TNT 1000 Guru Banten di MI Al-Khoiriyah

Table of Contents
16-18/11/2018
Kelas 1!!

Tim Kelas 1 (Kiri: Kak Winda, Kak Ferly, Aku)

Alhamdulillah dikasih kesempatan lagi sama Allah buat nelusuri mahakarya-Nya, mengarungi karya-Nya, buat mensyukuri nikmat-Nya, buat nyari mutiara kecil di pedalaman lewat teaching and travelingnya 1000 guru Banten, yang ada badaknya. Kali ini lokasi mengajarnya bertempat di Kp. Baru, Ds. Waringin Jaya, Kec. Cigeulis, Kab. Pandeglang-Banten. MI Al-Khoiriyah. Dan entah kenapa setiap TnT yang diikuti selalu menjadi yang pertama, iya kali ini TnT 11 1000 Guru Banten pertama tepat setelah sidang tugas akhir yang penuh drama. Sampai-sampai keberangkatan dari Surabaya hingga meeting point (mepo), alun-alun Rangkasbitung, pun juga drama.

Gak ekspektasi apa-apa tentang lokasi teachingnya, karena dari awal sudah diberi tau kalau sekolah yang didatangi begitu bentuknya (nanti kita ceritakan). Dan gara-gara sekolah itu pula aku daftar TnT kali ini. Aku pengen merasakan suasana sekolah dengan bangunan seperti itu. Akankah pendapat ku berubah tentang gedung sekolah sebagai sarana penting untuk menunjang pendidikan? Dan dari sini awal mula cerita ku.

Berawal dari pengumam kelolosan itu, pembentukan grup, dan akhirnya pengelommpokkan mengajar. Alhamdulillah tim ku terdiri orang-orang yang hebat, Kak Winda, Kak Ferly, dan aku. Dan ternyata kami semua punya 1 latarbelakang yang sama, sama-sama belum lulus kuliah. Kami dapat kelas 1 SD dengan tema keluarga. 

Iya, dengan tema yang sama yang aku sampaikan pada saat TnT ke 9 1000 Guru Banten di SDN Pulau Tunda dengan tim hebat yang berbeda dan jenjang kelas yang berbeda. Tapi dari situ aku belajar banyak, mengevaluasi diri, dan selalu merasa tidak maksimal mengajar (ini terjadi tiap TnT, haha). 

Oleh karena itu harapannya kali ini gak boleh terulang kayak kemarin, harus lebih baik. Batinku. Jadilah di grup terbentuk sebuah rumusan sederhana terkait apa yang hendak dilakukan dalam kelas. Kurang lebih kami maunya gini,

Lesson Plan – Materi “Keluargaku”
  1. Perkenalan kakak volunteer dengan adik-adik (10 menit).
  2. Pendahuluan materi dan menyampaikan peran ibu, ayah, kakak/adik dalam keluarga (20 menit).
  3. Membuat bagan keluarga masing-masing anak (20 menit). PJ: Winda
  4. Ice breaking (10 menit). Nari hoki poki. PJ: Winda.
  5. Mendongeng (30 menit).
  6. Games mencocokkan peran dengan anggota keluarga atau tanya jawab tentang dongeng. PJ: Shobrina.
  7. Menyanyikan lagu bertema keluarga (5 menit).
  8. Mengisi pohon cita-cita (10 menit).
  9. Persiapan games outdoor  dan penutup pengajar (5 menit). Dimana games outdoor terdiri dari oper sarung, panjang-panjangan, ganjil genap.

Semua sudah kami persiapkan hingga kami, 18 relawan, berangkat dari alun-alun Rangkasbitung jam 23.00 dengan mobil panther dari komunitas panther mania. Sesampainya di lokasi jam 02.00 kalau gak salah. Perjalanannya? Gonjang ganjing bumi bulat. Berangkat dari mepo masih bagus jalannya tapi pas mau masuk desanya jalanannya sudah mulai gak karuan. Gak seberapa ingat juga sih, sebab sambil tidur ngebayanginnya. Kebangun karena kepentok. 

