ABK dan ALLAH
22/08/2022
Bismillahirrahmanirrahim... Sabtu kemarin aku coba bawa
Nusaibah sendirian naik motor ke tempat belajar mengaji. Alhamdulillah gak
terlalu rewel ya. Bertemu dengan kakak, ibu ibu, dan juga ustadzah pengajar. Dan pastinya Nusaibah jadi pusat perhatian ya. Haha. Sebelum aku bawa
Nusaibah, mereka sudah tau kalau Nusaibah ada kelainan genetik. Ketika aku bawa
Nusaibah jadi pada bercanda dan ngobrol sana sini.
Hingga ada satu ibu ibu yang berkomentar sekaligus bercerita
yang membuat kepala ini berpikir keras. Wqwq. 'Soalnya saya punya adik. Anak
adik saya itu tulangnya lemah jadi kayak lemes gitu. Mungkin dia ngeliat saya
yang punya anak normal ada rasa sedih atau ingin lah ya. Saya bilang mah, udah
kamu sabar aja insyaAllah surga ini anak. Gak perlu khawatir lagi, anak ini
surga udah. Kalau kita kan masih ada khawatir nanti ini anak ke kiri apa kanan
ya.'
Maksud ibu ini baik ya. Menyemangati kita perihal anak.
Bahwa pahala mu tuh gede banget, ganjarannya syurga. Perihal kehidupan yang
lebih kekal. Menyemangati kita untuk tetap tegar. Lagian aku juga gak berpikir
negatif atau malah jadi lesu lagi sih. Tapi ada satu yang mengusik akal ku.
Wqwq.
Apakah kami, ibu dengan anak spesial, tidak perlu
mengkhawatirkan anak kami untuk melenceng? Untuk tidak mengenal Allah?
Memangnya ABK tidak bisa berpikir? Apakah anak dengan kelainan genetik tidak
bisa berpikir? Duh, apakah ini benar pikiran sehat ku atau hanya sebagian rasa
penerimaan terhadap takdir ku yang belum sempurna? Apakah harus aku terima aja
kalau mereka gak bisa kenal Allah? Atau aku harus membangun mindset ku
sendiri agar kaki ku kokoh? Sebab, ketika ibu ini berbicara, otak aku tuh
nangkepnya gini,
Anak ABK → keterbelakangan mental → tidak wajib untuk beribadah, karena syarat sah ibadah itu kan gak gila ya (bisa berpikir) → jadi pasti gak melenceng ke kiri
Karena aku yakin apa yang aku terima dari luar akan
mempengaruhi cara ku berpikir dan bertindak jadi mari kita berbeanah yaaa
otak... Oke mari kita urai satu per satu dulu ya wahai akal ku. Mari kita mulai
membangung pola pikir yang positif buat tubuh ini haha.
Yang membedakan manusia dengan hewan jelas dari akal yang
sudah Allah berikan. Dengan akal ini kita, manusia, bisa berpikir, belajar, menentukan,
dan untuk mengenal Allah kita butuh akal. Tujuan kita hidup untuk beribadah,
mengenal, Allah bukan? Nah jadi apa sih ABK itu?
Informasi ini aku baca dari web rsud bontang kota dengan penulis Rizki Dandihatina Hajar, M. Psi., Psikolog.
Anak berkebutuhan khusus adalah anak yang memiliki keterbatasan fisik, intelektual, emosi, dan sosial. Anak-anak ini dalam perkembangannya mengalami hambatan, sehingga tidak sama dengan perkembangan anak sebayanya. Hal ini menyebabkan anak berkebutuhan khusus membutuhkan suatu penanganan yang khusus. Anak yang mempunyai keterbatasan fisik belum tentu mempunyai keterbatasan intelektual, emosi, dan sosial. Namun, apabila seorang anak mempunyai keterbatasan intelektual, emosi, dan sosial, biasanya mempunyai keterbatasan fisik. Tidak mudah untuk mengetahui bahwa seorang anak dikategorikan sebagai anak berkebutuhan khusus, sehingga diperlukan derajat dan frekuensi penyimpangan dari suatu norma. Seorang anak berkebutuhan khusus adalah mereka yang berbeda dari norma sedemikian signifikan dan sedemikian sering sehingga merusak keberhasilan mereka dalam aktivitas sosial, pribadi, atau pendidikan. Kategori anak berkebutuhan khusus dapat dideskripsikan oleh profesional sebagai tidak mampu (disabled), mempunyai kesulitan (impaired), terganggu (disordered), cacat (handicapped), atau berkelainan (exeptional) (Haring, 1982).
