TNT 1000 Guru Banten di MI Al-Khoiriyah
| Kelas 1!! |
![]() |
| Tim Kelas 1 (Kiri: Kak Winda, Kak Ferly, Aku) |
- Perkenalan kakak volunteer dengan adik-adik (10 menit).
- Pendahuluan materi dan menyampaikan peran ibu, ayah, kakak/adik dalam keluarga (20 menit).
- Membuat bagan keluarga masing-masing anak (20 menit). PJ: Winda
- Ice breaking (10 menit). Nari hoki poki. PJ: Winda.
- Mendongeng (30 menit).
- Games mencocokkan peran dengan anggota keluarga atau tanya jawab tentang dongeng. PJ: Shobrina.
- Menyanyikan lagu bertema keluarga (5 menit).
- Mengisi pohon cita-cita (10 menit).
- Persiapan games outdoor dan penutup pengajar (5 menit). Dimana games outdoor terdiri dari oper sarung, panjang-panjangan, ganjil genap.
![]() |
| Tempat wudhu yang dikira kamar mandi |
![]() |
| Ruang Guru dan Perpustakaan |
Jam demi jam berlalu, dan ternyata bangunan di sebelah
masjid itu bisa buat buang air kecil walaupun gak ada klosetnya. Lumayan lah,
tertutup. Eh tapi pas azan subuh berkumandang, banyak orang antre baris disana.
Eh dipake wudhu juga ternyata. Hmmm, haha. Setelah solat subuh ngapain?
Macem-macem, ada yang tidur, ada yang jalan-jalan menikmati pagi desa waringin
jaya.
Untuk pertama kalinya aku melihat langsung wujud bangunan
sekolahnya, masih belum terpikirkan apa-apa sebab aku langsung jalan-jalan
pagi. Hingga tibalah saatnya kami ganti baju 1000 Guru Banten untuk kegiatan
teaching kami, iya ganti baju tanpa mandi. Ganti baju di sekolah, “Bisa disini
atau disini kak gantinya” kata seorang teman. Aku pun menuju ruang guru, ku
buka pintu dan langsung membatin ‘LASKAR PELANGI’. Ruang gurunya mirip ruangnya
para guru di laskar pelangi. Ku perhatikan sekitar, dinding beton, lantai
beton, plafon anyaman bambu. Ruang guru ini juga termasuk perpustakaan
didalamnya.
![]() |
| Halo yang disana |
Kata bu guru daerah sini memang sedikit sekali yang punya
kamar mandi tertutup. Katanya kalau buang air besar ya buang aja gitu, pun
mandi. Pake lilitan kain aja gitu. Hmm.. Dan ternyata ibunya ini juga
pendatang. Iya, sebab sebelum sekolah ini ada, anak-anak banyak yang gak
sekolah karena adanya sekolah negeri tapi jauh. Karena jarak tersebut, akhirnya
mereka memutuskan untuk tidak sekolah. Setelah sekolah ini dibangun, anak-anak
sekolah disini.
![]() |
| Main Ular Naga Panjangnya, semoga adekknya gak kebauan ketek kita ya Kak Wind.. Haha. |
![]() |
| Raut wajah bahagia mereka kala bermain <3 td="">3> |
| Suasana Kelas saat Pembelajaran, ini belum semua murid kelas 1 lho |
| Aku dan Revan |
Berganti pakaian tanpa bersih diri
dilanjutkan dengan makan bersama sebelum memulai kegiatan mengajar. Kegiatan
mengajar diawali dengan baris di lapangan sekolah untuk pembukaan, perkenalan,
sekaligus senam. Kemudian kami masuk kelas kami masing-masing memulai kegiatan
belajar kami. Untuk pertama kalinya megang kelas 1. Ketika baru masuk kelas,
salah satu anak ada yang nangis. Ditinggal sama yang nganterin dia sekolah.
Jadi dia belum bisa ditinggal.
Ada lagi yang nangis karena
berantem gak mau baikan sampe dibujuk biar baikan. Bukan cuma itu, ada yang
headtag, kertas pohon impiannya disimpan di tas gak mau dipake atau ditempel.
Ada juga yang diajak baris dan foto gak mau, maunya duduk aja di dalam kelas.
Ada lagi yang seragamnya dibuka pas
lagi belajar. Ada yang ditengah-tengah pengajaran minta izin ke kantin. Haha.
Dengan semua adegan itu, kami bertiga coba bujuk. Well done. MasyaAllah... yang
tadinya pada gak excited, diem, rusuh, sampe pada akhirnya diajak berinteraksi
dan mereka mau aja disuruh ikutin gaya foto kakaknya yang absurd (Kak Winda, ku
pinjam beberapa kalimat rangkaian mu lagi ya).
Tapi yang aku pelajari dari anak
usia mereka adalah ketika kita bisakan hal yang baik ke mereka, insyaAllah
mereka akan mengikuti hal baik tersebut dengan mudahnya. Dengan senangnya.