Jalanan menuju desanya tidak beraspal, masih tanah yang kalau hujan turun ngebuat sepatu flat jadi berhak. Gak nanggung-nanggung masuk menuju sekolah dengan kondisi jalan seperti itu tidak sebentar. Naik, turun, belok, batu, tanah... Mobilnya pun sampai bergoyang mengikuti irama jalan. Dan Alhamdulillah sampai ke lokasi. Gelap. Mobil di parkir di halaman sekolah yang luas untuk 8 mobil panther. 

Kamipun menuju lokasi peristirahatan, tapi berhubung panitia belum memegang kunci tempat peristirahatan, kami pun langsung menuju tempat berkah. Dimana? Dimana lagi kalau bukan di masjid. Beberapa relawan langsung mencari posisi merebahkan dirinya tapi ada juga beberapa relawan ada yang masih melanjutkan perlengkapan untuk teaching nanti paginya, termasuk saya yang belum kelar potong-potong. 

Oh iya setibanya di lokasi mataku langsung menghadap ke atas berharap ada bintang bertabur bak ketombe. Dan yaaaak banyak bintang masyaAllah. Kemudian kami cari kamar mandi, biasanya kan ada masjid ada toilet ya. Ini ada sih bangunan kecil gitu disebelah masjid, tapi gak tau itu kamar mandi bukan dan gak ada yang ngecek. Haha. Entah gimana pokoknya pas aku dan Kak Winda lagi mau cari-cari kamar mandi ada panitia yang bilang di rumah itu aja (smabil nunjuk sebuah rumah). 

Langsung kami kesana dan eng ing eng. Hehe. Kamar mandinya semacam empang tapi cuma setengah badan. Jadi mau jongkok atau berdiri pun keliatan. Dan kalau empang kotorannya langsung nyebur ke kali, ini entah kemana air itu mengalir. Yang jelas ke bawah. Langsung nggak jadi buang air kecil aku. Walaupun malam sih yak, tapi entah lah. Gak kebelet juga. Akhirnya cuma wudhu.


Tempat wudhu yang dikira kamar mandi

Ruang Guru dan Perpustakaan

Jam demi jam berlalu, dan ternyata bangunan di sebelah masjid itu bisa buat buang air kecil walaupun gak ada klosetnya. Lumayan lah, tertutup. Eh tapi pas azan subuh berkumandang, banyak orang antre baris disana. Eh dipake wudhu juga ternyata. Hmmm, haha. Setelah solat subuh ngapain? Macem-macem, ada yang tidur, ada yang jalan-jalan menikmati pagi desa waringin jaya.

 

Untuk pertama kalinya aku melihat langsung wujud bangunan sekolahnya, masih belum terpikirkan apa-apa sebab aku langsung jalan-jalan pagi. Hingga tibalah saatnya kami ganti baju 1000 Guru Banten untuk kegiatan teaching kami, iya ganti baju tanpa mandi. Ganti baju di sekolah, “Bisa disini atau disini kak gantinya” kata seorang teman. Aku pun menuju ruang guru, ku buka pintu dan langsung membatin ‘LASKAR PELANGI’. Ruang gurunya mirip ruangnya para guru di laskar pelangi. Ku perhatikan sekitar, dinding beton, lantai beton, plafon anyaman bambu. Ruang guru ini juga termasuk perpustakaan didalamnya.


Halo yang disana

Kata bu guru daerah sini memang sedikit sekali yang punya kamar mandi tertutup. Katanya kalau buang air besar ya buang aja gitu, pun mandi. Pake lilitan kain aja gitu. Hmm.. Dan ternyata ibunya ini juga pendatang. Iya, sebab sebelum sekolah ini ada, anak-anak banyak yang gak sekolah karena adanya sekolah negeri tapi jauh. Karena jarak tersebut, akhirnya mereka memutuskan untuk tidak sekolah. Setelah sekolah ini dibangun, anak-anak sekolah disini.

