Memaknai Sabar

Table of Contents
17/09/2017

Terlalu sayang untuk tidak ditulis kembali. Aku mau menulis tentang makna diriku. Haha. Tentang “SABAR”. Kebetulan hari ini membahas kitab riyadus shalihin bab SABAR. Disampaikan oleh ustadz Mudzofar pada agenda kajian rutin minggu pagi di SDIT Al-Uswah. 

Sabar itu ibarat kunci dari semua bab yang ada di riyadus shalihin. Contohnya taubat, orang yang tidak sabar akan ujiannya adalah orang yang susah untuk taubat. Atau ikhlas, kalau orang yang gak sabar gak bakal bisa ikhlas. Sabar itu pemberian/karunia Allah terbaik. Karena ia pemberian, maka kita harus berdoa meminta kesabaran. Tapi tak serta merta kita hanya duduk manis menanti pemberian Allah. Sebab Allah memberi pada yang berhak, bukan hanya ditunggu. Orang-orang yang berhak ialah orang yang mengimani dan meyakini bahwa rizki itu dari Allah. Ialah orang-orang yang punya kapasitas, ada mentalitas bahwa kita pantas diberi. Ialah orang yang bermujahadah (bersungguh-sungguh). Bersungguh-sungguh dalam usaha sebagai bentuk pembuktian. Selain usaha, kita juga harus doa untuk meminta kesabaran. Ini semacam quote yang udah sering didenger kalau usaha + doa = sukses. Yap, kombinasi antara keduanya memang berbuah.

Sehingga kita harus berusaha selalu mengenal diri kita. Perlu mengenal dibagian mana umumnya kita tidak sabar. Perlu perlakuan khusus. Perlakuan sealu peka dan bersifat antisipatif dari celah kelemahan kita, celah yang dapat memicu kelemahan kita. Dan pastinya usaha yang terus menerus untuk menguatkan kesabaran.

Sabar itu ada batasnya, jika memang segitu batas kemampuan kita untuk sabar dan ketika sabar yang dilakukan udah gak benar. Ada akibat negatif yang ditimbulkan. Sabar itu juga tanpa batas, dengan asumsi kita tetap mampu bersabar dan dabarnya masih proporsional. Jika kita memang masih bisa bersabar ya teruskan, jika Allah masih kasih kesempatan.
Sabar itu ada jenis-jenisnya,
  1. Sabar dalam keimanan
  2. Sabar dalam istiqomah ketaatan
  3. Sabar dalam meningglkan, menjauhi kemaksiatan
  4. Sabar dalam musibah dan ujian : 
    Ujian itu ada 3 tingkat. Ujian kehidupan umum yang semua pasti diuji, baik yang beriman maupun yang tidak. Ujian keimanan, hanya khusus orang beriman. Jadi jangan heran kalau orang beriman itu lebih berat ujannya, mak jleb ya. Langsung mikir, ujian ku ini berat apa ringan ya. Sudahkah aku termasuk orang-orang yang beriman? Dan yang terakhir itu ujian perjuangan. Ujiannya para pejuang, para rasul, para nabi, para pewaris rasul, para ulama. Dan ujian disini mencakup ujian kenikmatan maupun keburukan.

    Dengan sedikit perenungan akan banyak nikmat Allah, dia akan sadar bahwa yang ia butuhkan saat itu adalah bersyukur/bersabar. Terhadap musibah (keburukan), kuatkan sifat syukur untuk bersabar. Perkuat ingatan betapa banya kenikmatan yang Allah limpahkan kepada kita, masih jauh lebih banyak yang Allah pertahankan kepada kita ketimbang yang Allah ambil (mak jleb). Disamping itu, muhasabah lah. Barangkali kenikmatan yang diambil ini belum dimanfaatkan dengan benar. Sedangkan dalam ujian kenikmatan hendaknya kita bersabar untuk mempertanggungjawabkannya kelak di akhirat. 
  5. Sabar khusus :
    Sabar yang tergantung dari kelemahan diri tiap individu, karena masing-masing orang berbeda. Kayak aku kalau udah nonton drakor bakal melalaikan segalanya T.T
Sudah sejauh mana usahamu untuk sabar? Tarik nafas...

Posting Komentar