#PernahTenggelam
09/02/2019
Pernah tenggelam. Buku yang menarik untuk dibaca. Sebab aku pun pernah dan masih tenggalam :( Mungkin orang-orang aneh ya kalau lagi ngeliat aku nonton drama, dari pagi sampe besok paginya, di kasur terus, dan keanehan lainnya. ‘Apaan sih korea-koreaan, ngedrama mulu’, ‘Wah ini kesukaan Hami ini’, (ketika ada iklan di TV yang berbau film/drama korea). Gitu sih ya yang sering terdengar dari saudara-saudara. Berasa nemu alien gitu ya. Haha. Yah, sama aja lah ya seperti yang aku rasakan ketika melihat mereka main game dari pagi sampe malem. Hahaha. Dan yak seketagihan itu aku sama drama korea! Awalnya nonton drama Jewel in the Palace, ini pun lupa kenapa tiba-tiba beli VCD-nya dan nonton. Dilanjutkan dengan nobar drama God of Study di asrama. Gak ada pengaruh kala itu, sebab disana kan boarding school. Jadi banyak kegiatannya, dari sholat ke masjid, tugas kelas, ngobrol sama temen, hari bahasa, kepanitiaan, sekolah, dll. Tapi aku gak tau kalau itu awal mula dari tenggelamnya diriku. Bermula dari kenal. Masa SMA berlanjut ke masa perkuliahan. Masih disibukkan oleh kegiatan kampus, walaupun curi sedikit-dikit nonton beberapa drama. Sampai tiba-tiba aku minta temenku ajarin cara download drama, diajarin lah ya. Mumpung gratis juga wifi kampus (bayar sih ya sebenarnya di SPP), tambah deh ya. Dan tambah menjadi-jadi ketika kegiatan kampus mulai bekurang dan kesulitan dengan TA (Tugas Akhir) menerjang. Ditambah lagi aku ngekos di tempat yang memfasilitasi wifi. Hmm.. tambah menggila ya. Buka laptop, ke folder TA, ngerjakan TA beberapa menit, stuck, buka internet dan streamingan drama korea! Gitu aja sampe 1 semester kali ada.
Iya seketagihan itu kalau sudah kepincut sama 1 judul drama. Entah itu yang on going atau yang episodenya sudah kelar. Aku kira aku doang yang kayak gitu, sampe mikir ‘Ada apa sih sama aku, kok gini amet ya’. Eh tiba-tiba aku mendengar cerita sepintas dari orang kalau dia juga seperti aku, kepincut sudah sama drama. Bedanya dia ni bollywood-an. Parahnya lagi nih sampai-sampai sholat ku dan interaksi ku sama Al-Quran dinomor duakan. Bahkan bisa gak berinteraksi sama sekali sama Al-Quran seharian. Sholat buru-buru, bukannya khusyu ke Allah eh malah mikirin dramanya. Semua list tugas dunia ku pun terbengkalai, kecuali yang berhubungan dengan orang lain sih. Hehe. Kacau lah pokoknya mah diriku klau sudah kepincut kayak gitu. Padahal tuh ya kalau udah selese dramanya juga cuma bisa menggumam dalam hati, ‘oh ceritanya tentang ini toh, oalah gitu toh’. Cuma bisa diam, menyesal kenapa waktunya aku buang buat nonton. Tugas menumpuk. Dan kembali dari bawah lagi untuk sholat dengan khusyuk, merutinkan ibadah seperti biasa. Aku yang ketika sudah selesai nonton 1 drama selalu berkata, ‘Udah abis gini jangan nonton lagi’. Ditambah dengan doa untuk selalu didekatkan pada-Nya. Tapi ya begitu lah doa, ia tak akan dikabulkan jika kita tak berubah tak ada usaha, sebab itulah aku diuji lagi. Pernah saking muaknya aku, aku cari cara bagaimana memblok suatu situs di laptop agar ketika nanti aku khilaf aku tidak bisa membukanya. Ketemu dong, langsung ku blok 3 website. Lumayan bertahan.