 

Letak sekolah ini di tengah-tengah, meskipun ada yang rumahnya jauh, mereka tetap berjuang agar bisa sekolah di sini. Murid di sekolah ini cukup banyak, 128 murid (Kak Winda, ku pinjam beberapa kalimat rangkaian mu ya). Jadi ibunya pas awal datang ke sini juga kayak kita, beradaptasi dengan kondisi yang tidak biasa. Memang ya, ada >1001 niat dan aksi untuk selalu berbuat baik.            

Main Ular Naga Panjangnya, semoga adekknya gak kebauan ketek kita ya Kak Wind.. Haha.

Raut wajah bahagia mereka kala bermain <3 td="">

Suasana Kelas saat Pembelajaran, ini belum semua murid kelas 1 lho

Aku dan Revan

Berganti pakaian tanpa bersih diri dilanjutkan dengan makan bersama sebelum memulai kegiatan mengajar. Kegiatan mengajar diawali dengan baris di lapangan sekolah untuk pembukaan, perkenalan, sekaligus senam. Kemudian kami masuk kelas kami masing-masing memulai kegiatan belajar kami. Untuk pertama kalinya megang kelas 1. Ketika baru masuk kelas, salah satu anak ada yang nangis. Ditinggal sama yang nganterin dia sekolah. Jadi dia belum bisa ditinggal.

 

Ada lagi yang nangis karena berantem gak mau baikan sampe dibujuk biar baikan. Bukan cuma itu, ada yang headtag, kertas pohon impiannya disimpan di tas gak mau dipake atau ditempel. Ada juga yang diajak baris dan foto gak mau, maunya duduk aja di dalam kelas.

 

Ada lagi yang seragamnya dibuka pas lagi belajar. Ada yang ditengah-tengah pengajaran minta izin ke kantin. Haha. Dengan semua adegan itu, kami bertiga coba bujuk. Well done. MasyaAllah... yang tadinya pada gak excited, diem, rusuh, sampe pada akhirnya diajak berinteraksi dan mereka mau aja disuruh ikutin gaya foto kakaknya yang absurd (Kak Winda, ku pinjam beberapa kalimat rangkaian mu lagi ya).

 

Tapi yang aku pelajari dari anak usia mereka adalah ketika kita bisakan hal yang baik ke mereka, insyaAllah mereka akan mengikuti hal baik tersebut dengan mudahnya. Dengan senangnya. Mudah sekali. Seperti halnya ketika mereka makan, aku minta tolong kalau habis makan tidak buang sembarangan. Dan yak, dengan mudahnya mereka bergerak. Aku terharu :’) Tapi ada yang bikin aku merasa bersalah lagi nih sama mengajarnya :’( ekspektasi kami ke mereka terlalu tinggi. Dikira kelas 1 itu sudah pandai menulis, sudah pandai membaca, aktif, dsb.

 

Tapi nyatanya apa-apa yang kami rencanakan untuk disampaikan ada yang tidak disampaikan, diganti oleh yang lain. Nyatanya kebanyakan mereka masih belum bisa menulis, jadi pas sesi buat pohon keluarga pada bingung nulisnya. Kami pun keliling untuk membantu. Dan entah kenapa kalau ditanya keluarganya kok rada lama yak jawabnya. Apa gegara aku orang baru buat mereka? Sepertinya begitu ya. Games yang ku siapkan pun tak jadi dimainkan, sebab mereka belum bisa baca. Duh saya jadi merasa bersalah sebab tidak bisa maksimal menyampaikan apa yang seharusnya disampaikan. Tapi secara umum mereka sudah paham apa tugas ibu, ayah, dan dirinya. Begitulah, rencana Allah emang selalu lebih indah.

