Aku dan Cahaya di Ujung Lorong
28/06/2021
Bismillahirahmanirrahim… Apa yang ada dibenak kita ketika tau sedang mengandung? Hmm… Ah tidak sabar nunggu bayinya ada digenggaman. Pasti bayinya lucu. Pasti bayinya normal. Pasti bayinya sehat dan pasti-pasti lainnya yang membahagiakan. Membayangkan aktivitas bersama ketika ia sudah besar. Membaca buku bersama? Belajar bersama? Ah senang bukan main.
Qadarullah… Allah uji kami dengan anak spesial namanya Nusaibah. Dari awal Nusaibah diperiksakan ke dokter spesialis anak sudah ada beberapa yang menanyakan ke kami tentang ke spesialannya. Cuma, aku belum sadar maksudnya apa. Seperti ketika terapis mulut bertanya, “Bu maaf, anaknya DS (Down Syndrom)?” dan terapis lainnya ketika melihat Nusaibah bergumam, “Kena sindrom apa kamuuu nak?”, sambil mengusap muka Nusaibah.
Pun dititik ini aku belum sadar penuh maksudnya apa. Yang aku tau hanyalah gimana caranya Nusaibah bisa nen. Biar naik berat badannya gitu. Tanpa disadari pula aku sudah mulai nyari tuh DS itu apa, ciri-cirinya gimana… Dan yak cocoklogi dong itu ciri-cirinya. Setiap membaca suatu ciri-ciri aku samaain ke Nusaibah lalu membenarkan. Tubuhku seakan sudah dikendalikan oleh pikiran liarku, tanpa dasar yang jelas. Apa-apaan ini? Belum selesaih masalah Nusaibah kami atasi, kenapa aku harus disodorkan dengan kata SINDROM? Mainan apalagi ini?
Kata sindrom membuat aku sejenak linglung. Sindrom? Aduh, aku gak paham. Yang aku tau penyakit ini ada efeknya dengan keterbelakagan mental. Langsung aku utarakan semua ke ibu sambil berurai air mata tanda tidak terima. ‘Bu, kok semuanya di Nusaibah. udah CTEV, sumbing langit-langit, tangannya kaku… Masa kena sindrom juga sih…’ Gak cuma ibu, Allah pun aku keluhkan, ‘Ya Allah kenapa aku sih. Nusaibah udah CTEV, sumbing langit-langit, tangannya kaku… Masa kena sindrom juga sih…’ Manusia… sukanya ngeluh gak bersyukur :(
Sedikit-sedikit mulai menerima dengan berbekal nyari info tentang down sindrom, nyari info tentang sindrom dengan gejala bla
bla bla, dst. Cocokologi lagi, gitu aja terus siklusnya. Trus gimana? Udah
baikan? Belom. Naik turun, kadang naik kadang turun lagi liatin status
saudara yang lahirnya berdekatan dengan Nusaibah. Belum nemu strong why untuk nerima, Astaghfirullah ya Shobrina
ini. Tapi, Alhamdulillah, sedikit-sedikit Allah kasih puzzle strong why-nya.
Baca ini lagi ya Shobrina Hamidah kalau kamu hilang arah, kalau kamu ada di
titik bawah lagi, kalau kamu lelah, kalau kamu ada di pusaran hitam lagi…
Baca ini lagi Shobrina untuk menguatkan hatimu yang rapuh. Ust. Amir Faishol dalam kajian tafsir Al-Mulk cerita.
Pernah suatu hari Nabi Adam bertanya pada Rasulullah, “Kenapa diantara keturunanku, kok ada yang cacat begini begitu?” Kata Allah, “Nggak, itu nggak cacat. Itu agar kamu bersyukur.” Ada orang yang tidak punya tangan ia bisa berkarya besar. Coba siapa sangka Naja (cebral palsy, otaknya lumpuh) tapi dia hafal Al-Quran dengan nomor halaman-halamannya. Hafal terjemahannya. Saya hanya bilang ke Naja setelah hafal Quran 30 juz,”Naja, hafalin terjemahannya dong.” Langsung dijawab, “Siap Bi.” Dalam hitungan 3 bulan hafal khatam terjemahannya.
Langsung lah cari di youtube tentang anak-anak spesial
yang menghafal Al-Quran. Dan ada :’)
Inget juga ya Shobrina bagaimana perjalanan mu menemukan banyak hal tentang bagimana teman-teman tuli berjuang untuk
mempelajari Islam. Yang Alhamdulillah sedang dirintis oleh The Little Hijabi
homeschooling untuk isyarat islam. Ada isyarat hijaiah… Nama projectnya Cahaya
dalam Sunyi, Isyarat Cahaya, dll. Semua bisa kok belajar Islam. Disaat kamu berada di lubang hitam, mampirlah ke sosial medianya dan temukan kembali semangat membara itu.
Lewat igs Syifa H, Ust. Harry Santosa Hasan bilang, hidup
bukan tentang mengejar mimpi setinggi langit. Pertanyaan seharusnya adalah:
engkau ingin berkontribusi apa di jalan Allah, wahai anakku? Skill yang telah
Allah berikan, mau kau gunakan untuk
menuntaskan masalah apa wahai anakku? Apa yang meresahkan hatimu dalam
melihat kondisi ummat, wahai anakku? Maka selesaikanlah masalah ummat dibidang
spesifik tersebut, dengan keahlian yang engkau miliki. Dan saat itulah engkau
telah menemukan tugas langit mu. Wasiatkan pada anakmu, bahwa hidup itu bukan
tentang mengejar mimpi setinggi langit, tetapi untuk menemukan dan menuntaskan
tugas langit.
Bersyukur kamu Hami… Tuh ada yang sampai sekarang masih
belum dikasih rezeki anak, ada yang sudah hamil tapi pas ngelahirin qadarullah
bayinya meninggal dan rahimnya harus diangkat, ada yang susah banget sampe
harus inseminasi buat dapet anak, ada yang susah hamil dan sekalinya hamil
malah di luar rahim, ada yang harus menunggu dulu bertahun-tahun, ada yang
keguguran berkali-kali tanpa dokter tau penyebabnya kenapa… Tuh itu semua ada
disekitar kamu, jadi apa alasan kamu untuk gak bersyukur? Bersyukur ya Hamidah…
Inget juga ya Shob kata bulik, yang kebetulan punya anak
spesial juga, yang sudah ngelewati fase down di awal juga, mengingatkan bahwa
semua akan dimintai pertanggungjawaban kelak di akhirat. Ingat, mau anak
spesial atau nggak semua sama-sama dimintai pertanggungjawabannya
kelak. Yang bedain cuma tingkat ketaqwaannya kan? Darimana di dapet kalau kamu
teledor gak peduli sama Nusaibah? Nanti di akhirat mau ngomong gimana kalau
kamu tidak ikhtiar maksimal?
Inget juga ya Shob, banyakin pikiran positif. Supaya tubuhmu
merespon dengan positif juga. Renungilah.
Jadi, apapun nanti hasil kromosomnya… bersyukurlah, jalani dengan penuh keimanan, jalani dengan ikhtiar maksimal. Hahaha, enak banget guys nulisnya. Semoga bener bisa dijalani dengan penuh keimanan, keyakinan pada Allah. Nusaibah, ibu yakin kita semua bisa belajar bersama!


Posting Komentar