Al-Qur'an ep 4

Table of Contents

 26/09/2020


Sudah berapa banyakkah kamu membuat kenangan dengan Al-Qur'an? Jawabanku, masih terlalu sedikit. Dan dihari ini, ada sebuah pesan menarik dari sebuah surat yang sudah sering aku bolak balik tapi belum juga hafal di luar kepala. 


Bolak-balik membaca, menghafal, memurojaah, berulang kali juga aku membaca artinya. Dan untuk ke sekian kalinya disentil oleh surat ini. Surat Al-Ma’arij. Surat in iberarti “Tempat yang Naik”. Entah apa makna tempat yang naik ini, tapi mulai pada ayatnya yang ke-19 ia seakan memanggil mengingatkan ku akan sesuatu.


19.   Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh.

20.  Apabila ia ditimpa kesusahan dia berkeluh kesah,

21.  dan apabila mendapat kebaikan (harta) dia jadi kikir,

22.  kecuali...


Membaca kata kecuali pada ayat 22 awal semacam baca novel yang seru banget, semacam ingin terus membuka lembaran-lembaran berikutnya menemukan akhir cerita. ‘Kecuali? Kecuali siapa nih. Gimana nih biar aku gak suka mengeluh? Aku masuk ke salah satunya gak ya.’ Begitulah tanya tanya yang muncul dalam benak.


Lantas kecuali siapa?

22.  kecuali orang-orang yang melaksanakan shalat,

23.  mereka yang tetap setia melaksanakan shalatnya,

24.  dan orang-orang yang dalam hartanya disiapkan bagian tertentu,

25.  bagi orang (miskin) yang meminta dan yang tidak meminta

26.  dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan,

27.  dan orang-orang yang takut akan azab Tuhannya,

28.  sesungguhnya terhadap azab Tuhan mereka, tidak ada seseorang yang merasa aman (dari kedatangannya),

29.  dan orang-orang yang memelihara kemaluannya,

30.  kecuali terhadpa istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki maka sesungguhnya mereka tidak tercela.

31.  Maka barangsiapa mencari di luar itu (seperti zina, homoseks, dan lesbian), mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.

32.  Dan orang-orang yang memelihara amant dan janjinya,

33.  dan orang-ornag yang berpegang teguh pada kesaksiannya,

34.  dan orang-orang yang memelihara shalatnya.


Ada ketakjuban lagi dengan suatu hal, pembukaan dan penutupannya diawali dan diakhiri dengan perkara shalat. Sebab dulu ketika menulis skripsi aja kalau rumusnya sudah masuk landasan teori, tidak perlu ditulis lagi ketika pembahasan. Lantas ini kenapa ditulis dua kali. Apakah beda antara melaksanakan shalat dan memelihara shalat? Buka lah saya suatu web, karena gak punya buku tafsir yang hardcopy.  


Tinjauan Pustaka 


Meninjau tafsir diweb ini yang aku ambil beberapa bagian saja.


kecuali orang-orang yang mengerjakan salat. (Al-Ma'arij: 22)

Yakni manusia itu ditinjau dari segi pembawaannya menyandang sifat-sifat yang tercela, terkecuali orang yang dipelihara oleh Allah dan diberi-Nya taufik dan petunjuk kepada kebaikan dan memudahkan baginya jalan untuk meraihnya. Mereka adalah orang-orang yang mengerjakan salat.


yang mereka itu tetap mengerjakan salatnya. (Al-Ma'arij: 23)

Menurut suatu pendapat, makna yang dimaksud ialah orang-orang yang memelihara salat dengan menunaikannya di waktunya masing-masing dan mengerjakan yang wajib-wajibnya. Demikianlah menurut Ibnu Mas'ud, Masruq, dan Ibrahim An-Nakha'i. Menurut pendapat yang lain, yang dimaksud dengan tetap dalam ayat ini ialah orang yang mengerjakan salatnya dengan tenang dan khusyuk, semakna dengan apa yang disebutkan di dalam ayat lain melalui firman-Nya:


Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya. (Al-Mu’minun: 1-2)


Demikianlah menurut Uqbah ibnu Amir. Dan termasuk ke dalam pengertian ini kalimat al-ma-ud da-im, artinya air yang tenang dan diam, tidak beriak dan tidak bergelombang serta tidak pula mengalir. Makna ini menunjukkan wajib tuma-ninah dalam salat, karena orang yang tidak tuma-ninah dalam rukuk dan sujudnya bukan dinamakan orang yang tenang dalam salatnya, bukan pula sebagai orang yang menetapinya, bahkan dia mengerjakannya dengan cepat bagaikan burung gagak yang mematuk, maka ia tidak beroleh keberuntungan dalam salatnya.


Menurut pendapat yang lain, apabila mereka mengerjakan suatu amal kebaikan, maka mereka menetapinya dan mengukuhkannya, sebagaimana yang disebutkan dalam hadis sahih diriwayatkan melalui Siti Aisyah r.a., dari Rasulullah Saw. yang telah bersabda:


Amal yang paling disukai oleh Allah ialah yang paling tetap, sekalipun sedikit.


Menurut lafaz yang lain disebutkan:

yang paling tetap diamalkan oleh pelakunya


Selanjutnya Aisyah r.a. mengatakan, Rasulullah Saw. adalah seorang yang apabila mengamalkan suatu amalan selalu menetapinya. Menurut lafaz yang lain disebutkan selalu mengukuhkannya.


Qatadah telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: yang mereka itu tetap mengerjakan salatnya. (Al-Ma'arij: 23), Telah diceritakan kepada kami bahwa Nabi Danial a.s. menyebutkan sifat umat Muhammad Saw. Maka ia mengatakan bahwa mereka selalu mengerjakan salat yang seandainya kaum Nuh mengerjakannya, niscaya mereka tidak ditenggelamkan; dan seandainya kaum 'Ad mengerjakannya, niscaya mereka tidak tertimpa angin yang membinasakan mereka; atau kaum Samud, niscaya mereka tidak akan tertimpa pekikan yang mengguntur. Maka kerjakanlah salat, karena sesungguhnya salat itu merupakan akhlak orang-orang mukmin yang baik.


Dan orang-orang yang memelihara salatnya. (Al-Ma'arij: 34)

Yakni waktu-waktunya, rukun-rukunnya, wajib-wajibnya, dan sunat-sunatnya. Pembicaraan dimulai dengan menyebutkan salat dan diakhiri dengan menyebutkannya pula, hal ini menunjukkan perhatian yang besar terhadap masalah salat dan mengisyaratkan tentang kemuliaannya.


Disebuah seminar akupun diingatkan kembali bahwasanya jadikanlah SABAR dan SHOLAT sebagai penolong. Disini pun sampai dibuka dan ditutup dengan perilah shalat. Tapi sejujurnya masih belum bisa mengkorelasikan antara penolong dan shalat, antara keluh kesah dengan shalat... Perjalanan Hami memang masih panjang.


Posting Komentar