Belajar Bersyukur ep 2

Table of Contents

 17/08/2021


Bismillahirahmanirahim...


'Kalau kamu belum bisa bersyukur berarti main mu kurang jauh.'


Pernah terdengar sebuah kalimat tersebut yang entah dari mana dan baru bisa memaknainya akhir-akhir ini. Dengan kondisi Nusaibah, membawa kami berpetualang menyelami dan memahami rasa syukur itu. Kondisi sindromic baby-nya kali ini membawa kami ke Rumah Sakit Umum Pusat Nasional dr. Cipto Mangunkusumo atau biasanya dikenal dengan RSCM.


Wow RS rasa mall tanah abang ini mah. Banyak banget pasiennya. Masuk gate aja udah ngantre mobil, parkiran depan udah penuh. Orang-orang udh siap berdiri di depan pintu masuk RSCM Kiara (kalau sekarang sudah lebih teratur). Dan pas masuk udah berasa di snow world, dingin banget Ya Allah.

 


Disana kami bertemu dengan beragam jenis pasien. Dari yang cuma aku batin sampai obrolan pun ada. Salimg menanyakan kondisi anak, sharing, dan kawan-kawan. Karena lumayan juga nunggunya kadang-kadang tuh. Kita disuruh menyelami rasa syukur dulu mungkin hehe.


Disana ketemu apa aja? Yang jelas di poli nutrisi dan metabolik ketemu banyak banget pasien yang pakai selang. Jadi Nusaibah gak sendiri! Banyak temennya. Gak perlu malu. Melihat cara mereka pake buret feeder, alat pemberian makan kalau pakai selang, alatnya kayak infus gitu dan bisa diatur kecepatnnya, kadang membuat kami jadi terinspirasi. Oh gitu ya, mereka pakai itu ya, oh abis ini disentornya pakai itu ya biar mudah, dsb.


Pernah, saat Nusaibah di IGD RSCM kami bertemu dengan seorang anak solih yang umurnya lebih besar dari Nusaibah dan masih pakai selang. Suka muntah juga klo diminumin kayak Nusaibah. Ayahnya bercerita kalau anaknya pakai selang yang seminggu sekali ganti bukan yang sebulan sekali ganti yang bahannya dari silikon. Soalnya kalaua pakai yang silikon ketika si anak muntah maka potensi terlepasnya besar, karena lebih lunak selangnya. Ayahnya juga cerita kalau beliau gantjnya gak pas sepekan sekali tapi per 10 hari. Kasian anaknya colok selang mulu. Oke sebuah pelajaran baru untuk Nusaibah kedepannya.


Pernah juga di ruang rawat inap IGD RSCM bertemu dengan seorang anak solih yang sudah terkena kanker. Lupa kanker apa, kankernya yang jelas udah parah. Anaknya udah SD apa TK gitu ya kalau gak salah. Masih dilokasi yang sama, bertemu dengan anak yang menginap untuk transfusi darah. Anak ini emang harus rutin transfusi darah sampai besar nanti karena thalasemia.


Pernah juga bertemu dengan seorang ibu asal Madiun yang membawa anaknya ke RSCM untuk operasi jantung, kedua anaknya punya masalah jantung. Tapi yang sampai operasi yang anak kedua ini. Sampai beliau di rumah singgah, lebaran di Jakarta.


Pun selama menunggu atau pas lagi jalan mau ke poli selalu aja ketemu sama pasien dan mbatin. Wah down sindrom deh itu kayaknya. Ya Allah itu sampe dikasih alat bantu nafas di lehernya padahal masih kecil, Ya Allah itu kayaknya abis kemotrapi. Lho kepalanya belakangnya lurus ya. Ya Allah kepalanya besar 😭. Membawa diri ini merenung. Jika aku berada diposisi itu... Kuat gak aku kalau jadi mereka? Mungkin kita sering denger penyakit-penyqkit ini.. Tapi melihatnya secara langsung itu sungguh menyentil hati yang sombong gak tau cara bersyukur ini.


Dan ketika kami menunggu antrean ponseti (pemasangan gips untuk koreksi kaki pengkor), kami dipertemukan oleh Allah dengan si cantik Joana asal Jayapura. Terlahir dengan kondisi yang hampir mirip dengan Nusaibah. Kalau Nusaibah pengkor kaki kanan, Joana pengkor dikedua kakinya. Kalau Nusaibah sebelum dipakaikan selang maksimal minum perharinya bisa sampai 200an ml, Joana hanya bisa 25 ml per harinya. Kalau Nusaibah, sampai detik ini, didiagnosa laringomalacia tipe 1, Joana didagnosa GERD dan pas endoskopi termyata disepanjang saluran makannya lecet. Ini yang nyebabkan Joana menolak makan, keluar terus makannya. 


Karena kondisi Nusaibah yang sulit minum akhirnya pakai selang lewat mulut (OGT) dengan selang kecil nomor 5, Joana harus pakai selang besar di mulutnya supaya obat GERD-nya bisa masuk. Obatnya gak boleh digerus, harus ditelan bulat-bulat. MasyaAllah, pertemuan kali itu mengajarkan aku untuk bersyukur dan menerima takdir disaat dulu susah untuk menerima kenapa semuanya di Nusaibah. Si A cuma kaki pengkor aja, si B cuma sumbing aja, si C cuma laringomalacia aja, si D mah enak udah pengalaman dengan anak sbelumnya, dst dst.


Entah bakal ada cerita lagi di RSCM kedepannya. Selain banyak pelajaran tentang bersyukur kami juga belajar menerima takdir Allah dengan hati lapang... Jadi paham kenapa salah satu cara untuk mengenal Allah adalah lewat asma-Nya, lewat nama-Nya.


Posting Komentar