Remaja "Gaul" Nggak Mesti Ngawur 2
24/09/2019
Buku ini diawali dengan masalah-masalah remaja masa kini
dibeberapa negara besar dan di Indonesia. Yang menderita HIV, melakukan
kejahatan dengan tingkat yang tinggi, melakukakn kekerasan dsb. Ini semua
dikarenakan peradaban modern telah bersepakat merampas hak-hak kedewasaan
anak-anak remaja ini. Anak-anak remaja itu sendiri “hubungan gelap” anatara
masyarakat modern dengan ideologi-ideologi sekular, kapitalis, dan materialis
buatan mereka sendiri. Beliau bilang harusnya gak usah tuh dibuka kotak pandora
yang isinya membuka kelas usia baru yang bernama R.E.M.A.J.A (ditandai dengan
masa pencarian identitas, emosi labil, pubertas). Kalau kotak itu dibuka
seakan-akan kita membenarkan, padahal kalau ditelusuri lebih jauh kenapa hal
tersebut terjadi adalah karena masyarakat kita sendiri, atau bahkan kita
ikutan? Astaghfirullahaladziim… Karena kalau dalam Islam sendiri hanya dikenal
dengan akil balig (masa puber) dan langsung dewasa.
Dikutip dari buku beliau, bahwa seorang anak ibarat seekor
ulat, berasal dari sebuah larva yang kemudian muncul ke dunia. Ia pun berjalan
kian kemari, mempersiapkan diri menghadapi tantangan-tantangan baru dan
meningkatkan kemampuan untuk dirinya sendiri dan untuk memberikan manfaat lebih
banyak bagi makhluk lainnya. Selama menjadi ulat, ia mungkin sering
menjengkelkan banyak pihak, menjadi beban lingkungan dan lain sebagainya.
Sampai suatu saat ulat membungkus dirinya dengan kepompong, berpuasa, dan
bermetamorfosis. Setelah selang beberapa waktu, sang ulat muncul dan terlahir
kembali sebagai makhluk yang baru. Ia muncul dengan segenap keanggunannya yang
membuat banyak manusia berdecak kagum. Dalam kasus ulat tersebut, kelahirannya
yang kedua menjadi kupu-kupu tidak kalah pentingnya degan kelahiran yang
pertama ke muka bumi. Sederhana kali kan analoginya…
Ketiadaan nilai dan identitas mendorong remaja-remaja ini
untuk membangun nilai-nilai serta identitas kelompok. Karena mereka bukan
filsuf-filsuf yang bisa membuat nilai-nilai dan identitas sendiri, mau tidak
mau mereka harus merujuknya pada sumber-sumber tertentu. Karena keluarga dan
sekolah tidak lagi menjadi sumber yang berpengaruh dan menarik bagi mereka,
maka mereka pun berpaling ke sumber lain, yaitu materialisme. Remaja-remaja
tentu saja belum mengerti apa-apa mengenai ideologi apa pun, termasuk
materialisme. Materialisme adalah ideologi atau paham yang meyakini bahwa
segala sesuatu yang ada bersifat materi atau bisa diurai ke dalam materi.
Namun, mereka melirik sumber ini bukan karena alasan yang
bersifat ideologis, melainkan sistem pertimbangan yang mereka miliki.
Kebelumdewasaan telah mendorong mereka untuk memilih segala sesuatunya
berdasarkan sistem pertimbangan “menyenangkan atau tidak menyenangkan”, bukan
“baik atau buruk”. Atau kalau tidak dari sumber materialisme mereka akan
mengambilnya dari sumber hawa nafsu mereka yang cenderung materialistik. Karena
kesenangan duniawi memang sangat terikat erat dengan segala sesuatu yang
bersifat kebendaan dan materialistik. Gimana tuh? Nah coba deh lihat skema dan
tabel ini Shob….
