Tanpa Judul (1)
04/04/2020
Teruntuk kamu yang kemarin datang di hari kamis. Bagi saya, sulit menjaga hati ini. Mudah sekali bergejolak. Mungkin kamu tidak seperti saya. Ketika tiba tiba buka instagram dan ada notif kamu ngefollow dan membom dengan tap dua kali,
"Eh gercep amat langsung di follow. Langsung ngebom
gtu. PP-nya deh bisa banget."
Tanpa pikir panjang aku follow balik. Aku kira biasa saja.
Beberapa hari kemudian dilanjut ketika buka tumblr dan baca-baca dashboard.
Terus entah kenapa ngebuka aktivitas. Karena memang saya bisukan notifikasinya.
Dan jarang banget saya lihat. Sekalinya saya lihat, deg.
"Lho main tumbrl juga."
Lagi-lagi tanpa pikir panjang langsung ikuti balik. Coba
klik tumblrnya, mungkin tulisannya beda dari yang blogspot. Tapi ternyata
tumblr mu tidak aktif. Eh tapi kayaknya setan tau deh kelemahan saya. Tetiba
langsung kepo ku meningkat. Kayaknya tiada hari tanpa ngepoin sosmed mu. Kamu
membom kembali di instagram,
“Strategi apaan dah ini.”
Yang akhirnya entah kenapa aku bales juga dengan hal yang
sama. Ketika tiba-tiba kamu memposting kembali dan muncul di laman home saya,
seketika jari langsung kepo liatin komentarnya. Dan ketika tiba-tiba tulisan mu
muncul di dashboard saya.... Gatel sekali mau komentar. Tapi alhamdulillah saya
masih waras. Wkwk.
Shob, gak usah komen. Sama aja dong kayak ngechat di
WA. Perlakuin dia kayak orang asing Shob, inget.
Tidak ada yang salah dari tulisan mu. Tapi justru karena
kamu yang menulis rasanya beda saya bacanya. Ketika melihat notifikasi di dua
sosmed, yang saya sering buka, ternyata penuh dengan notifikasi mu dan itu
membuat hati saya seketika lemah. Terpikir kembali. Lemah dengan apa-apa yang
kamu share di sosmed, dengan aktifitas mu di sosmed. Apapun itu... Wkwkwk. Dan
ketika kamu follow, saya selalu bertanya dalam diri saya,
Shob kamu posting ini supaya dilihat dia atau gimana?
Biar di tap dua kali ya?
Orientasi saya jadi agak sedikit berubah. Mudah sekali
memang orientasi saya berubah. Itulah mengapa saya tidak mengaktifkan seen pada
status whatsapp atau chat. Takut emosi kalau sudah dibaca tapi gak
dibales-bales. Takut salah orientasi kalau mau cerita sesuatu di story
whatsapp. Padahal di instagram, kamu sudah saya unseen. Di tumblr, saya coba
cari supaya tidak ada yang bisa tap dua kali, tapi tidak ketemu. Dan tetap saja
saya penasaran dengan sosmed mu, saya tetap klik. Itulah mengapa benar sekali
ketika ada yang bilang kalau kita harus senantiasa memperbaharui niat. Apakah
ini maksudnya tempat curhat terbaik adalah kembali pada Allah? Supaya gak usah
pusing mikirin orientasi.
Tau tidak, semenjak kamu datang di hari kamis, pikiran ku
seperti melayang gak ada di tempat. Saya ngajar berasa gak fokus. Setelah
selesai ngajar terpikir kembali. Efek tidak punya kebiasaan baik kali ya.
Sampai kemarin ketika membuka kembali buku tazkiyatun nafsnya bapak dan baca
bab shalat. JLEB...