Mudah sekali. Seperti halnya ketika mereka makan, aku minta tolong kalau habis
makan tidak buang sembarangan. Dan yak, dengan mudahnya mereka bergerak. Aku
terharu :’) Tapi ada yang bikin aku merasa bersalah lagi nih sama mengajarnya
:’( ekspektasi kami ke mereka terlalu tinggi. Dikira kelas 1 itu sudah pandai
menulis, sudah pandai membaca, aktif, dsb.
Tapi nyatanya apa-apa yang kami
rencanakan untuk disampaikan ada yang tidak disampaikan, diganti oleh yang
lain. Nyatanya kebanyakan mereka masih belum bisa menulis, jadi pas sesi buat
pohon keluarga pada bingung nulisnya. Kami pun keliling untuk membantu. Dan
entah kenapa kalau ditanya keluarganya kok rada lama yak jawabnya. Apa gegara
aku orang baru buat mereka? Sepertinya begitu ya. Games yang ku siapkan pun tak
jadi dimainkan, sebab mereka belum bisa baca. Duh saya jadi merasa bersalah
sebab tidak bisa maksimal menyampaikan apa yang seharusnya disampaikan. Tapi
secara umum mereka sudah paham apa tugas ibu, ayah, dan dirinya. Begitulah,
rencana Allah emang selalu lebih indah.
Setelah belajar di dalam kelas dan
menempel pohon impian, saatnya untuk belajar di luar kelas alias main.
Lagi-lagi, karena melihat kondisi murid kelas 1 akhirnya kami memutuskan untuk
tidak memainkan games yang sudah kami rencanakan sebelumnya. Berpikir games apa
yang akan kami mainkan. Muncullah ‘ular naga panjang’.
Aku dan Kak Winda jadi terowongannya,
Kak Ferly kepala ularnya. Wow panjang banget ternyata. Ini kapan selese
ngelompokinnya ya, dah mulai aja dulu shob, batinku. Permainan kami mulai
dengan lagu naik kereta api, putaran demi putaran lancar sesuai aturan
permainan hingga putaran ke 5 kami memutuskan untuk menanyakan saja pada tiap
anak mau masuk kelompok apel atau anggur. Dan kehebohan dimulai, keseruan
dimulai...
Menangkap si ekor ular naga musuh
dengan harus tetap waspada. Lari ke kanan, ke kiri, teriak, dan hap! Mulai lagi
berlari ke kanan, ke kiri, teriak, hingga aku sebagai kepala kelompok anggur
terjatuh kali ini. Dan Kak Winda berhasil menangkap ekor ular naga kelompok
anggur. “Masih mau main lagi?”, ku bertanya pada mereka dengan napas
terengah-engah. “Mauuuu”, jawab mereka dengan semangatnya. Wkwkwkw, begitulah
anak-anak dimana pun ya. Tak pernah lelah untuk bermain. Akan sangat bagus
memang ya belajar sambil bermain itu. Jangan kan anak kecil, saya aja masih
suka kok bermain sambil belajar. Belajar sambil bermain.
Setelah puas kami bermain, sesinya
motivasi. Biasanya 1 relawan pegang 3 murid, tapi sesi motivasi kali ini kami
lakukan serentak bersama-sama di dalam kelas yang dilanjutkan dengan pembagian
tas. Mereka tampak bahagia. Kalau kata Kak Inez, “Pendidikan bukanlah milik
mereka yang kaya, bukan pula kekuatan mereka yang cerdas. Pendidikan milik
mereka yang mau belajar, mencari kebenaran, menemukan kekuatan, dan membawa
perubahan”. Dan kalau kata Kak Rifqi, “It’s the teacher that makes the
difference, not the classroom. Keep the spirit guys. Children are not only
innocent and curious but also optimistic and joyful and essentially happy. They
are, in short, everything adults wish they could be”.
Sedikit lagi cerita dari ibu guru
yang mengajar di MI Al-Khoiriyah ketika lagi-lagi kami bertanya tentang sekolah
ini. Kata beliau, “Kita mah ada murid tetetp ngajar. Kadang murid yang
ngampirim (sebab sekalian ngelewatin rumah bu guru).”, ketika ditanya kalau
hujan sekolahnya gimana. Beliau bercerita juga kalau beliau gak pernah bawa
rotan ke kelas, takut kebablasan katanya. Iya kebablasan untuk hal yang tidak
seharusnya. Lha kenapa? Bingung saya. Iya, sebab dinding (anyaman) ini sering
dibuat main. Jadi dari kelas sebelah ada yang masukin lidi lewat tuh dinding
anyamannya dan di tarik lah sama anak kelas 1. Ibu gurunya mah cuma takut
kenapa-kenapa gitu sama si muridnya. Duh memang ya, guru itu orang tua kedua.
Sekali lagi terimakasih banyak ya
Allah atas jalanmu dalam memberikan ku begitu banyak pelajaran. Iya, melalui
1000 Guru Banten. Menebar aksi bebagi inspirasi untuk pendidikan anak negeri.