Tapi lagi-lagi gangguan datang dari jalur lain, HP. Emang ya setan itu pinter banget pantang menyerah, dari depan belakang kanan kiri atas bawah hajar bleh! Dengan hal yang sama, dengan siklus akhir yang sama tapi dengan pendekatan yang berbeda. Lewat apa tuh kok kepincut lagi? Lagi-lagi disini ku sadar aku sangat rapuh. Hanya dengan review orang di instagram storynya (atau sejenisya) mengenai drama bisa membuat jari jemari ku dengan cepat mencarinya. Mau ngeblok orangnya tapi gimana gitu ya. Wong itu sosial medianya dia, wong dia juga gak setiap hari setiap jam setiap detik memposting review drama korea. Hmm... Atau bahkan hanya dengan iklan trailer drama di line today yang muncul di time line ku bisa membuat jari jemari ku mem-play trailer tersebut dan berakhir menonton seluruh episodenya. Hanya dengan membuka youtube dan muncullah video-video korea di halaman home pun bisa membuat jemari-jemari ini tenggelam kembali. Sebab begitulah cara internet bekerja. Menampilkan apa-apa yang sering kita cari di halaman home. Ketauan deh jadinya ya seberapa tenggelamnya aku saat itu.
Nah terus tetiba muncullah buku ini di permukaan. Penasaran sama buku ini karena ku punya sedikit latar belakang yang sama. Dan masyaAllahnya buku ini, mengungkap kehalusan mereka merangkai sebuah kekeliruan. Halus. Ku terjleb jleb. Semoga abis baca buku ini kebiasaan lama hilang ya :( Buku ini karangan Fuadh Naim, seseorang yang pernah tenggelam terseret gelombnag korea. Dimulai dengan mengisahkan awal mula si penulis tenggelam, kemudian mulai kebingungan (yah namanya manusia ya, pasti kembali ke fitrahnya), dan akhirnya menepi ke darat. Dijelasin juga alasan hijrah sekaligus sebenarnya ada apa sih dengan korea? Berikut ini nih yang bikin aing ngelush dada (huruf miring merupkan kutipan dari buku),
Sikap individualis, jarang bergaul, dan tidak aktif dalam kegiatan dakwah/mengurusi ummat adalah situasi yang sangat rentan terkena Hallyu. Wah ini sih sama banget kita bang :( Terlena oleh waktu luang. Betul banget tuh kata hadits, bahwa ”Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang”. (HR. Bukhari no. 6412, dari Ibnu ‘Abbas).
Ada Apa dengan Korea?
Ada kampanye LGBT
Kamu mungkin tidak Gay atau Lesbian, namun sangat mungkin memaklumi prilaku Oppa sayang-sayangan. Semua tergantung informasi apa yang sering kita telan. Sering salah makan, semakin nikmat yang seharusnya menjijikan.
Gak memaklumi sih, karena sadar betul kalau itu cuma drama. Cuma akting. Malah bikin heran dan bertanya-tanya, emang beneran ada kah? Masa sih gitu? Keknya aku kudu nuntasin novel 24 wajah billy kali ya.
Ada pergaulan bebas
Kamu jaga pandangan dari para ikhwan, tapi gagal fokus saat lihat Oppa yang menawan. Maksiat itu memang sering berubah kemasan. Apalagi ditambah “prestasi” sebagai alasan. JLEB!!!
Kamu gak pacaran, tapi menikmati tontonan kemesraan. Bisa jadi itu adalah pelarian diri hawa nafsu yang butuh penyaluran. Inget, pacaran atau fangirling-an sama-sama salah jalan. JLEB!!!
Ya Allah baca ini kudu nangis aja :’( Kalau di telek-telek lagi, beneran lho dinikmati. Dan ternyata hal seperti itu juga salah. Ini nih yang aku maksud HALUS! Sampe ku bertanya-tanya lho dalem hati, ‘Kok ya mau sih ni artis berakting kayak gitu (kissing, adegan di kasur, dkk)’. Sampe aku nemu video youtubenya (aku lupa namanya), di situ dia bilang kalau dulu sebenarnya pernah menjadi suatu hal yang tabu jika ada anak yang hamil di luar nikah. Tapi karena ada apaaa gitu ya, itu jadi hal yang biasa dan malah dianggap kuper sekarang kalau belum berhubungan seks sebelum nikah. WHAT?