 

Setelah belajar di dalam kelas dan menempel pohon impian, saatnya untuk belajar di luar kelas alias main. Lagi-lagi, karena melihat kondisi murid kelas 1 akhirnya kami memutuskan untuk tidak memainkan games yang sudah kami rencanakan sebelumnya. Berpikir games apa yang akan kami mainkan. Muncullah ‘ular naga panjang’.

 

Aku dan Kak Winda jadi terowongannya, Kak Ferly kepala ularnya. Wow panjang banget ternyata. Ini kapan selese ngelompokinnya ya, dah mulai aja dulu shob, batinku. Permainan kami mulai dengan lagu naik kereta api, putaran demi putaran lancar sesuai aturan permainan hingga putaran ke 5 kami memutuskan untuk menanyakan saja pada tiap anak mau masuk kelompok apel atau anggur. Dan kehebohan dimulai, keseruan dimulai...

 

Menangkap si ekor ular naga musuh dengan harus tetap waspada. Lari ke kanan, ke kiri, teriak, dan hap! Mulai lagi berlari ke kanan, ke kiri, teriak, hingga aku sebagai kepala kelompok anggur terjatuh kali ini. Dan Kak Winda berhasil menangkap ekor ular naga kelompok anggur. “Masih mau main lagi?”, ku bertanya pada mereka dengan napas terengah-engah. “Mauuuu”, jawab mereka dengan semangatnya. Wkwkwkw, begitulah anak-anak dimana pun ya. Tak pernah lelah untuk bermain. Akan sangat bagus memang ya belajar sambil bermain itu. Jangan kan anak kecil, saya aja masih suka kok bermain sambil belajar. Belajar sambil bermain.

 

Setelah puas kami bermain, sesinya motivasi. Biasanya 1 relawan pegang 3 murid, tapi sesi motivasi kali ini kami lakukan serentak bersama-sama di dalam kelas yang dilanjutkan dengan pembagian tas. Mereka tampak bahagia. Kalau kata Kak Inez, “Pendidikan bukanlah milik mereka yang kaya, bukan pula kekuatan mereka yang cerdas. Pendidikan milik mereka yang mau belajar, mencari kebenaran, menemukan kekuatan, dan membawa perubahan”. Dan kalau kata Kak Rifqi, “It’s the teacher that makes the difference, not the classroom. Keep the spirit guys. Children are not only innocent and curious but also optimistic and joyful and essentially happy. They are, in short, everything adults wish they could be”.

 

Sedikit lagi cerita dari ibu guru yang mengajar di MI Al-Khoiriyah ketika lagi-lagi kami bertanya tentang sekolah ini. Kata beliau, “Kita mah ada murid tetetp ngajar. Kadang murid yang ngampirim (sebab sekalian ngelewatin rumah bu guru).”, ketika ditanya kalau hujan sekolahnya gimana. Beliau bercerita juga kalau beliau gak pernah bawa rotan ke kelas, takut kebablasan katanya. Iya kebablasan untuk hal yang tidak seharusnya. Lha kenapa? Bingung saya. Iya, sebab dinding (anyaman) ini sering dibuat main. Jadi dari kelas sebelah ada yang masukin lidi lewat tuh dinding anyamannya dan di tarik lah sama anak kelas 1. Ibu gurunya mah cuma takut kenapa-kenapa gitu sama si muridnya. Duh memang ya, guru itu orang tua kedua.

 

Sekali lagi terimakasih banyak ya Allah atas jalanmu dalam memberikan ku begitu banyak pelajaran. Iya, melalui 1000 Guru Banten. Menebar aksi bebagi inspirasi untuk pendidikan anak negeri.


2 komentar

Comment Author Avatar
16 Februari 2022 pukul 19.09 Delete
Mohon maaf, saya ingin bertanya. Apakah memiliki kontak sekolah ini?
Comment Author Avatar
12 Maret 2022 pukul 20.47 Delete
Maaf, saya tidak punya kontak sekolahnya. Tapi bisa saya bantu hubungkan dengan 1000 guru banten.