Lintasan Pikiran 3
Table of Contents
26/06/2019
- Kali ini posisi pas perjalanan balik dari Geopark Cileteuh, tepatnya di curug kembar, menuju Pelabuhan Ratu. Jalannya berkelok-kelok dengan penerangan lampu jalan yang sangat minim. Bahkan lampu rumah kebanyakan juga gak nyala. Tak jarang juga aku melihat satu dua orang yang sedang berjalan. Iya... Berjalan dalam keadaan gelap. Ada yang memakai alat bantu atau tidak.
Mencelotehlah aku ketika melihat mereka. "Ya Allah itu gimana mereka jalannya ya. Gelap banget." Sontak ibu langsung bilang juga, "mereka kok bisa ya lampunya mati, kita aja yg baru mati lampu 15 menit udah gelagapan..."
Hmmm... iya ya, tetiba lamgsung keinget suku baduy. Di suku baduy mereka gak pake yang namanya listrik, pakenya lampu minyak. Jadi kalau sudah malam bakal gelap gulita. Dan, tidak terlihat tuh adanya keluh kesah karen listrik. Bahkan mereka menjalankan sunnah nabi, langsung tidur dimalam hari kalau sudah tidak ada kegiatan lagi. Biasa aja...
Di Pulau Sabbakatan yang listriknya nyala kalau malem doang dan airnya payau pun bisa hidup kok. Trus tetiba langsung mengambil kesimpulan kalau semua ini tergantung habit, tergantung pembiasaan kita. Its all about habit.
Pun sama dalam mendidik anak, sangat penting sebuah pembiasaan baik. Sebab, terasa juga nih sama aku yang tetiba di rumah tidak terbiasa untuk membantu ibu, akan kagok dan males malesan. Pun dalam dunia yg lebih luas, pembiasaan baik itu sangat penting.
Misalnya, acara-acara telivisi/bacaan/kegiatan/aktivitas lainnya yg edukatif bermanfaat. Menambah 1 pikiran lagi nantinya untuk mendidik anak dgn pembiasaan pembiasaan baik. Tak hanya itu, dari sini juga bisa kita lihat kalau pendidikan itu bukan tugas keluarga saja tapi semua lini. Sebab semua akan bersinggungan, apa lagi dizaman modern kayak gini. Bayangkan aja jika semua punya pembiasaan baik, maka yang akan didapatkan pada generasi selanjutnya adalah pembiasaan-pembisaan baik juga... huhuhu, berat, apalah akuh yg blm punya banyak kebiasaan baik. - Kadang kalau ngedengerin sesuatu tentang Indonesia suka bikim greget. Timbul lagi gregetnya pas kemaren pemilu. Yang pasca itu banyak berita (online, offline, maupun cerita dari yang bersangkutan), entah tewasnya petugas KPPS, hilangnya suara, kecurangan disana dan disini, dan lain sebagaiannya.
Atau ketika mendengar kasusnya Ibu Karen yg dituduh telah merugikan negara karena eksplorasi minyaknya yg gagal. Padahal kata bapak, yang ahli pemboran minyak, eksplorasi gagal itu biasa mi. Dari lima, satu yg gagal itu biasa katanya. Spontan aku kaget ya, oh berarti Indonesia udah bisa ngebor sendiri ya. Tapi kenapa masih byk perusahaan asing Pak? Tanya ku. Trus bapak jawab, ya gak punya modal mi. Lha kok bisa? Dijawab lagi sama bapak klo ternyata katanya pemerintah itu punya utang sama xxxxxxxx 90 triliuanan buat subsidi. Hmmm langsung terdiam... Yah wajar aja gak maju maju...
Setiap ada hal hal yg bikin hati gregetan kayak gitu, selalu mbatin "coba klo semua orang jujur, gak akan tuh banyak KPPS yg meninggal. Gak akan tuh butuh saksi ditiap TPS sampe saksi pas di kecamatan. Gak usah tuh ngegelontorin dana yang begitu besar untuk perlengkapan kotak dan surat suara."
"coba klo semua org jujur, coba klo semua org pikirannya untuk Indonesia. Bukan untuk dirinya sendiri. Coba... Andaikan..." Hmmm...
.jpg)
Posting Komentar