Jadi tetrpikir deh kalau adat gak bisa dijadikan landasan untuk dipegang teguh. Iya kalau adatnya punya hal positif, lha kalau adat budayanya free sex begitu masa mau ditiru dan dibanggakan? Jangan sampe lah ada ungkapan kayak gini, ‘Ini kan adat, kita harus melestarikannya. Ini sudah ada dari dulu. Yang gak pro gak nasionalis.’ Hmmm... liat-liat dulu kali. Pantesan aja film drama korea isinya kissing, adegan ranjang, style baju yang minim, minum alkohol, makan babi... Wong budayanya seperti itu. Dan lagi-lagi dalam sebuah film kita bisa tau negara itu seperti apa. Karena seni adalah cerminan dari pembuatnya.
Ada pemaklumam barang haram
Ada standar bahagia pada dunia
Meyakini dan mentaati Tuhan akan melahirkan kebahagiana. Kalau kamu Muslim tapi sering stress, mungkin kamu salah tontonan.
Pelan-pelan gue jadi ngerasa bahwa mengejar dunia untuk bahagia itu hal yang normal dan wajar. Pelan-pelan gue jadi ngerasa sedih dan kecewa ketika gagal mencapai target gue, sedih ketika gak ada yang ngehargain usaha gue, sedih ketika gak ada yang muji kerjaan gue, dan gue sedih ketika nggak ada yang dengerin omongan gue. Aneh banget! Kenapa gue tergantung pada dunia begini?!
What the bang... Gitu ya bang cara berpikirnya. Lagi-lagi its too smooth sist.
Ada penyimpangan aqidah
“asal gak berlebihan” adalah batasan fana yang sering dihembuskan syaitan kepada kita. Karena semua juga tahu, alasan seperti itu tidak pernah ada dalilnya, dan standar batas “berlebihan” itu tak pernah ada wujudnya.
Suatu ketika ada seorang Nasrani bernama Adi bin Hatim datang kepada Rasulullah dan masuk islam. Pada saat itu dilehernya masih tergantung kalung salib. Maka Rasulullah bersabda kepadanya,
“Buanglah berhala ini!”
[Gue ngebayangin, suatu ketika Rasulullah masuk ke kamar gue terus ngeliat semua poster-poster, album-album dan lightstick gue terus beliau bilang, “Buanglah berhala ini!”]
Maka Ali bin Hatim membuangnya. Kemudian Rasulullah membacakan ayat: “Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai Rabb-Rabb selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putra Maryam” (QS. At-Taubah:31)
Lalu Adi bin Hatim berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya mereka (orang-orang Nasrani itu) tidaklah menyembah para pendetanya!”
[Gue ngebayangin, gue ngebantah Rasulullah dengan alasan, “ Ya Rasulullah! Aku gak nyembah mereka kok! Aku gak nyembah idola-idola itu!”]
Lalu Rasulullah SAW bersabda:
“Iya memang benar, akan tetapi bukankah mereka (para pendeta itu) mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram untuk para pengikutnya, kemudian para pengikutnya mengikuti mereka? Itulah bentuk penyembahan mereka kepada para pendeta mereka”
(HR. Ahmad dan Tirmidzi)
[Terus gue termenung... iya juga... para idol dan segenap pelaku industri hiburan di Korea selatan selalu saja menghalalkan yang Allah haramkan... dan gue... kita semua... ikut mereka. Memaklumi keharaman.]
Tuh kan smooth banget :’( Sama kayak pas lagi kepingin-kepinginnya makan sushi. Tapi bingung mau makan dimana, sebab jarang beud yang udah sertifikasi halalnya. Perang batin betul itu lho, sepertinya sudah pernah ku muat juga di blog ini.
Yak, sekarang saya mah masih terus berusaha dan berdoa supaya didekat kan sama Allah. Mohon doanya ya kawan-kawan. Mohon dukungannya juga, minimal tidak membicarakan drama korea ketika ada saya. Sebab saya masih rapuh. Haha. Film gak apalah. Haha.

Posting Komentar