Seseorang yang tidak mampu (disabled) adalah seseorang yang mempunyai keterbatasan karena adanya kekurangan fisik yang akan mengganggu masalah belajar atau penyesuaian sosial, misalnya dalam penglihatan (low vision), pendengaran, atau cacat fisik (orthopedic impairments dan health impairments), dan masalah kesehatan lainnya (epilepsy, juvenile diabetes mellitus, hemophilia, cystic fibrosis, sickle cell anemia, jantung, cancer). Seseorang yang mempunyai kesulitan (impaired) dalam fisiknya juga akan mempunyai masalah yang sama dengan orang yang tidak mampu (disabled). Seseorang yang terganggu (disordered) dalam hal belajar, sehingga dapat disebut mempunyai gangguan belajar. Atau terganggu perilakunya dapat disebut mempunyai gangguan perilaku. Seseorang disebut cacat (handicapped) apabila ia mempunyai kesulitan dalam merespons atau menyesuaikan diri dengan lingkungan karena adanya masalah inteligensi, fisik, dan emosi. Hal ini biasanya dialami pada anak autisme, retardasi mental/slow learner, down syndrome, gangguan belajar/learning disabilities (disleksia, diskalkulia, disgrafia, inattensi), attention deficit disorder (ADD), attention deficit hyperactivity disorder (ADHD), pervassive development disorder (PDD), dan gangguan komunikasi. Seseorang disebut berkelainan (exeptional) apabila mempunyai kelebihan dari anak seumurnya. Misalnya anak yang sangat cerdas dan mempunyai bakat yang sangat menonjol.
Haring (1982) membuat kategori anak berkebutuhan khusus sebagai berikut :
- Cacat penginderaan, misalnya kerusakan pendengaran, atau penglihatan
- Penyimpangan mental, termasuk di dalamnya yang sangat berbakat ataupun yang terbelakang mentalnya
- Gangguan komunikasi, misalnya masalah-masalah bicara dan bahasa
- Ketidakmampuan belajar, yaitu masalah-masalah belajar yang serius akan tetapi tanpa adanya cacat fisik
- Gangguan perilaku, termasuk di dalamnya masalah emosi
- Cacat fisik dan kesulitan dalam kesehatan, seperti kerusakan mneurologis, kondisi-kondisi oropedik, penyekit seperti leukimia dan anemia karena sel-sel yang sakit, cacat bawaan, dan ketidakmampuan dalam perkembangan
Jadi, anak tuli, buta, tidak punya tangan atau kaki pun termasuk ABK. Mereka masih dapat berpikir dengan akal mereka untuk beribadah sesuai kemampuannya. Untuk mengenal Allah. Dan itu luar biasa banget lho cara mereka kenal Allah. Entah dengan quran brailer, atau sekarang yang sedang berproses ada quran isyarat. Gak punya kaki pun kita masih bisa sholat dengan duduk bukan? Islam itu mudah kan ya?
Orang dengan penyakit cerebral palsy (CP) bisa juga
berpikir. Pernah lho aku ikut zoominar tentang terapi Al-Quran untuk ABK. Lha
pembicaranya anak CP, penanyanya anak CP. Bukan kah itu artinya mereka masih
bisa berpikir? Masih bisa lho kenal Allah. Walaupun gerakannya hanya senyum pun
bukan kah artinya itu juga sebua proses tubuh merespon sekitarnya?
Orang dengan kelainan genetik pun begitu. Disaat menunggu
terapi ada kesempatan melihat anak dengan down sindrom tengah menunggu juga.
Anak ini memegang HP ngeliat youtube, dancing dong, haha. Lha terus dia
ikutin lho gerakannya. Bukan kah anak itu juga sedang menggunakan akalnya?
Banyak sudah informasi terkait anak dengan down syndrome yang mereka memiliki
prestasi yang luar biasa.
Walaupun interpretasi varian dari kelainan genetik Nusaibah
salah satunya adalah 'intellectual disability' tapi banyak teman-temannya yang
bisa sekolah, bisa mengetik komentar di facebook, bisa mengikuti arahan, bisa
dansa, dan banyak hal lainnya. Bukan kah itu butuh akal untuk memproses
semuanya? Meskipun tidak secepat anak pada umumnya. Memang, antar satu distal
monosomy 9p dengan yang lainnya tidak ada yang persis sama.
Jadi, keterbelakangan mental bukan berarti gak bisa berpikir
gak sih? Cuma butuh proses yang lebih lama dan butuh penanganan yang berbeda
aja untuk memahami sebuah kejadian. Walaupun memang dengan tingkatan yang
berbeda pula ya keterbelakangan mental ini.
Dengan keterbatasan yang mereka miliki mereka bisa berpikir.
Sekalipun keterbelakangan mental, aku tetap berkeyakinan mereka bisa kenal
Allah sesuai kemampuannya. Walaupun mungkin hanya sebatas melihat kami sholat.
Atau melihat kami melakukan hal yang disukai Allah lainnya. Semoga dalam
hatinya ia berdzikir mengenal Allah. Semoga dengan matanya ia berdzikir
mengenal Allah. Semoga dengan badannya ia berdzikir mengenal Allah.
Jikalau dengan berpikir jadi bisa kenal Allah, pasti juga
bisa menyimpang jika kita para orang tua tidak mengarahkannya pada hal yang
disukai Allah atau membiarkannya pada hal yang tidak disukai Allah... Bahkan
bukan menyimpang kali, gak kenal Allah mungkin. Gak kenal karena gak dikenalin
sama orang tuanya. Pada akhirnya kita juga memiliki kekhawatiran yang sama.
Wqwq.
Kalau kata teman, yang juga diamanahi dengan anak spesial
bilang, 'Allah tidak pernah menciptakan produk gagal.' Yes, Allah made
everything, you and I! Mari melangkah bersama mengenal Allah ya Nusaibaaaaah...
Posting Komentar