Kesimpulannya, bahwa kehadiran hati adalah ruh sholat. Batas minimal keberadaan ruh ini ialah kehadiran hati pada saat takbiratul ihram. Bila kurang dari batas minimal ini berarti kebinasaan. Semakin bertambah kehadiran hati semakin bertambah pula ruh tersebut dalam bagian-bagian sholat. Berapa banyak orang hidup yang tidak punya daya gerak sehingga mirip dengan mayit. Demikian pula shalat orang yang lalai dalam seluruh pelaksanaan shalatnya kecuali pada waktu takbiratul ihram, seperti orang hidup yang tidka punya daya gerak sama sekali. Kita memohon pertolongan yang sebaik-baiknya dari Allah. (h. 38)
Duh kayaknya saya sudah lama sekali lalai :( Shalatnya cuma
gerakan. Kapan terakhir kali shalat khusyu? Lantas apa yang harus dilakukan
untuk menghadirkan hati?
Karena itu, obat untuk menghadikan hati ialah mengusir lintasan-lintasan pikiran tersebut. Sementara itu, sesuatu tidak dapat diusir kecuali dengan mengusir sebab-sebabnya. Hendaklah Anda mengetahui sebabnya dan sebab timbulnya linatasan tersebut. Bisa jadi sebab tersebut berupa perkara eksternal atau perkara batin yang bersifat internal. (h. 42)
Terapi orang ini ialah dengan menarik jiwanya dengan “paksa” untuk memahami apa yang dibacanya dalam shalat dan membuatnya sibuk dengannya dan melupakan yang lainnya. Hal lain yang akan membantunya melakukan hal tersebut ialah mempersiapkan diri sebelum takbiratul ihram dengan menyegarkan jiwa melalui ingatan akan akhirat, posisi munajat, dan urgensi berdiri di hadapan Allah yang Maha Melihat. Atau mengosongkan hatinya dari segala hal yang dapat mengganggu pikirannya sebelum takbiratul ihram.
Ini merupakan cara menenangkan pikiran. Jika gejolak pikirannya tidak dapat ditenangkan dengan obat penenang ini maka tidak ada yang dapat menyelamatkannya kecuali hal yang dapat menghancurkan “bakteri penyakit” dari dalam jaringan saraf, yaitu mencermati perkara-perkara yang dapat menghalangi upaya untuk menghadirkan hati. Tak diragukan lagi bahwa hal itu kembali kepada berbagai perhatian utamanya yang sudah didominasi oleh syahwat. Karena itu, ia harus menghukum jiwanya dengan melepas diri dari berbagai syahwat tersebut dan memutus berbagai ikatannya. (h. 43)
Adapun upaya penenangan dan ajakan untuk memahami dzikir (bacaan) yang kami sebutkan di atas maka tindakan tersebut hanya bermanfaat bagi syahwat yang lemah dan fokus perhatian yang tidak menyibukkan kecuali pinggiran hati. Sedangkan bagi syahwat yang kuat dan bergejolak, upaya penenangan itu tidak akan bermanfaat sehingga akan senantiasa menariknya dan menarik Anda kemudian mengalahkan Anda dan akhirnya semua shalat Anda hanyut dalam daya tariknya. Sekalipun demikian, tetap harus dilakukan mujahadah, mengembalikan hati pada shalat, dan mengurangi sebab-sebab yang dapat menyibukkannya. Itulah obat pahit dan karena saking pahitnya dianggap buruk oleh tabi’at, sehingga penyakit yang ada menjadi akut. Bahkan para tokoh berusaha keras sholat dua raka’at tanpa mengingat perkara dunia tetapi mereka tidak mampu, apatah lagi orang-orang seperti kita. Seandainya setengah atau sepeprtiga shalat kita terbebas dari was-was (bisikan-bisikan) niscaya kita termasuk orang yang mencampur amal shaleh dengan perbuatan yang tidak baik. (h. 44)
:(
Ujian untuk tidak chat WA sepertinya lebih mudah ketimbang
sosmed ya. Sampai saya bingung sendiri menceritakan kebingungan saya ke Ibu.
Sampai kalimat ini terlontar ke murabbi ketika beliau bertanya kapan berangkat,
"Iya Bu, dia banyak sosmednya."
Sepertinya kesalahan saya di awal. Harus saya kembalikan ke
posisi awal. Bismillahirahmanirrahiim...

Posting Komentar