I Am Sarahza
26/09/2020
Bismillahirahmanirrahim... Katanya setiap hidup yang kita jalani ini bisa bernilai ibadah. Dari awal bngun tidur sampai tidur lagi. Eh gimana tapi caranya? Batinku. Kan pengen ya, biar gak sia-sia gitu hidup.
Ada satu hal yang aku amati, bahwa semua tergantung niat kita melakukan sesuatu. Apakah karena Allah atau nggak? Dan buat ngebawa semua kegiatan hidup kita terpusat pada Allah butuh ilmu. Butuh pengajaran, salah satunya lewat buku yang punya pandangan yang sama. Sama-sama menyadari akan hadirnya Allah.
Lewat buku aku belajar bagaimana cara memandang suatu hal lewat kacamata-Nya. Sehingga aku tau harus merespon seperti apa dan harus berpikir bagaimana. Yap, buku ini termasuk salah satunya. Kisah perjalanan Hanum memperoleh keturunan dari rahimnya yang justru malah mendektakan ia pada sang Maha Pencipta, Yang Maha Menghidupkan.
Dari buku ini aku benar-benar merasakan sekali kebesaran Allah, Allahuakbar, Allahuakbar. Kita manusia tak bisa apa-apa, hanya mampu ikhtiar semaksimalnya. Baru setelah 11 tahun pernikahan, Hanum dikaruniai seorang anak. Setelah melewati banyak fase jatuh bangun dalam mengikhtiarkan keturunan.
Jadi bisa ikut merasakan bagaimana rasanya penantian seorang anak. Dari buku ini juga bisa kita lihat bagaimana suami dan keluarganya selalu mensupport Hanum secara ruhani. Di bawah ini beberapa kalimat dari buku I am Sahraza yang semoga bisa menjadi pelajaran bagi kita semua, terutama aku, agar lebih bersyukur dan tetap semangat berikhtiar menghadapi apa pun.
- Ayah, Ibu, tidak perlu kaget.Aku senang kalian telah datang pada Herz. Seorang dokter yang tidak arogan pada ilmunya. Pada akhirnya ia tetap percaya sesempurna apa pun rekayasa, rekayasa Tuhanlah pemenangnya. Hal 103.
- Ilmu pengetahuan manusia hanya bisa memprediksi. Tak pernah menjamin. Ia tetap bertekuk lutut pada veto Pencipta Segala Pencipta Ilmu. Hal 175.
Kalau baca ini, keinget kajian-kajian di INSIST atau InPAS. Ujung dari setiap ilmu yang kita pelajari adalah Allah. Jadi teringat kisah seorang istri dari kakak ipar yang waktu itu kebetulan kami sambangi. Beliau sempat beberapa kali keguguran. Ada suatu saat kata dokternya rahimnya lemah, jadi gak bisa menahan si bayi di dalam rahim. Eh apa mulut rahimnya ya? Pas dikasih penguat ternyata pada kehamilan berikutnya tetap sama. Sampai sekarang mbanya juga gak tau itu kenapa. Dan Alhamdulillahnya Allah turunkan putri yang mereka beri nama Maryam. - “Aku hanya mau bilang, itu semua pikiran setan. Bukan pikiranmu, Say. Berhentilah memberi pelluang setan menguasai pikiran dan perasaanmu,” rengkuh Ayah pada Ibu. Hal 229.
- Satu hal, meski tampak semakin tak berpengharapan usaha yang menurut manusia sia-sia ini, sesungguhnya semakin banyak dilakoni, semakin mahal harganya di mata Tuhan. Hal 230.
- Dalam dunia kerahiman adagium itu sayang tidak berlaku (While there’s life, there’s hope). Yang ada sebaliknya: While there’s hope, there’s life. Di mana ada harapan, di situ ada kehidupan. Hal 258. Iya, harap pada Dia satu-satunya tempat berharap. Bagi-Nya kun fa ya kun, jika Allah mengkhendaki maka terjadilah.
- “Satu, jaga shalatmu. Salat itu tiang agama, tapi juga tiang hidup seseorang. Kamu bisa terseret angin, terpelanting, terombang-ambing, tapi selama tiangmu kuat, peganganmu kuat, insya Allah kamu baik-baik saja. Kalau hatimu saat mendengar adzan ada getaran, kamu merasa bahagia ketika shalat, bukan lagi merasa kewajiban melainkan kebutuhan, itu artinya shalatnya bener. Gerakan sujud dalam shalat bisa menentramkan hati, saat kepala kita lebih rendah dari bagian tubuh mana pun. Saat ego kita diletakkan lebih rendah dari apa pun. Nah sekarang, kalau shalatmu aja dijemur, apalagi Shubuh jam 8, gimana kamu membuat tiang untuk dirimu sendiri?” Hal 269-270.
Lagi-lagi teringat di dalam sebuah seminar dikatakan, “Jadikanlah sabar dan solat sebagai penolongmu.” - “Cukup Num. Kamu salah alamat jika bicara seperti ini ke Bapak. Curhatlah ke Allah. Jangan curhat ke manusia, apalagi medsos. Num, Allah itu Tuhan. Bukan manusia kayak kita. Nggak ada itung-itungan sama hamba-Nya yang disayang. Apalagi dendam. Kamu nyadar bahwa kamu sedang menyakiti Allah dan kamu menyesal, itu bukti cinta Allah masih sayang kamu. Iradahmu dipandu oleh Allah.” Hal 276.
- Benar kek, Allah akan seerat kalian berpelukan, serapat itu, pada hamba-Nya yang mendekat. Hal 277.
- Impian yang terwujud, tanpa iman, tanpa menyertakan keluarga di dalamnya, hanya akan menjadi ilusi selamanya. Hal 304.
- “Bukalah matamu Num. Tuhan akan meghargai hamba-Nya yang berani mencintai kenyataan, sepahit apa pun. Karena kenyataan sepahit apa pun adalah pemberian-Nya. Buka mata lalu angkatlah telepon sebagaimana yang dokter minta,” Ujar Nenek sengau. Hal 335.
- Takdir Tuhan memang tidak bisa dilukiskan dengan sebaris kata ‘indah’. Atau ‘sempurna’ sekalipun. Yang aku pelajari dalam 11 tahun penantian, keberuntungan akan selalu berpihak pada mereka yang memelihara kesabaran. Kebahagiaan akan selalu tergoda mendatangi mereka yang bersyukur. Sesuai janji Tuhan, Ia melunasi permohonan hamba-Nya yang tak bosan menengadahkan tangan. Hal 348.
- Ingatlah Nak, setiap tujuan membutuhkan perjuangan. Setiap perjuangan membutuhkan pengorbanan. Setiap pengorbanan membutuhkan kesabaran. Setiap kesabaran punya terminal bernama penyerahan. Dan sebaik-baiknya tujuan adalah kembali pada Allah. Hal 359.
- Bagi semua yang tengah berjuang, keep th efaith within you. Semakin besar keyakinan kita pada Allah bahwa kita bisa, semakin besar pula keyakinan Allah pada kita bahwa kita layak. Hal 363.
Bismillah... Bersyukur kamu Hami...

Posting Komentar