Film

Table of Contents

 15/08/2019

 


Ini harusnya masuk ke random thoughts sih. Sebab ini berawal dari pikiran aku. Sebagai pengingat aja jika nanti ternyata aku khilaf. Cuma karna panjang banget bahasnya jadi aku kasih judul beda aja.

 

Aku yang kalau ditanya hobi ngejawaabnya nonton akhirnya resah. Aku resah. Gelisah. Wkwk. Habis nonton 1 film. Film yang reviewnya aku baca dan aku tonton di salah satu platform bilang punya pesan yang dalam, filmnya jadi juara di sebuah festival, rating yang mereka (pengreview) berikan sungguh memukau (lebih dari 7/10 lah), penangkapan gambar yang bagus, setting yang bagus, digarap sama sutradara yg wow, dan tetek bengek yang lain... Di internet bilang ini film dengan rating D (Dewasa). Ada juga yang bilang ini 17+. Di gotix malah gak ada ya ternyata ratingnya, untuk siapa film ini bisa ditonton. Covernya biasa aja. Tidak menunjukkan ada tanda tanda yang bisa buat aku resah.

 

Kepincut lah saya untuk nonton itu film di bioskop. Sedalem apa si makna filmnya. Iya, gara-gara ini film korea, dengan segala reviewnya yang jos bertebaran dimana mana, aktornya juga ada yang tau (pdhl cma satu, itu pun cma tau mukanya)... Tapi entah kenapa kayaknya Allah gak ngizinin, alam tak mendukung... Ada aja halangannya pas mau nonton. Yang jamnya gak sesuai, yang jam tayangnya cuma sedikit, yang lokasi bioskopnya jauh, yang pas ngecek ada di lokasi terdekat tapi pas mau kesana ternyata udah turun filmnya, yang gak ada yang nemeninlah (soalnya jauh dan malam), yang yang yang...


Berakhirlah gak jadi nonton di bioskop. Hati bergejolak mulu mau nonton. Dengan nafsu P.E.N.A.S.A.R.A.N! Astaghfirullah. Mbatin aja, 'Udahlah Mik, ntr juga keluat di internet. Paling bentar lagi juga keluar di internet.' Gak jarang juga aku ngecekin tuh internet, barangkali udah ada yg nge-upload. Ye gak? Hehe. Dan akhirnya penantian akuh datang kemarin! Langsung dintonton. Hingga sampai pada sebuah bagian yang bikin aku resah... Cma bisa batin, 'Ini seriusan ditontonin? Eh seriusan, gila gila gila. Eh sejelas itu? Kok vulgar bgt sih? Penting bgt apa adegan ini sampe harus dimasukkan?' Batin ku berbicara tapi mata masih nontonin, bukannya ditutup gtu ya.

 

Mungkin ada yang bilang, mereka kan suami istri. Ya gak apa lah gtu. Iya sih suami istri... Tapi in real life apa mereka suami istri beneran? Trus emang harus banget di shoot kayak gtu? Kan ada adabnya juga lho. Ini film yang bakal ditonton... Bukan ruang privasi. Ih gmna syutingnya coba? Gmn coba klo ini yg nonton remaja remaja? Remaja dengan segala kepenasarannya, dengan segala ke ababilannya. Dan yang mana kita tau, bioskop kita (apalagi dunia internet yang tanpa sensor) itu gak ketat. Remaja... Kalau kata siapa ya waktu itu aku dengernya, katanya kalau remaja kita mah kebanyakan nonton film cuma buat entertainment (hiburan) aja, gak di pelajari lagi (diambil hikmahnya maksudnya). Hmmm... Bagaimana? Agak kontras dengan yang digagas (area yang tidak boleh dipegang sembarangan oleh orang. pantat, areal kemaluan, mulut) oleh teman teman untuk mangantisipasi terjadinya pelecehan terhadap anak. Yah emang sih suami istri... Tapi kan... Huft, tak taulah.

 

Dan biasanya tuh kalau di bioskop sebelum mulai filmnya ada tulisan dari lembaga sensor film klo filmnya lolos uji sensor (gtu lah maksudnya). Muncul lagi pertanyaan, "Wahai direksi beserta jajaran lembaga sensor film, apa bapak/ibu beneran ngelolosin nih film? Lulus sensor?". 17+? Seriusan nih 17+ udah bisa memfilter? Aing pun masih belajar ngefilter filter lagi biar gak kebawa. Dewasa? Apa tuh parameter dewasa ya? Apa yang bakal ada di otak mereka ya? Aku aja besok paginya masih kebayang dong. Dari 2 jam film yg masih teringat adegan itu. Lantas, remaja kita apa kabar? Huaa... Aku sedih geh. Sedih dengan diriku sendiri, sedih dengan... :"(

 

