Remaja "Gaul" Nggak Mesti Ngawur 1

Table of Contents

24/09/2019


Bismillahirahmanirrahim... akhirnya, atas izin Allah, terkumpul juga niat untuk nulis sebuah hikmah. Kali ini mau ngulas sebuah buku yang sudah lama bertengger di rumah tapi baru aku baca. Bermula ketika adik yang aku ajar memasuki bab ‘Pertumbuhan dan Perkembangan Manusia’. Di bahan ajar tersbut ada bagian penjelasan tentang fase manusia. Salah satunya ada fase remaja yang erat kaitannya dengan pubertas dan emosinya yang labil. Nah menariknya dari cover buku ini, yang entah kenapa memanggil-manggil untuk dibaca, ada satu kalimat yang membuat tanda tanya di kepala. Kalimat itu berbunyi, ‘Menggugat Konsep Remaja Modern’. What? Ada apa emang? Emangnya konsep remaja “modern” kayak gimana? Udah mana tuh aku baca buku ini pas udah nyampaikan materi ke adik-adik... Hahaha.

 

Buku ini berjudul Remaja Gaul Nggak Mesti Ngawur. Pertama kali baca judulnya langsung terpikir dalam benak kalau ini buku bakal mengubah mindset yang selama ini terbangun di kalangan remaja. Kayak misalnya, lo gak keren kalau belum pacaran. Lo bukan cowo kalau lo belum nyoba ngerokok. Gitu lah bayangan aku waktu itu. Tapi ternyata buku ini jauh lebih daripada itu. Buku ini justru mengubah sekaligus menambah pola pikir ku yang selama ini terbentuk. Tentang remaja. Buku karangan Alwi Alatas dengan tebal 198 halaman, dengan bahasa yang ringan dan penuh perumpaan sederhana ini membuat jari-jari ingin cepat membalik halamannya. Ada banya konsep-konsep baru yang aku tau dan menimbulkan gumaman, ‘oh iya ya’, ‘ya ampun, kok kepikiran aja sih...’ Buku ini sekaligus menjawab satu keheranan ku sejak dulu. Keheranan tentang kenapa di masa Rasulullah orang-orang muda (belasan tahun bahkan) sudah mampu memikul tanggung jawab yang begitu besar (menikah, memimpin, dll). Di Baduy pun anak umur belasan sudah bisa dan siap untuk menikah. Sekarang mungkin orang rata-rata menikah di umur 20-an (ini contoh sederhana aja sih supaya gampang bayanginnya, haha). Kenapa coba? Jawabannya ada di buku ini. Wkwkwk.

 

Pemaparan kisah-kisah nyata, berasa ada yang ngetok-ngetok otak aku sambil bilang ‘Woy Shob, Woy! Bangun heh! Masalah semua itu depan lo’.

 

Alwi Alatas mengatakan bahwa seharusnya kata ‘R.E.M.A.J.A’ tidak pernah ada. Perlu diketahui bahwa konsep remaja baru dikenal meluas dan mendalam pada awal abad ke-20, kalau anak-anak udah dari abad ke-13. Dalam Islam hanya dikenal dengan masa akil baligh dan dewasa. Gap antara akil baligh ke dewasa harusnya bisa berjalan dengan cepat. Ibarat kata, kalau dulu gapnya cuma 10 langkah, zaman sekarang gapnya 20 langkah. Karena pada masa-masa itu lah anak dalam kondisi labil. Ia butuh bimbingan. Katanya tuh ada kemunduran mental gitu lho. Sad kali aku bacanya, langsung merefleksikan pada diri sendiri. Sebabnya apa? Masyarakat kita sendiri :( Tujuannya apa? Gak paham lah aku... Hawa nafsu? Hmm.... Ya Allah bantu Hami mendidik Ya Allah, aku tanpa-Mu butiran debu...

 

Kita simak deh ya rangkumannya yang membuat pikiran aku terobok-obok ini.

Posting Komentar