Terus apa sebab-sebabnya? Nih diurain juga sama beliau
beberapa sebab yang berpengaruh, serta solusi yang sungguh nampol…
Sebab-sebab:
- Semakin jauhnya ortu dan org dewasa dari anak
- Beberapa pergeseran peran keluarga
a. Hilangnya nilai-nilai keluarga.
Nilai-nilai agama, nilai-nilai islam.
TV kini bisa dianggap sebagai new parent for a million children (Malik, 1997:110).
b. Berkurangnya kemampuan orangtua untuk mendidik dan menyikapi anaknya.
c. Keluarnya istri untuk bekerja di luar rumah bersama suami.
d. Pertengkaran dan perceraian suami istri. - Perubahan-perubahan krusial pada sekolah modern
a. Terjadinya disorientasi tujuan belajar.
Yang penting nilai bagus, mencontek pun tidak apa. tidak mementingkan motivasi belajar, padahal ini tidak bisa ujug-ujug ada, harus dibangun. Jangan sampe membebani siswa dengan beban pelajaran yang terlalu banyak.
b. Tiadanya pembentukkan karakter dan nilai-nilai anak.
c. Tiadanya pembentukan tanggung jawan anak.
“Kamu harus mempelajari matematika, fisika, bahasa, dll.” “Kita hanya punya sedikit waktu untuk menyelesaikan semua bahan ini.” “ Ini semua bahan-bahan yang akan diujikan.” Aduh, langsung ngaca deh saia ini.
d. Reduksionisme sekolah modern.
Mereka (Rene Descartes dan Isaac Newton) menganggap bahwa alam berikut seluruh isinya tidak lebih dari sebuah benda mekanik raksasa, seperti sebuah arloji “canggih” yang memang sedang mencapai kesempurnaan teknologinya pada era Descartes. Pandangan yang mekanistik ini pada gilirannya menggeser pandangan alam yang organik. Alam hanyalah sebuah mesin besar, tidak lebih dari itu. karena alam semesta berikut segala isinya dianggap sebagai mesin, maka untuk memahaminya cukup dengan membongkar komponen-komponennya saja, persisi seperti kita membongkar jam, untuk mengetahui cara bekerjanya. Metode ini kemudian dikenal sebagai reduksi, memilah-milah semua hal secara partikularistik hingga ke komponen yang paling kecil. segala sesuatu bisa disederhanakan ke dalam komponen yang lebih kecil, seolah-olah komponen-komponen itu berkerja sendiri-sendiri, kaitan di antara mereka tidak begitu penting. Dengan kata lain, ilmu pengetahuan dan kebenaran harus bisa diukur dan dihitung secara matematik.“belajar” adalah sebuah proses dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak bisa menjadi bisa. kita lupa bahwa belajar bisa dimana saja, dan bisa menyangkut apa saja.
Solusi:
- Pendewasaan pada waktunya. Kelompok usia remaja harus ditiadakan. Jurang pemisah antara kedewasaan secara biologis, atau masa balig (puber), dan kedewasaan sosial harus dipersempit, anak yang sudah mengalami masa balig atau puber harus segera diperjelas status kedewasaannya. Pendewasaan pada anak adalah proses pendidikan jangka panjang yang harus dipersiapkan oleh orangtua sejak anak masih kecil.
- Karena dengan menjadi dewasa saja tidak menjamin kepastian benar atau baiknya kepribadian seseorang, maka solusi kedua yang harus diambil adalah Islam. Islam merupakan jaminan satu-satunya bagi keselamatan hidup seseorang dan masyarakat. Ideologi tidak bisa dilawan kecuali dengan sesuatu yang lebih tinggi dari ideologi. Ideologi-ideologi buatan manusia hanya menimbulkan kerusakan di muka bumi dan agama Allahlah satu-satunya jalan yang mampu memberi solusi bagi manusia.
Bismillahirahmanirrahim… A’udzubillahiminasyaithonirrajiim…



Posting Komentar