Yang kayak gini juara di film festival? Mohon maaf aja sih, emang bener banyak makna dalam film ini, tapi entah kenapa 1 adegan itu ngebuat aku gelisah, menimbulkan banyak pertanyaan, dan menurunkan image ku terhadap film ini. Yang ngebuat aku nge recall film film yang udah pernah aku tonton dengan adegan adegan atau perbuatan yang harusnya tidak ditontonkan. Tapi lama lama jadi pembenaran dalam hati, 'oh adegan kissing, biasa di sana mah'. What? Jgn sampe ketika ini ada didekat ku nanti pun aku membenarkan :'(

 

Are you serious ini bisa jadi film rekomendasi untuk ditonton? Entah kenapa perasaan itu mulai muncul. Terutama pas nonton Aladdin kemarin. Bukan, bukan aku yang ngajak. Anak tetangga yang ngajak. Anak dari seorang ustadz. Agak ragu untuk menyambut hangat ajakan dia, sebut saja dia Melati. Pun sebenarnya aku gak mau nonton itu juga. Tapi ujung ujungnya kita nonton. Kebayang gak sih? Kita nonton sama anaknya ustadz, yg kita sendiri pun gak tau cara mereka mendidik anaknya bagaimana. Bagaimana jika aku merusak cara didik yang selama ini sudah dibangun? Melati pun belum izin. Katanya, 'Udah gak apa apa Mba Ami'. 


Bagaimana nanti jika dari situ terbuka pintu pintu yang harusnya tidak terbuka? Habis itikaf lagi kita nontonnya. Duh apa kata dunia kan? Trus besoknya sakit pula si Melati... Dan dari kejadian itu aku mikir mikir kalau ada yg ngajak atau aku mau ngajak orang ke bioskop. Mungkin sebagian orang bilang itu film Aladdin bagus kok. Tapi bagi aku itu belum. Yah jadi ke film lain, emg merembet sih. Okeh, back to topic.

 

Lagi lagi aku katakan, emang adegan ini perlu dan penting banget kah untuk dimasukkan dan di tampilkan seperti itu? Sampai sejauh mana sih kewajiban pendidik untuk memberikan pengajaran tentang pendidikan seks (jadi gak sabar baca bab ini di Tarbiyatul Aulad Fil Islam)? Dan apa mesti segamblang itu? Apa mesti lewat film? Aku gak habis pikir... Hmm... Jaman Rasulullah, sahabat, sahabat sahabat dulu belum ada film, tapi mereka paham adab, paham ilmu. Kok aku jadi sedih sih. Jadi paham kenapa ada beberapa ortu yang melarang putra putrinya nonton ke bioskop. Bahkan tidak ada TV di rumahnya. Pun teringat kalimat Ibu Ibu yang jauh lebih dulu merasakan lika liku polemik mendidik anak. Beliau yang termasuk tidak mengajarkan anak-anaknya untuk melangkahkan kaki ke bioskop. Walaupun itu film bagus. Kata beliau tidak semua film baik, Hami pun mengangguk. Karena emg kebanyakan film film itu tidak sesuai dengan karakter yang mau dibangun. Azk. Wkwkwk. Katanya, 'Ala bisa karena B.I.A.S.A'. Hmmm... Balik lagi ke habit ya. Padahal dulu sempet pernah mempertanyakan, 'Emang kenapa sih gak boleh nonton bioskop? Kan nontonnya yang bagus bagus'.

 

Lalu ketika adegan ini membuat aku resah aku jadi mikir. Ada gak sih yang bisa buat film sesuai dengan yg sudah diajarkan gtu dalam Islam. Dari awal produksi, syutingnya, sampai hasil akhir filmnya. Bisa gak sih yang perempuan jilbaban? Eh tapi kan zaman rosul ada yg pas blm trn perintah jilbab. Oh iya, perannya harus yang g berjilbab dong ya. Eh rumit ugha ya. Bisa gak sih gak usah ada sesuatu yg tercela? Kayak gak pegangan dengan yg bukan mahram gtu misalnya. Atau gak usa ada adegan pacaran gtu misalnya. Eh tapi kan harus ada contoh buruknya biar tau mana yg baik dan buruk. Eh iya ugha ya? Eh gimana si ini jadinya pikiran akunya. Udah lah gak usah ada film aja. Kok rumit kali menghindari hal hal kyk gtu. Tapi kan kata Allah islam itu sempurna. Islam itu mengatur segalanya. Berarti kan harusnya Islam punya ya jawaban dari pikiran ku di paragraf ini? Kemana ya carinya ya... wkwkwk.

 

Jadi paham kenapa kampung itu menjadi tempat pendidikan yang bagus... Tapi resah juga sih klo di kampung trus tiba tiba anaknya ke kota dan menemukan teknologi yang sebelumnya gak pernah diliat, apa bisa mengontrol diri? Menahan nafsu? Sungguh tantangan yang warbiayasak ya jadi pendidik itu. MasyaAllah. AllahuAkbar. Akan ada tantangan apa ya yang menunggu ku kelak?

Posting Komentar