker, jarang ada
yang make akibat sebuah tragedi. Mungkin karena itu kali ya dia pipis
sembarangan. Kalau mau ke kamar mandi biasanya malah menumpang di rumah warga
terdekat. Pantesan, pas aku ke kamar mandinya, kayak udah gak kerawat gitu
bangunan kamar mandinya. Haha.
Anak-anak juga masih belum bisa buang sampah
pada tempatnya. Tapi mereka masih mudah untuk diingatkan, dapat dilihat ketika
mereka berebutan ingin mendapatkan tas, aku pun bilang kalau semua bakalan
dapet dan kalau ngantri terakhir itu pahalanya banyak karena mereka udah sabar.
Dan yak, mereka mau dan tersenyum berbaris. Terimakasih ya adik ku.
Dikelas 2 ini mereka
menjadi penonton pertamaku bercerita. Ya, untuk pertama kalinya aku menggunakan
metode bercerita di depan kelas. Awalnya ragu bakal ada waktu untuk bercerita
apa nggak. Dan ternyata waktu terasa begitu lama bersama mereka. Alhasil
akhirnya akupun bercerita dengan peraga gambar yang kemarin pagi digambar sama
Yayan. Cerita yang diambil dari bukunya Kak Bimo tentang tema profesi. Ku baca
berulang kali selama perjalanan dari rumah ke Serang untuk memantapkan alur.
Hehe, hasil akhirnya aku serahkan sama Allah. Terimakasih ya adikku sudah mau
mendengarkan bercerita pertama ku.
![]() |
| ulat bulu dari ilalang |
![]() |
| tampak belakang |
Di 1000 Guru Banten ini
aku bertemu dengan anak-anak yang kreatif. Tak perlu barang A untuk bermain B.
Cukup melihat sekitar dan inajinasi berkelana mengubah alam menjadi permainan.
Kayak sore itu ketika perjalanan kami melihat sunset di pantai utara. Tiba-tiba
ada adik yang memanggil kakak di belakangku dan tiba-tiba si kakak menjerit. Si adik membawa ulet bulu! Wkwkw, aku penasaran sama ulet bulu yang dipegang si adiknya.
Akhirnya aku pun
berbalik dan bertanya ke adiknya, “ulet bulunya panjang banget”. Masih dengan
gaya sok cool, aku masih pantengin si ulet bulu. Pokoknya mah asal si ulet
bulunya gak nempel di aku, aku bakal fine-fine aja. Tapi ternyata itu ulet bulu
palsu! Si adik ini ngambil ilalang buat dijadiin ulet bulu. Biasanya kan
laba-laba, uler, kecoa plastik yang buat nakut-nakuti orang. Tapi disini, di
Pulau Tunda, mereka dengan imajinasinya mengubah alam menjadi sesuatu yang
menarik.
![]() |
| main batu melompat di atas air |
![]() |
| pasirnya minum air katanya |
Pas sampai di pantai pun mereka mengambil batu dan meleparkannya ke
pantai. Lihat, batu siapa yang bisa lompat berkali-kali di atas air. Lalu
tiba-tiba ada adik, yang aku perhatikan ia sedang main botol marjan yang berisi
air dan ditengkurepkan, berkata “Pasirnya minum air”. Seketika ku terdiam, Ya
Allah... Alam-Mu mengajarkan begitu banyak hal. Banyak media pembelajaran yang
dapat digunakan dengan alam-Mu yang membentang luas di Pulau Tunda ini.
![]() |
| say cheese! |
Siang berganti malam,
kami berkumpul di lapangan sekolah. Kalau di Sabbakatan aku dibuat kagum
menyebut nama-Nya oleh taburan bintang yang hanya jepretan mata ini yang dapat
menangkap memori indahnya, di Pulau Tunda ini aku ganti ditemani bulan yang
sedang memasuki fase bulan sempurna. Ia bulat bening indah... Bagaikan ada
lampu ketika lampu sudah tak lagi menyala di Pulau Tunda. Canda tawa menghiasi
malam itu dengan hangatnya api unggun. Kemudian aku lanjut istirahat.
Esoknya dilanjut dengan
travelling. Naik kapal dari dermaga tempat kita turun sampai ke pantai utara
yang kemarin kita lihat sunset. Koralnya agak jauh di dalam, perlu menyelam
sedikit baru nampak. Tak banyak yang bisa aku ceritakan dari kehidupan bawah
lautnya. Yang jelas di travelling kali ini untuk pertama kalinya aku belajar
sekilas menggunakan fin, si kaki katak. Jadi pengen belajar nyelam.






Posting Komentar